Minggu, 05 Agustus 2012

Pengaruh Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga dan Budaya Religius Sekolah terhadap Kecerdasan Emosional Siswa SMU

PERANAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM  DALAM MENGHADAPI PENGARUH NEGATIF DARI ERA GLOBALISASI DI SDN  011 DESA BELARAS KECAMATAN MANDAH

A.     Latar Belakang Masalah
Dewasa ini dunia sedang mengalami proses yang sering disebut orang dengan istilah globalisasi, proses mendunia akibat kemajuan-kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang telekomunikasidan informasi (information technology).  Globalisasi mengakibatkan orang tidak lagi memandang dirinya sebagai hanya warga suatu negara, melainkan juga sebagai warga masyarakat dunia. Gejala yang acapkali disebut arusglobalisa si, diringi dengan program-program mendunia dengan menampilkan beberapa ciri kebebasan, seperti kebebasan berdagang, kebebasan bergaul, dan lain sebagainya. Sebenarnya globalisasi berarti pula suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya.
Pada era globalisasi telah terjadi perubahan perubahan cepat. Dunia menjadi transparan, terasa sempit, hubungan menjadi sangat mudah dan dekat, jarak waktu seakan tidak terasa dan seakan pula tanpa batas.  Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan internet, informasi elektronik dan digital, ditemui dalam kenyataan sering terlepas dari sistim nilai dan budaya. Perkembangan ini sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang. Suka atau tidak bila tidak disikapi dengan kearifan dan kesadaran pembentengan umat, pasti akan menampilkan benturan-benturan psikologis dan sosiologis. Sehubungan dengan itu, perlu dicari strategi yang efektif dalam memecahkan persoalan tersebut melalui berbagai cara dalam menghadapi Tantangan Globalisasi Dengan Sebuah Nilai Penanaman Iman.
Pada era kemajuan Iptek ini, perubahan global semakin cepat terjadi dengan adanya kemajuan-kemajuan dari negara maju dibidang teknologi inforamsi dan komunikasi. Kemajuan Iptek ini mendorong semakin majunya proses globalisasi. Teknologi komputer misalnya membanjiri setiap negara, bangsa dan budaya bahkan sudah masuk kedesa-desa. [1]
Menurut hasil forum Carnegie tentang pendidikan dan ekonomi ( Aend et al. 2001), di abad informasi ini terdapat sejumlah kemampuan yang harus di miliki oleh guru dalam pembelajaran. Kemampuan-kemampuan tersebut, adalah memmiliki pemahaman yang baik tentang kerja baik fisik maupun social, memiliki rasa dan kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data, memiliki kemampuan membantu pemahanan siswa, memiliki kemampuan mempercepat kreativitas sejati siswa, dan memiliki kemanpuan kerje sama dengan orang lain.
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang. Pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terprogram dalam bentuk pendidikan formal dan non formal, dan informal di sekolah, dan di luar sekolah, yang berlangsung seumur hidup yang bertujuan optimalisasi pertimbangan kemampuan-kemampuan individu, agar dikemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara tepat. Kebutuhan akan pendidikan merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri, bahkan semua itu merupakan hak semua warga Negara, Berkenaan dengan ini, di dalam UUD'45 Pasal 31 ayat (1) secara tegas disebutkan bahwa; "Tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran". Tujuan pendidikan nasional dinyatakan dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam perkembangannya istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan secara sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar anak didik menjadi dewasa, dalam perkembangan selanjutnya, pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Dengan demikian pendidikan berarti, segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembanagan jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan.
Dalam perkembangan proses kedewasaan tersebut, tidak semua tugas pendidikan dapat dilakukan oleh orang tua dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam ilmu pengetahuan yang lainnya. Oleh karena itu orang tua mengirim anak-anaknya ke sekolah untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan. Dapat kita mengerti betapa pentingnya proses mendidik anak dalam lingkungan. Proses pendidikan itu dapat tercapai apabila tercipta harmonisasi antara orang tua dengan guru sebagai pendidik di sekolah.
Guru merupakan salah satu ujung tombak yang menjadi tumpuan, harapan, dan andalan masyarakat bangsa, Guru merupakan keberhasilan masyarakat bangsa dan negara secara keseluruhan, begitu juga sebaliknya kegagalan guru adalah kegagalan   semua. Hal ini membuktikan bahwa kunci keberhasilan pendidikan  berada ditangan Guru itu sendiri.[2]
Temuan Iptek ini telah memberikan hasil yang membawa kemajuan, dan dampaknya terasa bagi pendidikan di SDN 011 desa belaras Kec. Mandah. Semua hasil temuan Iptek disatu sisi harus diakui telah secara nyata mempengaruhi bahkan memperbaiki perkembangan pola pikir anak didik, misalnya kita semakin mudah memperoleh informasi dari luar yang cepat membantu kita menemukan arternatif-artenatif baru dalam usaha memecahkan masalah yang kita hadapi. Misalnya, melalui internet kini kita dapat mencari informasi dari seluruh dunia tanpa harus banyak mengeluarkan dana seperti dulu.
Disinilah letak peranan Pendidikan dan dalam mengatisipasi perkembanagn kemajuan Iptek yang berpengaruh negatif. Dalam arti mampukah guru menegakkan landasan Akhlak Al-Karimah yang menjadi tiang utama ajaran agama, Menurut Islam pendidikan akhlak adalah faktor penting dalam membina suatu umat membangun suatu bangsa. Kita bisa melihat bahwa bangsa Indonesia yang mengalami multi krisis juga disebabkan kurangnya pemahaman akhlak. Secara umum pembinaan pemahaman akhlak remaja sangat memprihatinkan. tatkala dominasi temuan Iptek sudah demikian hebat dan menguasai segala perbuatan dan pikiran umat manusia.
Apalagi alat-alat canggih teknologi informasi dan komunikasi ini sudah masuk kedesa-desa salah satunya SDN 011 Desa belaras. Melalui HP orang sudah dapat mengakses internet, facebook dan lain-lain apakah dengan ditemukannya barang-barang serba canggih tersebut akan berdampak negatif bagi anak didik dan bagaimana guru menyikapinya. Karna itu masalah yang perlu segera mendapatkan jawaban, terutama dari para guru adalah “Mampukah” kegiatan Pendidikan itu berdialok dan berinteraksi dengan perkembangan-perkembangan modren yang ditandai dengan kemajuan Iptek dan informasi, dan mampukah Guru mengatasi dampak negatif dari kemajuan zaman tersebut ?
Dengan adanya permasalahan-permasalahan tersebut diatas maka penulis ingin mengetahui lebih jauh mengenai peranan Guru Agama islam (PAI) dalam menghadapi era, “globalisasi” dengan ini penulis mengangkat Judul “PERANAN GURU  PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENGHADAPI PENGARUH NEGATIF DARI ERA GLOBALISASI DI SDN 011 DESA BELARAS KECAMATAN MANDAH, dengan gejala-gejala sebagai berikut :
1.      Berbagai kemajuan  IPTEK telah memberikan hasil yang positif dan juga akan membawa pengaruh yang negatif bagi pola pikir anak didik.
2.      Anak didik semakin malas belajar, karna sudah terpengaruh oleh alat-alat teknologi seperti handpone.
3.      Anak didik sudah pandai mengakses internet sendiri dan menggunakan HP.sehingga sangat mudah terpengaruh dengan hal yang berbaur negatif seperti melihat poto-poto porno, vidio porno dan lain sebagai nya.

B.    Alasan Memilih Judul
Penulis mengangkat judul ini dengan alasan sebagai berikut :
Karna judul Pranan Guru PAI dalam Menghadapi pengaruh negatif dari  Era Globalisasi ini sangat menarik untuk diteliti.
Dari segi waktu, tenaga, dan pemikiran penulis mampu untuk meneliti.
Sebagai calon guru tentunya perlu untuk mengetahui bagaimana pengaruh negatif  dan dampaknya pada era globalisasi pada saat sekarang ini.
untuk memenuhi tugas mata kulia metodologi penelitian.

C.    Penegasan Istilah
Untuk menghindari dari kesalah pahaman dan pengertian dari judul yang penulis teliti ini, maka perlu penulis jelaskan beberapa istilah yang terdapat dalam judul ini yaitu :
Peranan, yaitu atau keikutsertaan guru dalam membimbing mengajar dan mendidik.
Guru, yaitu jabatan atau profesi yang memerlukan keahlain khusus.
Pengaruh,yaitu dampak/akibat
Era, yaitu zaman / masa
Globalisasi, yaitu suatu proses yang mendunia akibat kemajuan-kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi.[3]

D.    Permasalahan
1.      Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1.      bagaimana peranan seorang guru agama islam dalam mempilter arus negatif dari era globalisasi?
2.      Apa saja dilakukan  guru  PAI dalam menghadapi  pengaruh negatif dari era gelobalisasi?
3.      langkah apa saja yang di ambil seorang guru dalam menghadapi arus globalisasi yang berdampak negatif terhadap anak didik?
2.      Batasan Masalah
Agar penelitian menjadi terarah, penulis membatasi permasalahan ini mengenai Peranan Guru PAI Dalam Menghadapi pengaruh negatif dari  Era Globalisasi di SD Negeri 011 Desa Belaras Kec. Mandah.
2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :
a.      Apa saja Peranan Guru PAI Dalam Menghadapi pengaruh negatif dari Era Globalisasi di SD Negeri 011 Desa Belaras Kec. Mandah?
b.      Langkah-langkah apa saja yang dilakukan guru  dalam mengatisipasi perkembangan kemajuan Iptek terhadap pola pikir anak didik di SD Negeri 011 Desa Belaras Kec. Mandah?

E.     Tujuan dan Manfaat Penelitian.
1.      Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.      Untuk mengetahui apa saja peranan guru dalam menghadapi pengaruh negatif dari era globalisasi  di  SD Negeri 011 Desa Belaras Kec. Mandah.
b.      Untuk mengetahui langkah-langkah apa saja yang dilakukan Guru dalam mengatisipasi perkembangan kemajuan Iptek terhadap pola pikir anak didik di  SD Negeri 011 Desa Belaras Kec. Mandah.
2.      Mamfaat  Penelitian
Adapun Mamfaat penulis melakukan penelitian ini adalah :
a.      Untuk melengkapi tugas metodologi penelitian  difakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam (STAI) Auliaurrasyidin.
b.      Sebagai masukan kepada calon guru untuk dapat mengetahui bagaimana pengaruh dan dampaknya pada pengaruh negatif dari era globalisasi terhadap pola pikir anak didik.

F.     Kerangka Teoritis
Perubahan dan Dampak Arus Globalisasi
Globalisasi membawa banyak tantangan baik itu menyangkut bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, bahkan menyangkut semua aspek kehidupan manusia. Globalisasi ini membawa dampak positif dan negatif bagi kepentingan bangsa dan ummat kita.
Dampak positif, misalnya, makin mudahnya kita memperoleh informasi dari luar sehingga dapat membantu kita menemukan alternatif-alternatif baru dalam usaha memecahkan masalah yang kita hadapi.  Misalnya, melalui internet kini kita dapat mencari informasi dari seluruh dunia tanpa harus mengeluarkan banyak dana seperti dulu.  Demikian pula, dalam hal tenaga kerja, dana, maupun barang.  Di bidang ekonomi, perdagangan bebas antar negara berarti makin terbukanya pasar dunia bagi produk-produk kita, baik yang berupa barang atau jasa (tenaga kerja).
Dampak negatifnya adalah masuknya informasi-informasi yang tidak kita perlukan atau bahkan merusak tatanan nilai yang selama ini kita anut.  Misalnya, gambar-gambar atau video porno yang masuk lewat jaringan internet, majalah, atau CD porno, yang merusak citra generasi penerus bangsa khususnya anak didik.
Dalam kaitannya dengan ummat  Islam Indonesia, dampak negatif yang paling nyata adalah perbenturan nilai-nilai asing, yang masuk lewat berbagai cara, dengan nilai-nilai agama yang dianut oleh sebagian besar bangsa kita.  Mengingat agama Islam adalah agama yang berdasarkan hukum (syari’ah), maka perbenturan nilai itu akan amat terasa di bidang syari’ah ini.  Globalisasi informasi telah membuat ummat kita mengetahui praktek hukum (terutama hukum keluarga) di negeri lain, terutama di negeri maju, yang sebagian sama dan sebagian lagi berbeda dari hukum Islam.  Keberhasilan negara maju yang sekuler dalam bidang ekonomi telah membuat segala yang berasal dari negara tersebut tampak baik dan hal ini dapat menimbulkan keraguan atas praktek yang selama ini kita anut.  Contoh hukum Islam yang berbeda dari hukum sekuler di negeri maju antara lain: hukum waris, kedudukan wanita dan pria dalam perkawinan, kedudukan anak pungut/anak angkat dalam keluarga, hak asasi anak, hak asasi manusia, hukum rajam, hukum potong tangan, definisi zina, perkawinan campur,  Kemajuan teknologi di bidang rekayasa genetik (cloning), misalnya, juga telah menimbulkan persoalan hukum keluarga (waris dan perwalian).
Menghindari globalisasi sebagai proses alami ataupun menghilangkan sama sekali dampak negatif globalisasi itu barangkali tidak mungkin.  Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, kita harus menghadapi globalisasi ini dan menerima segala dampaknya, negatif maupun positif.  Oleh karena itu, tantangan yang kita hadapi sebagai kelompok elit umat Islam adalah kita dapat memanfaatkan semaksimal mungkin dampak positif globalisasi itu dan meminimalkan dampak negatifnya.
Pran Guru dalam menghadapi Era Globalisasi
Tugas dan peran guru dari hari kehari semakin berat seiring dengan  perkembanagn ilmu pengetahuan dan teknologi peran guru sebagai kompunen utama dalam dunia pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sangat pesat.[4]
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses tersebut belum dapat digantikan oleh alat-alat elektronik apapun, masih banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, dan hal-hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut.Tanggung jawab dalam pengajaran lebih menekankan tugas guru dalam merencana-kan dan melaksanakan pengajaran. Dalam tugas ini, guru dituntut memiliki seperangkat pengetahuan dan keteram­pilan teknis mengajar, selain menguasai ilmu atau bahan yang akan diajarkannya. Tanggung jawab dalam memberi bimbingan menekankan pada tugas guru dalam memberi bantuan kepada siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Tugas ini merupakan aspek mendidik sebab tidak hanya berkenaan dalam penyampaian ilmu pengetahuan, tetapi juga menyangkut pengembangan kepribadian dan pembentukan nilai-nilai pada siswa.
Temuan Iptek telah menyebarkan hasil yang membawa kemajuan dan dampaknya terasa bagi kehidupan seluruh umat manusia. Semua hasil temuan Iptek disatu sisi harus diakui telah secara nyata mempengaruhi bahkan memperbaiki taraf hidup dan mutu pendidikan. Disisi lain Produk temuan dan kemajuan itu telah mempengaruhi bangunan kebudayaan dan gaya hidup manusia. [5]
Dalam hal peranan guru dituntut untuk selalu menegakkan landasan akhlak al-karimah yang menjadi tiang utama ajaran Agama dalam mengatisipasi hal-hal yang bersifat negatif yang akan berdampak pada perkembangan anak. Prof, Baiauni menyatakan bahwa Iptek terus menerus memerlukan bantuan Agama, bilamana tercipta keserasian anatara ilmu pengetahuan dan Agama. Dalam arti keyakinan beragama  ( Sebagai Hasil Pendidikan Agama ) Iptek memperkuat keyakinan beragama.[6]
Peran guru dalam menyikapi tantangan globalisasi adalah berusaha secara sadar untuk membimbing, mengajar dan melatih siswa agar dapat:
1.      Meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkugan keluarga
2.      Menagkal dan mencegah pengaruh negatif dari kepercayaan paham atau budaya lain yang membahayakan dan menghambat perkembangan pola pikir dan keyakinan siswa
3.      Menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang sesuai dengan ajaran islam.
4.      Menjadikan ajaran islam sebagai pedoman hidup mencapai kebahagian hidup didunia dan akhirat
5.      Menyalurkan bakat dan minatnya dalam mendalami bidang agama serta mengembangkannya secara optimal, sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan dapat pula bermanfaat bagi orang lain.[7]
6.      guru hendaknya memperkenalkan secara transparan contoh positif negative dari pengaruh Iptek kepada anak
7.      guru aktif dalam menajarkan kepada anak secara mendalam menggunakan Iptek
8.      guru selalu mengontrol kepada anak didik dan sekali gus senagai agent of change dalam mengunakan Iptek
Dalam menghadapi era globalisasi sebenarnya dihadapi oleh semua pihak, baik keluarga, pemerintah maupun masyarakat yang terkait langsung ataupun tidak langsung dalam kegiatan pendidikan. Guru disekolah yang terkait langsung dengan pelaksanaan pendidikan islam dituntut untuk mampu menjawab dan menngantisipasi berbagai tantangan tersebut. Dan untuk mengantisipasinya diperlukan adanya Guru disekolah yang mampu menampilkan sosok kualitas personal, sosial, dan profesionalisme dalam menjalankan tugasnya.[8]

G.    Konsep Operasional
Sebagai langkah untuk menyelesaikan konsep teori tersebut dalam bentuk penelitian, maka konsep ini perlu dioperasionalkan. Oleh karna itu penulis ingin menjelaskan indikator-indikator sebagai berikut :
Guru sebagai pendidik, sekaligus  pembimbing dan pengajar dituntut untuk selalu memberikan ilmu yang bermanfaat bagi pola pikir anak didik dalam menghadapi kemajaun zaman.
Guru mampu untuk mempilter pengaruh negatif yang datang dari perkembangan Iptek
Guru selaku pendidik hendaknya selalu memberikan nasehat-nasehat kepada siswa agar tidak cepat terpengaruh terhadap berbagai informasi dan komunikasi yang datang dari luar yang akibatnya akan berdampak buruk bagi perkembangan anak didik.
Guru dituntut untuk selalu meningkatkan keimanan kepada Allah SWT, dan menegakkan landasan akhlak al-karimah dalam mengantisipasi hal-hal yang bersifat negatif yang berdampak pada perkembangan anak.
Guru  hendaknya selalu memotivasi kreatipitas anak didik kearah pengembangan Iptek dimana nilai-nilai menjadi sumber acuannya. [9]

H.    Metodologi Penelitian
1.      Lokasi Penelitian
Adapun penulis melakukan penelitian ini bertempat  di SDN 011 Desa Belaras Kec. mandah.
2.      Subjek dan Objek
Dalam penelitian ini yang menjadai subjek adalah Guru PAI di SDN 011 Desa Belaras Kec. mandah.  Sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah peranan Guru PAI dalam menghadapi era Globalisasi di SDN 011 Desa Belaras Kec. mandah
3.      Populasi dan Sampel
Sebelum menentukan sampel, maka populasi penelitian harus ditetapkan terlebih dahulu. Menurut Suharsimi Arikunto, populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Menurut Riduwan, ”populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau hasil pengukuhan yang menjadi objek penelitian”.[10] Menurut Suharsimi Arikunto yang dimaksud sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti.[11]
Populasi dalam penelitian ini adalah Guru PAI mengigat jumlah yang kurang dari 100 orang, penelitian ini tidak menggunakan sample.
4.      Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data yang diperlukan pada penelitaian ini, penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :
a.      Angket  merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Jika wawancara dilakukan dengan komunikasi secara lisan, maka dalam angket komunikasi tersebut dilakukan secara tertulis.[12] Maka angket yaitu Menyebarkan sejumlah pertanyaan yang tertulis kepada responden untuk di isi sesuai dengan alternatif jawaban yang disediakan.
b.      Wawancara Adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara lisan, guna untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan permasalahan.
c.      Teknik Dokumentasi adalah meteri data, mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapat, lengger, agenda dan sebagainya.[13]
Dengan demikian, dokumentasi merupakan kumpulan data atau barang yang mendukung penelitian ini.
5.      Teknik Analisis Data
Setelah semua data terkumpul kemudian diklasipikasikan menjadi dua bagian yaitu : data yang berbentuk kualitatif ( data yang berbentuk kata-kata ) dan kuantitatif ( data yang berbentuk angka-angka ), kemudian data tersebut akan dipersentasikan kembali teknik ini disebut diskriftif kualitatif dengan persentase dan menggunakan rumus :
P =    100 %
Keterangan :              P = Angka persentase
                                          F = Frekuensi
                                          N = Banyak individu[14]
Berdasarkan indikator diatas dapat dilihat bagaimana peranan Guru dalam menghadapi pengaruh negatif dari Era globalisasi di SDN 011 desa Belaras dengan ketentuan Sebagai berikut
Sangat baik               = 81%-100%
Baik                            = 61%-80%
Cukup Baik                = 41%-60%
Kurang Baik               = 21%-40%
Tidak Baik                 = 0 %-20% 

I.        Sistematika Penulisan
BAB I        :  PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang Masalah
B.       Alasan Memilih Judul
C.       Pengesahan Istilah
D.       Permasalahan
E.       Tujuan Dan Manfaat Penelitian
F.        Kerangka Teoritis

BAB II       :  TINJAUAN PUSTAKA

BAB III       :  METODE PENELITIAN
A.       Lokasi Penelitian
B.       Objek dan Subjek Penelitian
C.       Pooulasi Dan Sampel
D.       Teknik Pengumpulan Data
E.       Analisis Data

BAB IV     :  PENYAJIAN DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
BAB V      :  KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN
                  DAFTAR PUSTAKA
                  LAMPIRAN



DAFTAR PUSTAKA
Anas Sudijono, (2008), Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada
Arikunto Suharsimi,  (2002 ), Prosedur Penelitian,  Jakarta : Rineka Cipta
Drs. Muhaimin.  ( 2004 ). Paradigma Pendidikan Agama Islam  Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam disekolah. Bandung: PT Remaja Rosdajakarta.
Djumhur dan Moh. Surya, (1975), Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Bandung: CV Ilmu,
Hadirja. ( 1999 ). Wawasan Tugas Tenaga Guru dan Pembinaan Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Friska Agung Insani.  
H. Arief Furchan. ( 2004 ). Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia. Yokyakarta: Gema Media. 
H. Djamaludin,  Abdullah Aly. ( 1999 ). Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia. 
Kunandar. ( 2007 ). Guru Profesional. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Riduwan, (2004). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan Penelitian Pemula,  Bandung: Alfabeta.

[1]Muhalmin Paradigma Pendidikan Agama Islam Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam disekolah, (Bandung: PT Remaja Rosdajakarta 2004), hal.85.
[2]Hadirja, Wawasan Tugas Tenaga Guru dan Pembinaan Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Friska Agung Insani, 1999), hal.27.
[3]H. Arief Furchan, Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia, (Yokyakarta: Gema Media, 2004). Hal. 39.
[4]Kunandar, Guru Profesional, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007), hal 37.
[5] Muhaimin Loc, Cit _
[6] Muhaimin, Op cit. hal 84-85
[7]Ibit, hal. 83.
[8]Ibit, hal. 92-93.
[9]H. Djamaludin,  Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam. (Bandung: CV Pustaka Setia 1999),    hal. 28.
[10]Riduwan, Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan Penelitian Pemula, (Bandung: Alfabeta, 2004), hal. 10.
[11]Ibid., hal. 117.
[12]Djumhur dan Moh. Surya, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, (Bandung: CV Ilmu, 1975), hal. 55.
[13]Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian, (Jakarta : Rineka Cipta, 2002 ), Hal.206
[14] Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 43.


PENGARUH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP TINGKAH LAKU SISWA SMP 2 NEGERI WATES KEDIRI

Stain Kediri 2011

OUT LINE PENELETIAN

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I  PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
2.      Rumusan Masalah
3.      Tujuan Penelitian
4.      Manfaat Penelitian
5.      Hipotesisi penelitian
6.      Asumsi penelitian
BAB II  LANDASAN TEORI
1.      Pendidikan Agama Islam
2.      Tingkah Laku Siswa
3.      Pengaruh Pendidikan Islam terhadap Tingkah Laku Siswa
BAB III METODE PENELITIAN
1.      Rancangan Penelitian
2.      Populasi dan Sample
3.      Teknik Pengunpulan Data
4.      Analisis Data
BAB IV HASIL PENELITIAN
1.      Gambaran Umum Subjek Penelitian
2.      Pelaksanan pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 wates kediri
3.      Pembahasan Hasil Penelitian

BAB V PEMBAHASAN

BAB VI PENUTUP
1.      Kesimpulan
2.      Saran-saran
3.      Abuddin Natta. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Rajawali Perss, 2008.

DAFTAR PUSTAKA
            Abuddin Natta, Paradigma Pendidikan Islam, Jakarta : Grasindo, 2001
            Ahmadi, Abu, Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan agama islam, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1991.
Anwar, Ali. Statistik Untuk Penelitian Pendidikan, Kediri : IAIT press, 2009.
            Abuddin nata, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Rajawali Press, 2008
            Achmadi. Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Yogyakarta : Aditya Mitra, 1979 
Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan Agama Islam, Al-Ma’rif, Bandung : 1987.       
Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, Yogyakarta : LKIS, 2009
            Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remeaja Rosda Karya, 1998
            Ramayulis, Pendidikan Agama Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 1998.
            Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Ciputat Press, 2002

Pengaruh Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga dan Budaya Religius Sekolah terhadap Kecerdasan Emosional Siswa SMU Negeri 2 Batu.
Penulis : Zulfikar M
Tahun : 2011
Fakultas : Pasca Sarjana
Jurusan : S2 Manajemen Pendidikan Islam
Pembimbing : 1) Dr. H. Rasmianto, M. Ag.. 2) H. Aunur Rofiq, Lc., ph. D.  
Kata Kunci : Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga, Budaya Religius Sekolah, Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional merupakan salah satu unsur pokok dalam pendidikan anak, dan pendidikan itu berawal dari keluarga, maka pendidikan agama dalam keluarga khususnya akan menjadi kunci pula dalam pembentukan kecerdasan emosional pada anak atau peserta didik. Kunci pendidikan dalam keluarga sebenarnya terletak pada pendidikan rohani dalam arti pendidikan kalbu, lebih tegas lagi pendidikan agama Islam bagi anak. Karena pendidikan agamalah yang berperan besar dalam membentuk pandangan hidup seseorang. Selain itu, sekolah-sekolah dipandang sebagai informasi praktis tentang efektifitas pengajaran kecerdasan sosial dan emosional. Tentu saja jika dilihat praktiknya di lapangan, pendidikan agama Islam (PAI) memiliki kedudukan yang sangat potensial sehubungan dengan pengajaran kecerdasan emosional ini. Maka diperlukan budaya religius di sekolah untuk menunjang pengajaran PAI di sekolah. Penciptaan suasana religius ini dilakukan dengan cara pengamalan, ajakan (persuasif) dan pembiasaan-pembiasaan sikap agamis baik secara vertikal (habluminallah) maupun horizontal (habluminannas) dalam lingkungan sekolah.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah sebagai berikut: (1) apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara pendidikan agama Islam dalam keluarga terhadap kecerdasan emosional siswa SMU Negeri 2 Batu? (2) apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara budaya religius sekolah terhadap kecerdasan emosional siswa SMU Negeri 2 Batu? (3) apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama antara pendidikan agama Islam dalam keluarga dan budaya religius sekolah terhadap kecerdasan emosional siswa SMU Negeri 2 Batu?
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif yaitu deskriptif korelasional yaitu mencari hubungan dan pengaruh variabel independen pendidikan agama Islam dalam keluarga (X1), budaya religius sekolah (X2) dengan variabel dependen kecerdasan emosional (Y), baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing variabel independen dan variabel dependen memiliki korelasi positif dan pengaruh signifikan yaitu pendidikan agama Islam dalam keluarga (0,456) dan budaya religius sekolah (0,369). Secara bersama-sama terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan agama Islam dalam keluarga dengan budaya religius sekolah dengan kecerdasan emosional dengan nilai R sebesar 0,494, R2 sebesar 0,244. Ini berarti
bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel independen (pendidikan agama Islam dalam keluarga dan budaya religius sekolah) terhadap variabel dependen (kecerdasan emosional siswa) sebesar 24,4 %.
Berdasarkan temuan di atas, dikemukakan saran-saran sebagai berikut: (1) perlu dipupuk kerjasama antara sekolah dengan keluarga dalam pembinaan mental berasaskan ajaran Islam agar terwujud kepribadian siswa yang cerdas secara emosi (2) pendidikan agama Islam dalam keluarga juga perlu masukan dan perhatian dari pihak sekolah misalnya melalui program-program komite sekolah (3) perlu diciptakan budaya religius sekolah yang lebih banyak menjawab tantangan dan permasalahan siswa terutama disesuaikan dengan tahap perkembangan usia remaja dan (4) perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang kecerdasan emosional siswa dengan memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya seperti lingkungan masyarakat yang religius, peristiwa/kejadian dan pengalaman spiritual siswa.
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Jumat, 03 Agustus 2012

Model dan Strategi Pembelajaran Quantum Teaching dan Learning

MODEL & STRATEGI PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING & LEARNING

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Penguasaan terhadap metodologi pengajaran adalah merupakan salah satu persyaratan bagi seorang tenaga pendidik yang profesional. Perbedaan metode yang digunakan dalam pengajaran ternyata amat berpengaruh terhadap hasil pendidikan. Kini sudah saatnya, dunia pendidikan Islam berupaya menggunakan metode pengajaran yang lebih mampu menghasilkan lulusan pendidikan yang terbina secara seimbang antara perkembangan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional serta memiliki keterampilan dan sehat fisiknya, sehingga lulusan pendidikan tersebut dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.
Oleh karena itu, sangat diperlukan metodologi pengajaran yang dinilai paling mutakhir dan dapat menghasilkan lulusan pendidikan yang terbina seluruh potensi dirinya sebagaimana disebutkan di atas. Metodologi pengajaran tersebut adalah Quantum Teaching dan Learning.
Dalam rangka menghasilkan lulusan pendidikan Islam yang terbina seluruh potensinya, berwawasan lus dalam bidang ilmu pengetahuan, memiliki kecerdasan emosional, keterampilan, serta memiliki kepercayaan diri dan mampu bersaing dalam era globalisasi yang sudah mulai menerpa kehidupan seluruh bangsa Indonesia, khususnya umat Islam.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa  hakikat dari model & strategi pembelajaran Quantum Teaching & Learning?
2.      Bagaimana pelaksanaan model & strategi pembelajaran Quantum Teaching & Learning?
3.      Mengapa model & strategi pembelajaran Quantum Teaching & Learning perlu digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian & Karakteristik Model & Strategi Pembelajaran Quantum Teaching & Learning
1.      Pengertian Quantum Teaching dan Learning dan Karakteristiknya
Kata Quantum sendiri berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Jadi Quantum Teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.[1]
Quantum Teaching adalah ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian, dan fasilitas Supercamp yang diciptakan berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Luzanov), Multiple Intelligence (Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Ginder dan Bandler), Experiental Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson and Johnson), dan Elemen of Effective Intruction (Hunter).[2]
Selain itu, Quantum Teaching juga dapat diartikan sebagai pendekatan pengajaran untuk membimbing peserta didik agar mau belajar. Menjadikan sebagai kegiatan yang dibutuhkan peserta didik. Di samping itu untuk memotivasi, menginspirasi dan membimbing guru agar lebih efektif dan sukses dalam mengasup pembelajaran sehingga lebih menarik dan menyenangkan. Dengan demikian, diharapkan akan terjadi lompatan kemampuan peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilakukan.[3]
Quantum Teaching merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik menjadi sebuah paket multi sensori, multi kecerdasan, dan kompatibel dengan otak yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemmpuan murid untuk berprestasi. Sebagai sebuah pendekatan belajar yang segar, mengalir, praktis dan mudah diterapkan, Quantum Teaching menawarkan suatu sintesis dari hal-hal yang dicari, atau cara-cara baru untuk memaksimalkan dampak usaha pengajaran yang dilakukan guru melalui perkembangan hubungan, penggabungan belajar dan penyampaian kurikulum. Metodologi ini dibangun berdasarkan pengalaman 18 (delapan belas) tahun dan penelitian terhadap 25.000 siswa, dan sinergi pendapat dari ratusan guru.[4]
Quantum Teaching yang dibangun berdasarkan teori-teori tersebut mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar. Quantum Teaching bersandar pada konsep Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Inilah asas utama, alasan dasar yang berada di balik segala strategi, model, dan keyakinan Quantum Teaching.[5]
Melalui Quantum Teaching ini, seorang guru yang akan mempengaruhi kehidupan murid. Guru memahami sekali, bahwa setiap murid memiliki karakter masing-masing. Bagaimana setiap karakter dapat memiliki peran dan membawa sukses dalam belajar, merupakan inti ajaran Quantum Teaching.[6]
Menurut Bobby DePorter quantum learning merupakan bagian dari cara belajar, namun mencakup aspek-aspek penting dari Neuro Linguistic Programming (NLP). Neuro adalah saraf otak, linguistic adalah cara berbahasa, baik verbal maupun non verbal yang dapat mempengaruhi sistem pikiran, perasaan, dan perilaku. Program NLP sangatlah unik, yaitu melakukan mental building untuk membuang kebiasaan dan keyakinan lama yang menghasilkan kegagalan, pesimisme, kurang percaya diri, menggantikannya dengan program baru yang dapat mengoptimalkan semua fungsi otak, mengidentifikasikan hal-hal yang memicu pola berpikir positif.[7]
Quantum learning merupakan interaksi yang terjadi dalam proses belajar yang mampu mengubah berbagai potensi yang ada dalam diri manusia menjadi pancaran atau ledakan-ledakan gairah (dalam memperoleh hal-hal baru) yang dapat ditularkan (ditunjukkan) kepada orang lain. mengajar, membaca dan menulis merupakan salah satu bentuk interaksi dalam proses belajar. [8]
2.      Karakteristik Quantum Teaching & Leraning
a.       Berpangkal pada psikologi kognitif
b.      Bersifat humanistik, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi dan sebagainya dari pembelajar dapat berkembang secara optimal dengan meniadakan hukuman dan hadiah karena semua usaha yang dilakukan pembelajar dihargai. Kesalahan sebagai manusiawi
c.       Bersifat konstruktivistis, artinya memadukan, menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Oleh karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulant yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik
d.      Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna. Dalam proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan intekasi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar.
e.       Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Dalam prosesnya menyingkirkan hambatan dan halangan sehingga menimbulkan hal-hal yang seperti: suasana yang menyengkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan lain-lain.
f.       Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran. Dengan kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar sehat, rileks, santai, dan menyenangkan serta tidak membosankan.
g.      Menekankan kebermaknaan dan dan kebermutuan proses pembelajaran. Dengan kebermaknaan dan kebermutuan akan menghadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman perlu diakomodasi secara memadai.
h.      Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan yang dinamis. Sedangkan isi pembelajaran meliputi: penyajian yang prima, pemfasilitasan yang fleksibel, keterampilan belajar untuk belajar dan keterampilan hidup.[9]
i.        Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material.
j.        Menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri pembelajar. Ini mengandung arti bahwa suatu kesalahan tidak dianggapnya suatu kegagalan atau akhir dari segalanya. Dalam proses pembelajarannya dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai.
k.      Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi. Dalam prosesnya adanya pengakuan keragaman gaya belajar siswa dan pembelajar.
l.        Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran, sehinga pembelajaran bisa berlangsung nyaman dan hasilnya lebih optimal.
3.      Prinsip-Prinsip dalam Quantum Teaching
Secara eksplisit dalam ilmu pendidikan Islam belum dijumpai rumusan teori pengajaran yang mirip dengan Quantum Teaching. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Ilmu Pendidikan Islam terlambat perkembangannya dibandingkan dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti fiqh, ilmu kalam, tafsir, hadits dan sebagainya.
Quantum Teaching juga memiliki lima atau kebenaran tetap. Serupa dengan asas utama, sebagaimana disebutkan di atas, prinsip-prinsip ini mempengaruhi seluruh aspek Quantum Teaching. Prinsip tersebut ada lima, yaitu: 1) segalanya berbicara; 2) segalanya bertujuan; 3) pengalaman sebelum pemberian nama; 4) akui setiap usaha; 5) jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan.[10] Kelima prinsip yang terdapat dalam Quantum Teaching ini terdapat pula dalam ajaran Islam. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, bahwa prinsip segala sesuatu itu berbicara sebagimana yang terdapt dalam Quantum Teaching juga ada dalam Islam. Menurut Islam bahwa segala sesuatu memiliki jiwa atau personalitas.
Kedua, bahwa prinsip yang ada dalam Quantum Teaching, yaitu bahwa segalanya bertujuan adalah juga ada dalam ajaran Islam. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang artinya: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali-Imran, 3: 191). Atas dasar ini, maka seluruh ciptaan Tuhan harus digunakan sebagai media untuk meningkatkan pengetahuan.
Ketiga, bahwa prinsip memberikan pengalaman sebelum pemberian nama sebagaimana terdapat dalam Quantum Teaching, juga sejalan dengan prinsip yang adadalam ajaran Islam.
Keempat, bahwa prinsip yang terdapat dalam Quantum Teaching yaitu akui setiap usaha juga sesuai dengan prinsip yang  terdapat dalam ajaran Islam. Di dalam ajaran Islam terdapat predikat yang diberikan kepada seseorang yang didasarkan pada usahanya.
Kelima, bahwa prinsip rayakan jika layak dirayakan sebagaimana terdapat dalam Quantum Teaching juga terdapat dalam ajaran Islam. Selanjutnya langkah-langkah dalam Quantum Teaching yang mampu menggairahkan suasana belajar mengajar yang terdapat dalam istilah Tandur sebagaimana telah dijelaskan di atas juga sejalan dengan ajaran Islam. [11]
Dalam pelaksanaannya, Quantum Teaching melakukan langkah-langkah pengajaran dengan 6 (enam) langkah yang tercermin dalam istilah Tandur yang merupakan singkatan dari tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan.
Dengan diterapkannya prinsip-prinsip dan langkah-langkah yang terdapat dalam Quantum Teaching ini, maka suasana belajar akan terlihat dinamis, demokratis, menggairahkan dan menyenangkan anak didik, sehingga mereka dapat bertahan berlama-lama dalam ruangan tanpa mengenal lelah atau bosan.
B.     Proses Pelaksanaan Model & Strategi Pembelajaran Quantum Teaching & Learning
1.      Teknik-Teknik Quantum Teaching & Learning
Quantum Teaching menawarkan model-model pembelajaran yang berprinsip memberdayakan potensi siswa dan kondisi di sekitarnya. Model-model tersebut adalah model AMBAK dan TANDUR.
a.       Teknik AMBAK
AMBAK adalah suatu teknik penting dalam Quantum Teaching. AMBAK merupakan singkatan dari APA MANFAAT BAGIKU. Teknik ini menekankan bagaimana sedapat mungkin bisa menghadirkan perasaan dalam diri siswa bahwa apa yang mereka pelajari akan memberikan manfaat yang besar. Secara terperinci teknik AMBAK bisa dijelaskan sebagai berikut:[12]
1)      A: Apa yang dipelajari
Dalam pelajaran akhlak tentang akhlak terpuji misalnya, guru hanya menetapkan prinsip dari akhlaq-akhlaq tersebut, anak didiklah yang menentukan berbagai tema pelajaran sebagai contohnya. Misalnya, mereka di bawah ke sebuah pasar lalu dibiakan mengamati segala interaksi yang ada di pasar, baik antara penjual dan pembeli maupun para pengunjung yang ada di pasar.
2)      M: Manfaat
Kadang guru lupa menjelaskn manfaat yang diperoleh dari pelajaran yang diajarkan. Contohnya, pelajaran tenteng berwudlu. Guru tidak hanya menjelaskan syarat sah dan rukun wudlu, tetapi lebih dari itu guru harus bisa menjelaskan kepada siswa apa hikmah yang bisa diambil dari berwudlu. Intinya guru harus mendorong siswa bisa memahami sesuatu situasinya yang sebenarnya (insight), sehingga siswa tertantang untuk mempelajari semua hal dengan lebih mendalam.
3)      B: Bagiku
Manfaat apa yang akan saya dapat di kemudian hari dengan mempelajari ini semua. Misalnya, pelajaran bersuci dengan tayammum. Mungkin bagi siswa yang berada di daerah dengan paskoan air melimpah, mungkin pelajaran tayammum tidak banyak memberikan arti. dalam kondisi ini, guru harus bisa menjelaskan kepada siswa bahwa suatu ketika model bersuci dengan tayammum pasti akan bermanfaat, terlebih ketika dalam suatu perjalanan tidak menemukan air atau ketika sakit yang tidak diperkenankan terkena air.
Teknik AMBAK dia atas, meneunjukkan kepada kita betapa Quantum Teaching lebih menekankan pada pembelajaran yang sarat makna dan sistem nilai yang bisa dikotribusikan kelak saat anak dewasa nanti.
b.      Teknik TANDUR
Teknik pembelajaran Quantum Teaching yang lain yang dapat digunakan adalah teknik TANDUR, yakni:[13]
1)      T: Tumbuhkan
Tumbuhkan minat siswa dengan memuaskan “Apakah Manfaatnya Bagiku” dan manfaatkan kehidupan siswa. Dengan demikian, seorang guru tidak hanya memposisikan diri sebagai pentransfer ilmu pengetahuan saja, tetapi juga fasilitator, mediator, dan motivator. Dalam MP PAI, misalnya guru harus bisa menjelaskan kepada siswa akan pentingnya belajar PAI. Di samping itu guru juga harus memotivasi siswa bahwa belajar agama dapat menunjang perbaikan pribadi pada masa sekarang dan masa yang akan datang.
2)      A: Alam
Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa. Artinya, bagaimana guru bisa mengahadirkan suasana alamiah yang tidk membedakan antara yang satu dengan yang lain. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa kemampuan masing-masing siswa berbeda, namun hal itu tidak boleh menjadi alasan bagi guru mendahulukan yang lebih pandai dari yang kurang pandai. Semua siswa harus mendapat perlakuan yang sama.
3)      N: Namai
Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, atau strategi terlebih dahulu terhadap sesuatu yang akan diberikan kepada siswa. Guru sedapat mungkin memberikan pengantar terhadap materi yang hendak disampaikan. Hal ini dimaksudkan agar ada informasi pendahuluan yang bisa diterima oleh siswa. selain itu, guru diharapkan juga bis amembuat kata kunci terhadap hal-hal yang dianggap sulit. Dengan kata lain, guru harus bisa membuat sesuatu yang sulit menjadi sesuatu yang mudah. [14]
4)      D: Demonstrasikan
Sediakan kesempatan bagi siswa untuk “menunjukkan bahwa mereka tahu”. Sering kali dijumpai ada siswa yang mempunyai beragam kemampuan, akan tetapi mereka tidak mempunyai keberanian untuk menunjukkannya. Dalam kondisi ini, para guru harus tanggap dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk unjuk rasa dan memberikan motivasi agar berani menunjukkan karya-karya mereka kepada orang lain.
5)      U: Ulangi
Tunjukkan kepada siswa bagaimana cara mengulangi materi secara efektif. Pengulangan materi dalam suatu pelajaran akan sangat membantu siswa mengingat materi yang disampaikan guru dengan mudah.
6)      R: Rayakan
Keberhasilan dan prestasi yang diraih siswa, sekecil apapun, harus diberi apresiasi oleh guru. Bagi siswa perayaan akan mendorong mereka memperkuat rasa tanggung jawab. Perayaan akan mengajarkan kepada mereka mengenai motivasi hakiki tanpa “insentif”. Siswa akan menanti kegiatan belajar, sehingga pendidikan mereka lebih dari sekedar mencapai nilai tertentu. Hal ini untuk menummbuhkan rasa senang pada diri siswa yang pada gilirannya akan melahirkan kepercayaan diri untuk berprestasi lebih baik lagi.[15]
c.       Teknik ARIAS
Pembelajaran dengan teknik ARIAS terdiri dari lima komponen (Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction) yang disusun berdasarkan teori belajar. Kelima komponen tersebut merupakan satu-kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Deskripsi singkat masing-masing komponen dan beberapa contoh yang dapat dilakukan untuk membangkkitkan dan menngkatkannya kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.[16]
1)      Assurance (percaya diri)
Siswa yang memiliki sikap percaya diri memiliki penilaian positif tentang dirinya cenderung menampilkan prestasi yang baik secara terus-menerus. Sikap percaya diri, yakin akan berhasil ini perlu ditanamkan kepada siswa untuk mendorong mereka agar berusaha dengan maksimal guna mencapai keberhasilan yang optimal.
2)      Relevance
Yaitu berhubungan dengan kehidupan siswa baik berupa pengalaman sekarang atau yang telah dimiliki maupun yang berhubungan dengan kebutuhan sekarang atau yang akan datang. Dengan tujuan yang jelas mereka akan mengetahui kemampuan apa yang akan dimiliki dan pengalaman apa yang akan didapat. Mereka juga akan mengetahui kesenjangan anatara kemampuan yang telah dimiliki dengan kemampuan baru itu sehingga kesenjangan tadi dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali.
3)      Interest
Adalah yang berhubungan dengan minat/perhatian siswa. Dalam kegiatan pembelajaran minat/perhatian  tidak hanya harus dibangkitkan melainkan juga harus dipelihara selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, guru harus memerhatikan berbagai bentuk dan memfokuskan pada minat/perhatian dalam kegiatan pembelajaran. Minat/perhatian merupakan alat yang sangat berguna dalam usaha mempengaruhi hsil belajar siswa.
4)      Assessment
Yaitu yang berhubungan dengan evaluasi terhadap siswa. Evaluasi merupakan suatu bagian pokok dalam pembelajaran yang memberikan keuntungan bagi guru dan siswa. Bagi guru evaluasi merupakan alat untuk mengetahui apakah yang telah diajarkan sudah dipahami oleh siswa; untuk memonitor kemajuan siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok; untuk merekam apa yang telah siswa capai, dan untuk membantu siswa dalam belajar. Bagi siswa, evaluasi merupakan umpan balik tentang kelebihan dan kelemahan yang dimiliki, dapat mendorong belajar lebih baik dan meningkatkan motivasi berprestasi.[17]
5)      Satifaction
Yaitu yang berhubungan dengan rasa bangga, puas atas hasil yang dicapai. Dalam teori belajar satisfaction adalah reinforcement (penguatan). Sisa yang telah berhasil mengerjakan atau mencapai sesuatu merasa bangga/puas atas keberhasilan tersebut. Keberhasilan dan kebanggaan itu menjadi penguat bagi siswa tersebut untuk mencapai keberhasilan berikutnya.
d.      Teknik PAKEM
PAKEM adalah singkatan darii Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertnyakan, dan mengemukakan gagasan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar.[18]
Secara garis besar, gambaran PAKEM adalah sebagai berikut: siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
Apa yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM?
1)      Memahami sifat yang dimiliki anak
2)      Mengenal anak secara perorangan
3)      Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
4)      Mengembangkan segala kemampuan siswa
5)      Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
6)      Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
7)      Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
8)      Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental.[19]

2.      Model Quantum Teaching & Learning
Model pembelajaran Quantum teaching dan learning dibagi atas dua kategori, yaitu konteks dan isi. Konteks meliputi (1) lingkungan, (2) suasana, (3) landasan, (4) rancangan. Sedangkan isi mencakup masalah penyajian dan fasilitasai (mempermudah proses belajar).
Dalam konteks, guru dituntut harus mampu mengubah: (1) suasana yang memberdayakan untuk kegiatan PBM, (2) landasan yang kukuh untuk kegiatan PBM, (3) lingkungan yang mendukung PBM dan (4) rancangan pembelajaran yang dinamis. Sedangkan dalam isi guru dituntut untuk mampu menerapkan keterampilan penyampaian isi pembelajaran dan srtategi yang dibutuhkan siswa untuk bertanggungjawab atas apa yang dipelajarinya.
3.      Startegi Quantum Teaching
Timbulnya berbagai permasalahan dalam setiap proses prembelajaran mendorong beberapa praktisi pendidikan untuk menciptakan beberapa strategi pembelajaran, salah satunya adalah strategi pembelajaran kuantum (Quantum Teaching). Pembelajaran quantum merupakan cara baru yang memudahkan proses belajar, yang memadukan unsur seni dan pencapaian yang terarah untuk segala mata pelajaran. Pembelajaran kuantum adalah penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya, yang menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar serta berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas-interaksi yang mendirikan landasan dalam kerangka untuk belajar.[20]
4.      Strategi Quantum Learning
Quantum Learning berakar dari upaya Dr. George Lozanov seorang pendidik kebangsaan Bulgariayang bereksperimen dengan apa yang disebut sebagai suggestolory atau suggestopodia.
Prinsipnya adalah sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apa pun memberikan sugesti positif ataupun negatif.
Teknik untuk memberikan sugesti positif adalah mendudukkan murid secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, meningkatkan prestasi individu, menggunakan poster-poster untuk memberi kesan besar sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni pengajaran sugesti.
Istilah lain yang hampir dapat dipertukarkan dengan suggestology adalah pemercepat belajar, adalah memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal. Dan dibarengi kegembiraan Quantum Learning mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi.
Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan aliran pengertian antara siswa dan guru.
Quantum Learning menggabungkan suggestology, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan teori keyakinan, termasuk diantaranya konsep-konsep kunci dari berbagai teori dan strategi belajar yang lain, seperti:
a.       Teori otak kanan/ kiri;
b.      Pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestik)
c.       Teori kecerdasan ganda
d.      Pendidikan holistik
e.       Belajar berdasarkan pengalaman
f.       Belajar dengan simbol
g.      Simulasi/ permainan.[21]
C.     Perbedaan Quantum Teaching dan Quantum Learning
Quantum Teaching dan Quantum Learning merupakan model pembelajaran yang sama-sama dikemas Bobbi DePorter yang diilhami dari konsep kepramukaan, sugestopedia, dan belajar melalui berbuat. Quantum Teaching diarahkan untuk proses pembelajaran guru saat berada di kelas, berhadapan dengan siswa, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasinya. Pola Quantum Teaching terangkum dalam konsep TANDUR, yakni Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. Sementara itu, Quantum Learning merupakan konsep untuk pembelajar agar dapat menyerap fakta, konsep, prosedur, dan prinsip sebuah ilmu dengan cara cepat, menyenangkan, dan berkesan. Jadi, Quantum Teaching diperuntukkan guru dan Quantum Learning diperuntukkan siswa atau masyarakat umum sebagai pembelajar. Sebagai guru, Ibu tentunya perlu mendalami keduanya agar bisa menyerap konsep secara utuh dan terintegrasi.
Dalam Quantum Teaching, guru sangat diharapkan sebagai aktor yang mampu memainkan berbagai gaya belajar anak, mengorkestrakan kelas, menghipnotis kelas dengan daya tarik, dan menguatkan konsep ke dalam diri anak. Prinsipnya, bawalah dunia guru ke dunia siswa dan ajaklah siswa ke dunia guru. Dalam Quantum Teaching, tidak ada siswa yang bodoh, yang ada adalah siswa yang belum berkembang karena titik sentuhnya belum cocok dengan titik sentuh yang diberikan guru. Berarti, guru perlu penyesuaian sesuai dengan kondisi siswa dengan berpedoman pada segalanya bertujuan, segalanya berbicara, mengalami sebelum pemberian nama, akui setiap usaha, dan rayakan.[22]
Quantum Learning merupakan strategi belajar yang bisa digunakan oleh siapa saja selain siswa dan guru karena memberikan gambaran untuk mendalami apa saja dengan cara mantap dan berkesan. Caranya, seorang pembelajar harus mengetahui terlebih dahulu gaya belajar, gaya berpikir, dan situasi dirinya. Dengan begitu, pembelajar akan dengan cepat mendalami sesuatu. Banyak orang yang telah merasakan hasilnya setelah mengkaji sesuatu dengan cara Quantum Learning. Segalanya dapat dengan mudah, cepat, dan mantap dikaji dan didalami dengan suasana yang menyenangkanTeaching dan Learning merupakan model pembelajaran yang sama-sama dikemas Bobbi De Porter yang diilhami dari konsep kepramukaan, sugestopedia, dan belajar melalui berbuat.
1.      Teaching diarahkan untuk proses pembelajaran guru saat berada di kelas, berhadapan dengan siswa, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasinya. Pola Teaching terangkum dalam konsep TANDUR, yakni Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan.
2.      Learning merupakan konsep untuk pembelajar agar dapat menyerap fakta, konsep, prosedur, dan prinsip sebuah ilmu dengan cara cepat, menyenangkan, dan berkesan. Pola Learning terangkum dalam konsep AMBAK yakni Apa Manfaatnya Bagiku.
Jadi, Teaching diperuntukkan guru dan Learning diperuntukkan siswa atau masyarakat umum sebagai pembelajar.[23]
D.    Paradigma Belajar Model Quantum Teaching dan Learning
Dalam belajar model Quantum Teaching dan Learning agar dapat berjalan dengan benar ini paradigma yang harus dianut oleh siswa dan guru adalah sebagai berikut:
1.      Setiap orang adalah guru dan sekaligus murid sehingga bisa saling berfungsi sebagai fasilitator.
2.      Bagi kebanyakan orang belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, lingkungan dan suasana yang tidak terlalu formal, penataan duduk setengah melingkar tanpa meja, penataan sinar atau cahaya yang baik sehingga peserta merasa santai dan relak.
3.      Setiap orang mempunyai gaya belajar, bekerja dan berpikir yang unik dan berbeda yang merupakan pembawaan alamiah sehingga kita tidak perlu merubahnya dengan demikian perasaan nyaman dan positif akan terbentuk dalam menerima informasi atau materi yang diberikan oleh fasilitator.
Pelajaran tidak harus rumit tapi harus dapat disajikan dalam bentuk sederhana dan lebih banyak kesuatu kasus nyata atau aplikasi langsung.[24]
E.     Manfaat Model dan Strategi Pembelajaran Quantum Teaching & Learning
Terdapatnya problematika dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam sehingga pemilihan metode yang tepat merupakan salah satu alternatif pemecahannya. Serta dalam rangka menghasilkan lulusan pendidikan islam yang terbina seluruh potensinya dan memiliki sikap percaya diri, kreatif, inovatif, kritis, demokratis.[25]
Quantum Teaching merupakan metode pemnbelajaran yang menyenangkan serta menyertakan segala dinamika yang menunjang keberhasilan pembelajaran itu sendiri dan segala keterkaitan, perbedaan, interaksi serta aspek-aspek yang dapat memaksimalkan momentum dalam belajar.
Di samping itu, metode Quantum ini memiliki kelebihan yakni menjadikan guru dan siswa lebih kreatif, meningkatkan rasa percaya diri dan minat siswa, mengembangkan pola pikir, pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas tidak menjenuhkan, melatih rasa tanggung jawab dan disiplin siswa serta melatih keberanian siswa.[26]
Quantum Learning efektif terhadap peningkatan hasil belajar siswa bila dibandingkan dengan metode ceramah. metode Quantum Learning sebagai salah satu bentuk pencapaian kualitas belajar yang potensial, karena mampu menciptakan belajar menjadi nyaman dan menyenangkan.
Quantum learning menciptakan konsep motivasi, langkah-langkah menumbuhkan minat, dan belajar aktif. Membuat simulasi konsep belajar aktif dengan gambaran kegiatan seperti: “belajar apa saja dari setiap situasi, menggunakan apa yang Anda pelajari untuk keuntungan Anda, mengupayakan agar segalanya terlaksana, bersandar pada kehidupan.” Gambaran ini disandingkan dengan konsep belajar pasif yang terdiri dari: “tidak dapat melihat adanya potensi belajar, mengabaikan kesempatan untuk berkembang dari suatu pengalaman belajar, membiarkan segalanya terjadi, menarik diri dari kehidupan.”[27]
Oleh karena itu, metode Quantum Teaching & Learning perlu digunakan dalam pembelajaran terutama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Demi meningkatkan sarjana muslim yang lebih baik.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kata Quantum sendiri berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Quantum Teaching adalah metode belajar yang menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Quantum Learning merupakan strategi belajar yang bisa digunakan oleh siapa saja selain siswa dan guru karena memberikan gambaran untuk mendalami apa saja dengan cara mantap dan berkesan.
Quantum Teaching dan Learning menawarkan model-model pembelajaran yang berprinsip memberdayakan potensi siswa dan kondisi di sekitarnya. Model-model tersebut adalah model AMBAK dan TANDUR.
Digunakannya model & strategi pembelajaran Quantum Teaching & Learning dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai pemecahan problematika dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam serta dalam rangka menghasilkan lulusan pendidikan islam yang terbina seluruh potensinya dan memiliki sikap percaya diri, kreatif, inovatif, kritis, demokratis.


DAFTAR PUSTAKA

Eno, Retno, http://blog.umy.ac.id/retnoeno/2012/01/08/quantum-teaching-and        learning/, diakses tanggal 11 September 2012.
Faisal, Amir dan Zulfanah. 2008. Menyiapkan Anak jadi Juara. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
http://forumkuliah.wordpress.com/2009/02/05/quantum-learning/, diakses pada tanggal 3 Oktober 2012
Mulyono, Tri, http://trimulyonoes.blogspot.com/2009/01/strategi-pembelajaran       quantum-teaching.html, diakses tanggal 12 September 2012.
Nasih, Ahmad Munjin dan Lilik Nur Kholidah. 2009. Metode dan Teknik   Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung: PT Refika Aditama
Nasution, S. 1995.  Didaktik Asas-Asas Mengajarkan. Jakarta: PT Bumi Aksara
Nata, Abuddin. 2004. Manajemen Pendidikan; Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Media
Nata, Abuddin. 2009. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta:       Kencana Prenada Media Group
Nggermanto, Agus. 2005. Quantum Questient. Bandung: Nuansa
Porter, Bobby De, dkk. 2000. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa
Riyanto, Yatim. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada  Media Group
Roqib, Moh. 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: LkiS
Wena, Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara

[1] Retno Eno, http://blog.umy.ac.id/retnoeno/2012/01/08/quantum-teaching-and-learning/ , diakses tanggal 11 September 2012.
[2] Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), h. 231.
[3] S. Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajarkan (Jakarta: PT Bumi Aksara, 1995), h. 35.
[4] Bobby De Porter, dkk., Quantum Teaching (Bandung: Kaifa, 2000), cet. 3, h. 45.
[5] Agus Nggermanto, Quantum Questient (Bandung: Nuansa, 2005), cet. 6, h. 22.
[6] Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam (Jakarta: Prenada Media, 2004), cet. I, h. 148.
[7] Amir Faisal dan Zulfanah, Menyiapkan Anak jadi Juara (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2008), h. 95-96
[8] Moh Roqib, Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta: LkiS, 2009), h. 110
[9] Tri Mulyono, http://trimulyonoes.blogspot.com/2009/01/strategi-pembelajaran-quantum-teaching.html, diakses tanggal 12 September 2012.
[10] Agus Nggermanto, Quantum Questient (Bandung: Nuansa, 2005), cet. I, h. 66-67.
[11] Abuddin, Manajemen, h. 41-44.
[12] Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), h. 120.
[13] Ibid., h. 121.
[14] Ibid., h. 121-122
[15] Ibid., h. 121-122
[16] Ibid., h. 122.
                [17] Ibid., h. 124-125.
[18] Ibid., h. 126.
[19]Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), h. 120-129.
[20] Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 160-161
[21] Ibid., h. 186-187.
                [22] Tri Mulyono, http://trimulyonoes.blogspot.com/2009/01/strategi-pembelajaran-quantum-teaching.html, diakses tanggal 12 September 2012.
[23]Ibid.
[24] Ibid.
[25] Abuddin, Manajemen, h. 44.
[26]Tri Mulyono, http://trimulyonoes.blogspot.com/2009/01/strategi-pembelajaran-quantum-teaching.html, diakses tanggal 12 September 2012.
[27] http://forumkuliah.wordpress.com/2009/02/05/quantum-learning/, diakses pada tanggal 3 Oktober 2012
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Kamis, 02 Agustus 2012

Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah

Manajemen Berbasis  Sekolah

Howard M. Carlisle menyatakan : Management is the process by which the element of a group are integrated, coordinated, and efficiently achieve objective (Manajemen adalah proses pengintegrasian, pengkordiasian dan pemanfaatan elemen-elemen suatu kelompok untuk mencapai tujuan secara efisien).
     Dengan demikian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan proses pengintegrasian, pengkoordinasian dan pemanfaatan dengan melibatkan secara menyeluruh elemen-elemen yang ada pada sekolah untuk mencapai tujuan (mutu pendidikan) yang diharapkan secara efisien. Atau dapat diartikan bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah model manajemen yang memberikan otonomi (kewenangan) yang lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan yang partisipatif yaitu melibatkan semua warga sekolah berdasarkan kesepakatan bersama.Dengan adanya otonomi (kewenangan) yang lebih besar diharapkan sekolah memiliki kewenangan secara mandiri dalam mengelola sekolah dan memilih strategi dalam meningkatkan mutu pendidikan serta dapat memilih pengembangan program yang lebih sesuai dengan potensi kebutuhan daerah dimana lulusannya akan diproyeksikan.

Tujuan Umum MBS :
Memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian otonomi kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif.

Tujuan Khusus MBS :
1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan    memberdayakan sumber daya yang ada.
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalampenyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.
3. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada masyarakat.
4. Meningkatkan persaingan yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang ingin dicapai.

Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Konsep dasar Manajemen Berbasis Sekolah adalah manajemen yang bernuansa otonomi, kemandirian dan demokratis.

1. Otonomi, mempunyai makna bahwa kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah dalam mencapai tujuan sekolah (mutu pendidikan) menurut prakarsa berdasarkan aspirasi dan partisipasi warga sekolah dalam bingkai peraturan perundangan-undangan yang berlaku.

2. Kemandirian, mempunyai makna bahwa dalam pengambilan keputusan tidak tergantung pada birokrasi yang sentralistik dalam mengelola sumber daya yang ada, mengambil kebijakan, memilih strategi dan metoda dalam memecahkan persoalan yang ada, mampu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan serta peka dan dapat memanfaatkan peluang yang ada.

3. Demokratif, mempunyai makna seluruh elemen-elemen sekolah dilibatkan dalam menetapkan, menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan untuk mencapai tujuan sekolah (mutu pendidikan) sehingga memungkinkan tercapainya pengambilan kebijakan yang mendapat dukungan dari seluruh elemen-elemen warga sekolah.


Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Karakterisitk Manajemen Barbasis Sekolah tentunya tidak terlepas dari pendekatan Input, Proses, Output Pendidikan.

1. Input Pendidikan
a. Memiliki kebijakan, tujuan dan sasaran mutu yang jelas.
b. Tersedianya sumber daya yang kompetitif dan berdedikasi.
c. Memiliki harapan prestasi yang tinggi.
d. Komitmen pada pelanggan.

2. Proses Pendidikan
a. Efekttivitas dalam proses belajar mengajar tinggi.
b. Kepemimpinan yang kuat.
c. Lingkungan sekolah yang nyaman.
d. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif.
e. Tim kerja yang kompak dan dinamis.
f. Kemandirian, partisipatif dan keterbukaan (transparasi).
g. Evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.
h. Responsif, antisipatif, komunikatif dan akuntabilitas.

3. Output yang diharapkan
Pada dasarnya output yang diharapkan merupakan tujuan utama dari penyelenggaraan pendidikan secara umum
.
Langkah-langkah Perumusan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
Untuk merumuskan implementasi manajemen berbasis sekolah harus ada tahapan-tahapan sebagai berikut :

1. Perencanaan
Pada langkah awal perumusan MBS, hal-hal yang perlu dilaksanakan adalah :
a. Mengidentifikasi sistem, budaya dan sumber daya, mana yang perlu dipertahankan dan mana yang harus dirubah dengan memperkenalkan terlebih dahulu format yang baru dan tentunya lebih baik.
b. Membuat komitmen secara rinci yang diketahui oleh semua unsur yang bertanggung jawab.
c. Hadapilah penolakan terhadap perubahan dengan memberi pengertian
d. Berkerja dengan semua unsur sekolah dalam menjelaskan atau memaparkan visi, misi, tujuan, sasaran, rencana dan program-programpenyelenggaraan MBS.
e. Menggaris bawahi prioritas sistem, budaya dan sumber daya yang belum ada dan sangat diperlukan.

2. Mengidentifikasi Tantangan Nyata Sekolah
Pada umumnya tantangan sekolah bersumber pada output (lulusan) sekolah yang meliputi kualitas, produktifitas, efektibilitas dan efisiensi. Maka sangat diperlukan identifikasi dari hasil analisis output untuk mengetahui tingkat kualitas, produktifitas, efektibilitas dan efisiensi dari output yang dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan.

3. Merumuskan visi, misi, tujuan sasaran sekolah yang dapat menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan sekolah.
- Visi adalah gambaran masa depan yang diinginkan oleh sekolah, agar sekolah yang bersangkutan dapat menjamin kelangsungan hidup dan perkembangannya.
- Misi adalah tindakan untuk mewujudkan atau merealisasikan visi tersebut.
- Tujuan adalah apa yang ingin dicapai atau dihasilkan oleh sekolah yang bersangkutan dan kapan tujuan itu mungkin dicapai.
- Sasaran adalah penjabaran tujuan yang akan dicapai oleh sekolah dalam jangka waktu lebih pendek dibandingkan dengan tujuan sekolah. Rumusannya harus berupa peningkatan yang spesifik, terukur, jelas kriterianya dan disertai indicator yang rinci.

4. Mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran
Fungsi-fungsi yang dimaksud adalah unsur-unsur kegiatan beserta unsurunsur pendukungnya yang saling berkaitan dan tidak dapat berdiri sendiri. Sejauh mana kesiapan fungsi-fungsi tersebut terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan dalam mencapai sasaran.

5. Melakukan analisis potensi lingkungan (analisis SWOT)
Analisis SWOT dilakukan dengan maksud untuk mengenali kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi sekolah yang diperlukan utnuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
Prinsip analisis SWOT adalah :
- Kekuatan-kekuatan apa yang kita miliki ?
Bagaimana memanfaatkannya ?
- Kelemahan-kelemahan apa yang kita miliki ?
Bagaimana meminimalkannya ?
- Peluang-peluang apa yang ada ?
Bagaimana memanfaatkannya ?
- Ancaman apa yang mungkin menghambat keberhasilan ?
Bagaimana mengatasinya ?

6. Memilih langkah-langkah alternatif pemecahan persoalan.
Dalam setiap kegiatan dimungkinkan adanya permasalahan yang timbul. Hendaklah kita tidak menghindari masalah akan tetapi harus kita hadapi dengan solusi pemecahan yang sudah kita rencanakan sebelumnya.

7. Menyusun Rencana Program Peningkatan Mutu.
Penyusunan program peningkatan mutu harus disertai langkah-langkah pemecahanan persoalan yang mungkin terjadi. Fungsi yang terlibat beserta unsur-unsurnya membuat rencana program untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang serta bersama-sama merealisasikan rencana program tersebut. (rencana program biasanya tertuang dalam renstra sekolah).

8. Melaksanakan Rencana Program Peningkatan Mutu
Dalam melaksanakan rencana peningkatan mutu maka fungsi-dungsi terkait hendaknya memanfaatkan sumber daya secara maksimal, efektif dan efisien.

9. Melakukan Evaluasi Pelaksanaan
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program, sekolah perlu mengadakan evaluasi pelaksanaan program, baik program jangka pendek maupun program jangka panjang.

10. Merumuskan Sasaran Peningkatan Mutu Baru.
Dari hasil evaluasi kita dapat memperoleh tingkat keberhasilan dan kegagalannya sehingga dapat memperbaiki kinerja program yang akan datang. Disamping itu evaluasi juga sangat berguna sebagai bahan masukan bagi sekolah untuk merumuskan sasaran (tujuan) peningkatan mutu untuk tahun yang akan datang.
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Rabu, 01 Agustus 2012

Peran Pondok Pesantren (Madrasah) Dalam Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia

Book Review
Peran Pondok Pesantren (Madrasah) Dalam Perkembangan
Pendidikan Islam di Indonesia
Oleh: Mutawalli

Prof. H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam
di Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1979)

Sejarah lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia mengalami pasang surut dari mulai masuknya Islam ke Indonesia sampai sekarang. Di antara lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, pesantren merupakan sistem pendidikan tertua, dan dinilai sebagai hasil proses sejarah yang panjang. Pesantren sering disamakan dengan mandala dan asrama dalam khazanah agama Hindu.[1] Eksistensi pesantren yang merupakan suatu lembaga pendidikan keagamaan yang mengajarkan, mengembangkan, dan menyebarkan ilmu agama Islam, di Indonesia sudah lama dan pengaruhnya terhadap masyarakat terutama di pedesaan sangat kuat. Sejak masa kolonial pesantren sudah menjadi alternatif pendidikan di samping sistem pendidikan Barat. Bahkan pesantren menjadi suatu kebanggaan ketika itu, sebab sistem pendidikan pesantren tidak terpusat pada penumpukan pengetahuan dan pengasahan otak, tetapi juga mementingkan pendidikan kepribadian sebagai karakter manusia. Pada perkembangan selanjutnya pesantren mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh dinamika internal maupun dorongan eksternal.[2]
Karya Mahmud Yunus yang akan direview ini, sesungguhnya memiliki ciri khas yang berbeda dengan buku-buku lainnya, dimana di dalam buku ini secara matang dijelaskan satu persatu sebab musabbab berkembangnya pendidikan di Indonesia. Buku ini diakui merupakan buku pertama yang mengulas sejarah tentang pendidikan Islam di Indonesia secara lengkap karena buku ini tidak hanya memuat tentang penjelasan-penjelasan sejarah dari para ahli namun juga dibubuhi dengan dokumen-dokumen yang mendukung akan keberadaan sejarah tersebut, baik dokumen yang berupa poto-poto maupun dalam bentuk naskah tua. Sehingga wajar bila kita berkiblat pada buku ini dalam mengkaji tentang sejarah pendidikan Islam di Indonesia.
Pendekatan
Buku Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, tidak dapat digolongkan ke dalam penulisan sejarah tradisional yang ciri pokoknya menyajikan peristiwa sejarah dalam bentuk kisah dengan bahasa yang berbeda yaitu menggunakan pendekatan naratif. Dalam buku ini, Mahmud Yunus mengguakan metode interdisipliner, yang sekarang ini lebih dikenal sebagai sejarah totalitas, yang dikembangkan oleh mazhab annales (annales school), karenanya disebut juga sebagai pendekatan Annales.[3]
Buku dengan judul Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia yang dikarang oleh Mahmud Yunus ini secara keseluruhan terdiri dari empat bagian, yang mana setiap bagian terdiri dari beberapa bab. Buku ini merupakan hasil pengembaraan dari si penulis sendiri, baik dia melakukan penyelidikan dengan berkirim surat dan dengan pergi sendiri ke daerah-daerah yang bersangkutan. Sehingga Mahmud Yunus mengungkapkan dalam kata pengantarnya bahwa pada umumnya sejarah pendidikan Islam di daerah itu amat kabur dan tidak jelas kapan waktu, tanggal dan tahunnya, kadang-kadang hanya dengan perkiraan saja. Hanya yang terang dan jelas ialah sejarang pendidikan islam dalam perkembangan terakhir.
Dari keseluruhan bagian pembahasannya, dimana bagia pertama terdiri dari: Bab I, buku ini menjelaskan sejarah pendidikan islam di Sumatera yang mencakup pendidikan islam di Minangkabau, kerajaan islam di Minangkabau, penyiaran/pendidikan, terjadi kerusakan di Minangkabau, Tuanku Imam Bonjol, penyempurnaan pendidikan Islam, pendidikan islam sebelum tahun 1900 M, pengajian Qur’an, pendidikan pertama, cara mengajar pada pengajian Qur’an, pengajian kitab, mata pelajarannya, contoh kitab Al-’Awamil (tulisan tangan), cara mengajar pada pengajian kitab dan contoh kitab tafsir jalalain tulisan tangan. Kemudian pada Bab II, diuraikan tentang masa perubahan (tahun 1900-1908 M), susunan pendidikan Islam masa perubahan, cara mengajar pada pengajian Qur’an/kitab, alim ulama yang mengadakan perubahan, dan perbandingan sistem lama dengan sistem masa perubahan. Lalu pada Bab III: zaman lahirnya madrasah-madrasah (tahun 1909-1930 M), susunan pendidikan Islam pada masa perubahan, adabiah school yang pertama lahir (1909 M), Diniah School Zainuddin Labai Al-Yunusi (tahun 1951 M), rencana pelajaran madrasah diniah, surau-surau menjadi madrasah-madrasah yang berkelas (1921 M), rencana pelajaran Sumatera Thawalib, dan kitab-kitab yang dipakai pada Thawalib/diniah. Pada Bab IV: pendidikan Islam untuk rakyat, majalah-majalah Islam, kitab-kitab agama dalam bahasa melayu, tablig-tablig, penyiaran agama pada masyarakat, aliran baru di Minangkabau, perkumpulan-perkumpulan Islam di Minangkabau, dan madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah. Bab V: zaman modernisasi madrasah-madrasah di Minangkabau, normal Islam, Islamic College dan lain-lain, muktamar madrasah yang pertama (1936), sekema susunan madrasah-madrasah sebelum Indonesia merdeka, rencana pelajaran awaliah/ibtidaiyah, perguruan tinggi islam, dan pendidikan islam zaman Jepang. Bab VI: pendidikan islam sesudah Indonesia merdeka, pendidikan agama di Sekolah Rakyat, keadaan madrasah-madrasah pada tahun 1945-1959, Universitas Darul Hikmah, dan riwayat singkat ulama-ulama Minangkabau. Bab VII: pendidikan Islam di Jambi, dan tumbuh dan berkembangnya madrasah di Minangkabau seperti: Madrasah Nuruh Iman, Madrasah Nurul Islam dan lain-lain. Bab VIII: pendidikan Islam di Aceh, keemasan pesantren-pesantren di Aceh, ulama-ulama Aceh yang terkenal di abad ke17, tafsir al-Qur’an Syekh Abdur Rauf bahasa Melayu, masa perubahan pesantren, dan madrasah Islam modern Langsa. Bab IX: pendidikan Islam di Sumatera Utara, pertumbuhan pesantren di Sumatera Utara, lahirnya madrasah-madrasah, munculnya Universitas Islam Sumatera Utara, dan pesantren/ madrasah Mustafawiyah di Tapanuli. Bab X: pendidikan Islam di Sumatera Selatan, mulai dari pertumbuhan pondok pesantren, madrasah sampai kepda berdirinya universitas di Sumatera Selatan.
Kemudian pada bagian kedua membicarakan tentang sejarang pendidikan Islam di Jawa yang dijabarkan dalam beberapa bab sebagai berikut: Bab I: masuknya Islam di pulau Jawa, dibahas juga tentang para wali yang menyebarkan Islam di pulau Jawa, lalu di bab ini juga dijabarkan organisasi-organisasi pendidikan Islam, di dalam bab ini juga terdapat penjelasan tentang zaman kerajaan Islam Mataram dan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa, pendidikan Islam di Jawa sebelum tahun 1900 M dan dijabarkan juga peran pondok pesantren di Jawa dari 1900 M. Bab II: Pendidikan Islam di Jawa Timur yang mana di dalam bab ini pondok pesantren mulai kelihatan perannya dalam pendidikan Islam, terlihat dalam pembahasannya tentang pondok pesantren Tebuireng yang dibangun oleh K. H. Hasyim Asy’ari, lalu ada pondok pesantren Tambak Beras, Jombang, pondok pesantren Rejoso Peterongan, dan pondok modern Gontor Ponorogo Madiun, dan dijelaskan pula peran Nahdhatul Ulama (NU) dalam mengembangkan pendidikan Islam di Jawa. Bab III: Pendidikan Islam di Jawa Tengah/Yogyakarta. Pada bab ini banyak disinggung beberapa madrasah yang bermunculan di samping itu pula banyak bermunculan ogranisasi Islam seperti Muhammadiyah yang mana organisasi ini memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan Islam, ini terlihat dengan banyaknya madrasah yang dibangun dan dibangun pula universitas untuk mendukung berkembangnya pendidikan Islam di Indonesia khususnya di Jawa Tengah. Bab IV: Pendidikan Islam di Jawa Barat. Pada bab ini juga dijelaskan peran madrasah dan pondok pesantren dalam mengembangkan pendidikan Islam di Indonesia ini dibuktikan dengan adanya pondok pesantren persatuan Islam bandung, pondok pesantren/madrasah Gunung Puyung Sukabumi dan persatuan umat Islam Majalengka, pesantren persis di Bandung dan madrasah Al Khairiyah Banten. Bab V: Madrasah-madrasah di Jakarta. Diantaranya: madrasah Al Irsyad Jakarta, madrasah da’wah Islamiah Jakarta, Perguruan Tinggi Islam Jakarta, madrasah Jam’iat Kheir Jakarta, dan madrasah-madrasah lain.
Lalu pada bagian tiga, Yunus menjelaskan tentang pendidikan Islam di Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Maluku. Dijabarkan dalam beberapa bab sebagai berikut: Bab I: masuknya Islam ke Sulawesi dan Nusa Tenggara, dan masuknya Islam ke Kalimantan dan Maluku. Bab II: Pendidikan Islam di Sulawesi, pertumbuhan dan perkembangan madrasah dan pondok pesantren dan Universitas Muslim Islam Makasar. Bab III: pada bab ini Yunus khusus membahas tentang pendidikan di Nusa Tenggara, madrasah Nahdlatul Wathan Lombok, dan madrasah-madrasah lainnya yang berkembang di Lombok. Bab IV: pendidikan Islam di Kalimantan. Dalam bab ini, banyak dijelaskan tentang banyaknya pondok pesantren dan madrasah yang sudah menjamur dan memiliki peran yang penting dalam perkembangan pendidikan di belahan Indonesia ini.
Pada bagian terkahir yaitu tepatnya bagian keempat dijelaskan tentang persatuan pendidikan Islam di Indonesia. Pada bagian ini hanya terdiri dari satu bab, dimana dalam bab ini dijelaskan berdirinya Kementerian Agama di Yogyakarta/Jakarta, bedirinya persatuan pendidikan guru-guru Agama Islam di Indonesia, berdirinya PGA dan SGHA di luar Jawa, banyaknya sekolah-sekolah kementerian agama (tahun 1951-1954 M), kemudian dibangunnya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Yogya, Akademi Dinas Ilmu Agama Jakarta, dan Al Jami’ah Al Islamiah Al Hukumiah (IAIN) dan terkahir penutup.
Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren di Jawa
Akar historis-kultural pesantren tidak terlepas dari perkembangan Islam di Indonesia yang bercorak sufistik dan mistik. Jika dilihat dalam konteks yang lebih besar lagi, aliran sufisme dan mistik yang melembaga dalam tarekat-tarekat di Jawa ini juga merupakan  salah satu faktor yang turut mendorong proses Islamisasi secara umum.[4] Dalam pergumulannya, pesantren menyerap banyak budaya Jawa pedesaan yang cenderung statis dan sinkretis. Oleh karena itu, di samping karena basis pesantren adalah masyarakat pinggiran yang berada di desa-desa, pesantren sering disebut sebagai masyarakat atau Islam tradisional. Pesantren memiliki kekhasan tersendiri jika dibanding dengan lembaga pendidikan lainnya. Akar budaya yang kuat menyebabkan pesantren menjadi sebuah entitas yang begitu erat dengan masyarakat dalam menanamkan misinya.[5] Bahkan pesantren menjelma menjadi sebuah sub-kultur yang bersifat idiosyncretic,[6] yang tidak dapat terpisah dari masyarakatnya.
Pesantren sudah mulai muncul pada masa pertumbuhan Islam di Jawa. Hal ini dapat dilihat dari munculnya pesantren Ampel Denta Surabaya yang didirikan oleh Sunan Ampel atau Raden Rahmat. Selanjutnya muncul pesantren yang didirikan oleh Sunan Giri, yang pesantrennya terkenal sampai ke daerah Maluku. Orang-orang dari daerah itu, terutama Hitu, berguru kepada Sunan Giri.[7]
            Memasuki era kolonial, pondok pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan rakyat pribumi. Pada dasawarsa terakhir abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan sistem pendidikan kolonial, namun hanya diperuntukkan bagi sekelompok kecil masyarakat, terutama kalangan ningrat. Letaknya yang kebanyakan berada di wilayah pinggiran serta doktrin jihad yang kuat untuk melawan penjajah, menjadikan pondok pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan rakyat tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintah kolonial.
            Ketika Indonesia memasuki era kemerdekaan, kebanyakan pondok pesantren masih berada di wilayah pinggiran.  Pada tanggal 22 Desember 1945 Badan Pekerja-Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) mengamanatkan agar pendidikan di langgar-langgar (pesantren) dan madrasah terus berjalan dan dipercepat. Meskipun demikian, sistem pendidikan pondok pesantren tidak masuk dalam sistem pendidikan nasional. Seiring dengan program pembangunan di Indonesia, dengan watak kemandiriannya, pondok pesantren mengalami perkembangan yang pesat. Pondok pesantren tidak hanya menjelma sebagai lembaga pendidikan rakyat tetapi juga sebagai agen perubahan dan pembangunan masyarakat.
            Sejak masa Orde Baru bermunculan banyak organisasi yang orientasi kegiatannya berfokus pada bidang sosial dan keagamaan, seperti bidang pendidikan. Pendirian lembaga pendidikan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap ilmu pengetahuan. Berbagai peran potensial yang dimainkan oleh pesantren menjadikan pesantren memiliki tingkat integritas yang tinggi dengan masyarakat di sekitarnya sekaligus menjadi rujukan moral (reference of morality) bagi kehidupan masyarakat umum.[8]
            Sebagai salah satu kota wali di wilayah Jawa, Kudus memiliki Sunan Kudus dan Sunan Muria sebagai local model yang sangat berpengaruh di kawasan pantai utara (Pantura) Jawa Tengah. Bahkan kebesaran dua wali tersebut memberikan justifikasi Kudus sebagai “kota santri”, dengan salah satu indikasinya adalah banyak pesantren dengan berbagai macam variannya.[9] Dengan demikian, Kudus sebagai kota kecil yang memiliki 86 pesantren produktif dapat menjadi media untuk mencapai tujuan pembangunan daerah melalui mobilisasi sumber daya lokal (santri dan masyarakat). Produktivitas pesantren dapat dilihat secara manajerial, kurikulum, kepemimpinan, alih generasi, rekruitmen guru dan santri, serta proses pendidikan dan pembelajaran.
            Pesantren dengan berbagai macam spesifikasi, visi, misi, dan orientasinya, menjadi varian menarik, terutama dalam memajukan pendidikan Islam di Kudus. Pemetaan warisan tradisi Kudus Kulon dan Kudus Wetan memberikan corak, seperti tradisi dan nuansa keilmuan yang semakin menarik bagi masyarakat di luar Kudus. Ketertarikan tersebut berpangkal pada wilayah dan kantong-kantong santri yang tidak lagi didominasi oleh komunitas Menara[10], akan tetapi komunitas dan kantong-kantong lain yang potensial, seperti Jekulo, Undaan, Gebog dan daerah-daerah pinggiran lainnya.[11]
            Selain sebagai wadah pendidikan yang memiliki peranan penting dalam masyarakat, hadirnya seorang pemimpin pesantren akan sangat mempengaruhi perkembangan sebuah pesantren. Seorang  kiai yang dipercaya memiliki keunggulan secara moral maupun religius sangat penting peranannya dalam masyarakat. Keberadaan kiai dan pesantren merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kiai muncul dari pesantren dan pesantren berkembang dari kiai. Dengan demikian, pesantren beserta kiai-kiai berperanan penting dalam proses pendidikan masyarakat.[12] Sebagian kiai di Kudus tidak memiliki pesantren dan bahkan tidak memiliki santri tetap, sehingga tidak selalu terikat secara ketat dengan kegiatan-kegiatan pesantren. Namun demikian, di sisi lain juga banyak kiai yang memiliki pesantren, walaupun mereka tidak secara full timer (mukimin) menangani pesantren.[13]
Pada umumnya kebesaran seorang kiai sangat berhubungan dengan kebesaran pesantren yang diasuhnya. Semakin besar pesantren yang dimiliki seorang kiai,  semakin besar ke-kiai-annya, namun tidak demikian yang terjadi di Kudus. Kondisi pesantren di Kudus tidak sebesar pesantren-pesantren di Jawa Timur. Jumlah pesantren di Kudus sampai saat ini mencapai puluhan pesantren, namun yang terbesar ada tiga, yakni Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ), Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo dan Pondok Pesantren al-Muayyad Kudus. Pesantren yang pertama memiliki lebih kurang 900 santri dengan fokus pembelajaran menghafal al-Qur’an dan pesantren ke dua memiliki lebih kurang 600 santri dengan pembelajaran ilmu-ilmu syariah dan dalail al-khairot, dan pesantren ke tiga memiliki santri sekitar 600 orang. Pesantren-pesantren yang lain memiliki santri lebih kurang 100 orang.
            Salah satu pondok pesantren besar di Kabupaten Kudus adalah pondok pesantren Darul Falah. Pesantren salaf yang terkenal dengan Thariqah Dalail al-Khairat ini berlokasi di  Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kudus. Wilayah Kecamatan Jekulo termasuk dalam wilayah “Kudus Wetan”. Pondok pesantren yang didirikan oleh KH Ahmad Basyir pada tahun 1970 ini memegang teguh ajaran Dalail al-Khairat dengan ciri khas puasa bertahun-tahun. Pondok pesantren Darul Falah memiliki motto “Njiret Weteng, Nyengkal Mata” yang memiliki makna ''Masa muda bersusah payah, maka pada saat tua akan menemukan kesuksesan. Sengsara itu berati berani lapar, berani bangun tengah malam, dalam artian untuk belajar.'' Motto kalimat ini bersumber dari petuah Sunan Kalijogo dalam salah satu Kitab Jawa yang menyerukan para santrinya untuk berperilaku prihatin dan bersahaja (tidak mementingkan kenikmatan lahiriah).[14] Ajaran tersebut menjadi salah satu dasar dari ajaran Dalail al-Khairat yang dikembangkan di pesantren Darul Falah. Dalail al-Khairat adalah salah satu ijazah dengan ciri khas puasa bertahun-tahun, yang di kalangan masyarakat awam dikenal dengan sebutan puasa dalail.[15] Ijazah Dalail al-Khairat ini pula yang menjadi ciri khas Pesantren Darul Falah.
Santri-santri yang belajar di Pesantren Darul Falah ini berasal dari berbagai daerah, yaitu: Kudus, Jepara, Demak, Kendal, Cirebon, Jakarta, Tangerang, Banten, dan sejumlah kota di Sumatera. Di pesantren ini dipersiapkan asrama atau pondok yang digunakan oleh para santri untuk tinggal selama mereka belajar. Santri-santri yang belajar di pesantren Darul Falah terdiri atas santri putra dan santri putri.
Pesantren Darul Falah menerapkan metode pembelajaran perpaduan antara sistem tradisional dan sistem modern. Penggunaan sistem tradisional, berlangsung pada proses pengkajian kitab salaf dengan cara bandongan dan sorogan. Metode modern diadopsi dengan adanya pengelompokan santri sesuai dengan tingkat kemampuannya.
Dengan lahirnya UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pondok pesantren memasuki babak baru dalam dunia pendidikan di negeri ini. Pondok pesantren telah masuk dalam bagian yang tak terpisahkan dalam sistem pendidikan nasional.[16] Dalam pasal 15 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. Kemudian dalam pasal 30 ayat 4 dijelaskan bahwa pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera dan bentuk lain yang sejenis.[17] Dengan adanya ketentuan ini, secara formal pesantren adalah bagian dari sistem pendidikan nasional yang berhak mendapatkan perhatian serius sebagaimana sub-sistem pendidikan yang lain.[18]
Undang-Undang ini memiliki dampak yang positif bagi perkembangan pendidikan di Pesantren. Fenomena ini dapat dilhat juga pada perkembangan pendidikan di Pesantren Darul Falah. Karena metode pembelajaran yang diterapkan sangat sistematis, Pada tahun 2003 pesantren Darul Falah dipercaya sebagai pengelola program wajib belajar 9 tahun di Kabupaten Kudus. Dengan program ini, para santri yang telah menempuh pendidikan selama 9 tahun di pesantren ini diakui setara dengan menempuh pendidikan 9 tahun program pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah.
Hal ini memiliki efek positif bagi para santri. Program pendidikan dasar (dikdas) ini menjadikan para santri yang lulus ujian mengantongi dua dokumen kelulusan yang setara dengan ijazah MI/SD atau MTs/SMP masing-masing Surat Tanda Lulus (STL) dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Departemen Agama (Depag). Dengan dokumen itu, para santri salaf bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi atau memasuki pasaran kerja.[19]
Dalam perkembangannya pada tahun 2004 untuk memudahkan pengelolaan, kepengurusan pondok pesantren dipecah menjadi empat, yakni Darul Falah I, II, III, dan IV. Darul Falah I dan II diperuntukan bagi santri putra, sedangkan Darul Falah III dan IV untuk santri putri. Kegiatan belajar para santri terdiri atas kegiatan harian, mingguan, dan selapanan atau bulanan. Kegiatan harian meliputi program tahfidh Alquran untuk santri putri, jamaah shalat, tadarus, kajian kitab sekolah pagi, musyawarah wajib, musyafahah Alquran, takhashshush An-Nasyri dan diakhiri qiyam al-lail.[20]
Penutup
Sesungguhnya pondok pesantren (madrasah) sangat memiliki andil yang sangat besar dalam meningkatkan pendidikan Islam di Indonesia. Karena pendidikan yang kita rasakan saat ini, sesungguhnya berawal dari madrasah atau pondok pesantren yang dipandu oleh para kiyai atau tuan guru, ini terbukti dengan banyaknya pondok pesantren yang menjamur di setiap daerah dan pulau seantero negara Indonesia ini, baik dari Sabang sampai Merauke.
Perlu kita ketahui bersama bahwa madrasah atau pondok pesantren terduhulu sesungguhnya memiliki perbedaan yang mencolok dengan pondok-pondok pesantren zaman sekarang, baik dari mata pelajaran yang dipelajari maupun dari tradisi-tradisi yang dilakukan. Bila melihat pondok pesantren yang terdahulu yang memiliki ciri khas dalam mengkaji kitab-kitab yang dikarang oleh para kiyai mereka baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Melayu. Pergeseran yang kita rasakan saat ini tentunya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dimana pondok pesantren itu berada.
Terlepas dari berbedaan yang ada di dalam pondok pesantren baik tempo dulu maupun pondok pesantren saat ini, tentunya yang menjadi perhatian kita adalah maanfaat dari keberaan madrasah atau pondok pesantren tersebut yang mana dengan adanya pondok pesantren atau madrasah di sekeliling kita menunjukkan bahwa pendidikan Islam di Indonesia tidak bisa dikalahkan dengan pendidikan-pendidikan umum yang sudah menjamur seiring dengan perkembangan zaman dan majunya teknologi. Dengan adanya buku sejarah yang membahasa tentang perkembangan pendidikan Islam di Indonesia memberikan dampak yang sangat positif bagi kita, sehingga kita bisa mengenal lebih jauh tentang keberadaan madrasah atau pondok pesantren dalam menyebarkan pendidikan Islam di Indonesia.

[1]Amin Haedari, “Mengembangkan Pendidikan Pesantren Berbasis Tradisi”, Jurnal Pondok Pesantren Mihrab Edisi II Tahun IV (Departemen Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren dan CV. Kawula Muda Jakarta, 2006), 46.
[2]Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat Pantulan Sejarah Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1987), 110.
[3] Jamaluddin, Asia Tenggara Masa Modern Awal : Book Review, 1-2.
[4]Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993),  35. Bukti yang jelas mengenai kecenderungan mistis dalam Islam di Indonesia telah memberi kesan bahwa kaum sufi yang menjadi agen utama Islamisasi. A. H. Johns adalah pendukung utama argumen ini. Ia menjelaskan bahwa Islamisasi di Indonesia bersamaan waktunya dengan periode ketika sufisme mulai mendominasi dunia Islam. Lihat juga M. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (Jakarta: Serambi, 2005),  46.
[5]M. Ibad El-Munim, “Daurah Ulama dan Penguatan Peran Pesantren”, Bina Pesantren Edisi 1, Tahun I ( Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren dan CV. Harisma Jaya Jakarta, 2006),  48.
[6]Amin Haedari dan M. Ishom El-Saha, Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah Diniyah  (Jakarta: Diva Pustaka, 2004),  2.  Lihat juga H.M. Sulthon dan Moh. Khusnuridlo, Manajemen Pondok Pesantren dalam Perspektif Global (Yogyakarta: Laksbang, 2006),  6.
[7]Marwati Djoened Poeponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia III (Jakarta: Balai Pustaka, 1993),  192.
[8]Sulthon dan Khusnuridlo..., 14.
[9]Em Nadjib Hassan, et al., Profil Pesantren Kudus (Kudus: Cermin, 2005),  2.
[10]Menara (Masjid dan Menara Kudus) merupakan salah satu warisan peninggalan dari Sunan Kudus. Komunitas Menara menunjuk pada sebuah daerah yang masih termasuk wilayah Kudus Kulon (sebelah barat Kali Gelis), yang banyak berdiri pesantren. Pesantren-pesantren tersebut banyak terdapat di sekitar Masjid dan Menara Kudus.
[11]Di daerah Jekulo terdapat 16 Pesantren, di Undaan terdapat 10 pesantren, dan di Gebog berdiri 10 pesantren. Fakta-fakta ini menunjukkan persebaran pesantren di Kabupaten Kudus sudah mulai merata. Lihat Em Nadjib Hassan…, 50-57.
[12]Poesponegoro dan Notosusanto, Ibid.,
[13]Ibid.,  3.
[14]Suara Merdeka, 24 Oktober 2005.
[15]Ibid.,  105.
[16]Amin Haedari, kata pengantar dalam Direktori Pesantren (Jakarta: Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia, 2007),  iii.
[17]Pemerintah Republik Indonesia, Undang-Undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) 2003, (Jakarta: Sinar Grafika, 2003),  10 dan 16.
[18]Fatah Syukur, “Sistem Nilai dalam Budaya Organisasi di Pesantren”, Forum Tarbiyah Jurnal Pendidikan Islam STAIN Pekalongan Vol. 2, No. 2 (Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan, 2004),  152-153.
[19]S. Huda, “Wajar Dikdas di Pesantren Salafiyah”. Rindang No. 11 Tahun XXX Juni (Semarang: Departemen Agama Propinsi Jawa Tengah, 2006),  9.
[20]Departemen Agama Kabupaten Kudus, Lima (5) Profil Pondok Pesantren  Di Kudus (Departemen Agama Kabupaten Kudus, 2008),  21-22. 
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini: