Sabtu, 14 Juni 2014

Studi Tentang Pengaruh Perhatian Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa SMP Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
            Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan seseorang dalam peranannya dimasa yang akan datang.
            Pendidikan yang terjadi melalui interaksi insani, tanpa batasan ruang dan waktu. Pendidikan tidak dimulai atau diakhiri disekolah. Pendidikan dimulai dilingkungan keluarga, dilanjutkan dan tempat dalam lingkungan sekolah diperkaya dalam lingkungan masyarakat dan hasil-hasilnya digunakan dalam membangun kehidupan pribadi, agama, masyarakat, keluarga dan negara.
            Adalah suatu kenyataan bahwa pemerintah bukanlah satu-satunya lembaga yang bertanggungjawab didalam pelaksanaan di Indonesia, akan tetapi pendidikan juga merupakan tanggung jawab semua warga negara Indonesia termasuk didalamnya keluarga.
            Ditinjau dari lokasi waktu, manusia berkembang pada masing-masing tahap dan pertumbuhannya, lingkungan keluarga menempati urutan pertama dan utama bagi manusia dalam menerima pengaruh pendidikan, kemudian dari lingkungan sekolah dan akhirat dari lingkungan masyarakat.
            Ketiga pranata pendidikan ini dalam mekanisme saling menyambung dalam kajian yang erat dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
            Ketiga pranata pendidikan ini dalam mekanisme saling menyambung dalam kajian yang erat dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
            Ada suatu anggapan dikalangan sementara orang tua bahwa pendidikan anak telah menjadi tanggung jawab sekolah atau guru, setelah anak tersebut diserahkan pada lembaga sekolah dan orang tua merasa tidak perlu lagi memberi dorongan, bimbingan dan pembinaan anak.
            Anggapan tersebut tentu saja tidak sesuai dengan ajaran Islam yang telah memberikan penekanan pada umatnya bahwa orang tua merupakan penanggung jawab utama dan utama terhadap pendidikan anaknya.
            Sebagai Firman Allah SWT yang     artinya    : “Hai orang-orang yang beriman, peliaharalah dirimu dan keluargamu dari apa neraka” (QS. At-Tahrin : 6)
            Dalam hadist Rasulullah bersabda  yang artinya    :“Tidaklah anak yang dilahirkan itu membaca fitrah, amka kepada orang tualah yang menjadikan anak itu seorang Yahudi, Nasrani maupun Majusi” (HR. Muslim)
            Dari ayat dan hadits tersebut, nampaknya dengan jelas bahwa orang tua mempunyai tanggung jawab penuh terhadap anaknya, yang merupakan tanggung jawab pertama dan utama yang dapat memberikan corak pada pribadinya dimasa mendatang.
            Dewasa ini terjadi peregeseran nilai dan fungsi dari orang terhadap anak, dimana tuntutan untuk pemenuhan kebutuhan hidup/ekonomi harus dipenuhi dengan cara kerja keras apalagi disaat krisis moneter ini dipihak lain, karena kesibukan dan kurang mengerti terhadap peranannya sebagai orang tua menyebabkan perhatian terhadap anaknya berkurang, sehingga anak tidak terkontrol dan cenderung sesukanya dalam belajar, akibatnya menurunlah prestasi belajarnya.
            Selanjutnya dalam proses belajar, setiap orang tua tentunya tidak lepas dari suatu permasalahan. Walaupun anak pada usia sekolah lanjutan sudah mampu mandiri dan mencoba menyelesaikan masalahnya, tidak menutup kemungkinan tidak semua masalah bisa diatas sendiri. Pengaruh dari luar seperti pergaulan teman, tayangan TV dan lainnya merupakan faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar di sekolah.
            Dalam setiap perbuatan manusia untuk mencapai tujuan, selalu diikuti oleh pengukuran dan penelitian demikian pula halnya di dalam proses belajar.
            Dengan mengetahui prestasi belajar anak, kita dapat mengetahui kedudukan anak di dalam kelas, apakah anak termasuk kelompok anak pandai, sedang atau kurang.
            Jadi boleh dikatakan bahwa keikutsertaan orang tua didalam kegiatan belajar anak sangatlah berpengaruh terhadap prestasi belajar anak.
            Melihat fenomena yang demikian, penulis terdorong untuk mengkaji tentang “Pengaruh perhatian Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam”.

B.    Rumusan Masalah
            Permasalahan pokok yang dicari permasalahannya dalam karya tulis ini adalah :
    1.    Adakah pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi belajar pendidikan Agama Islam siswa SMP Negeri
    2.    Sejauhmana pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi belajar pendidikan agama Islam SMP Negeri

C.    Tujuan Penelitian
    1.    Untuk mengetahui adakah perhatian orang tua terhadap prestasi belajar pendidikan agama Islam siswa SMP Negeri
    2.    Untuk mengetahui sejauhmana pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi belajar pendidikan Agama Islam siswa SMP Negeri
  
D.    Hipotesis Penelitian
            Hipotesis adalah rumusan jawaban sementara terhadap sesuatu masalah yang dimaksudkan sebagai tuntutan sementara dalam penyelidikan untuk mencari jawaban yang sebenarnya. Sutrisno Hadi, hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar, atau mungkin juga salah, dia akan ditolak jika salah satu palsu dan akan diterima fakta-fakta membenarkannya (Sutrisno Hadi,1989;63).
    Adapun hipotesa yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah :
    1.    Hipotesa Alternatif (HA)  
        “Ada pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi belajar PAI siswa SMP Negeri
    2.    Hipotesa Nihil
        “Tidak ada pengaruh perhatian orang tua pada prestasi belajar PAI siswa SMP Negeri

E.    Asumsi
            Asumsi adalah anggapan dasar yang dianggap benar dan tidak perlu dibuktikan lagi. Dalam penelitian asumsi ini penting dikemukakan, sehingga setiap penelitian harus dirumuskannya.
            Dalam penelitian ini, penulis kemukakan beberapa asumsi antara lain :
    1.    Perhatian orang tua sangat berperan yang dapat menunjang dan membantu peningkatan prestasi belajar pendidikan Agama Islam (selanjutnya hanya disebut PAI) anak di sekolah
    2.    Anak akan mendapat prestasi yang baik bila dibimbing dengan baik pula

F.    Kegunaan Hasil Penelitian
    1.    Bagi penulis, melatih diri dalam membuat karya tulis ilmiah, terutama dalam kegiatan penelitian kependidikan
    2.    Bagi orang tua, untuk membangkitkan semangat orang tua terhadap pentingnya pengaruh mereka dalam segala bentuk dalam lingkungan keluarga jika ingin prestasi belajar anaknya lebih baik
    3.    Semangat bahan masukan bagi lembaga pendidikan format khususnya di SMP Negeri  demi peningkatan mutu atau kualitas siswa

G.    Batasan Istilah
            Agar masalah jelas dan terhindar dari kesalahan dalam menafsirkan istilah-istilah yang ditemukan, maka perlu perumusan definisi operasionalnya.
            Dalam penelitian yang berjudul “Studi Tentang Pengaruh Perhatian Orang Tua Terhadap Prestasi Pelajar Pendidikan Agama Islam Siswa SMP Negeri
    1.    Pengaruh
        Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang benda) yang ikut membentuk watak, kepribadian, kepercayaan, atau perbuatan seseorang
        (Depdikbud: 272)
    2.    Perhatian
        Perhatian adalah pendayagunaan kesadaran untuk menyertai aktivitas yang diarahkan pada suatu obyek, baik dari dalam atua diluar dirinya (abu Ahmadi, 1991;145)
    3.    Orang Tua
        Adalah lingkungan keluarga yang meliputi : ayah, ibu atau orang dewasa dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan dan perkembangan pendidikan anak
    4.    Prestasi Belajar PAI (Pendidikan Agama Islam)
        Prestasi adalah hasil yang telah dicapai pada suatu saat. (Depdikbud). Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi lingkungannya (Slameto, 1995;2).
        PAI (Pendidikan Agama Islam) menurut Rahman Sholeh adalah segala usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak yang merupakan dan sesuai dengan ajaran Islam (Abu Ahmadi, 1991;111).
        Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa prestasi PAI adalah hasil yang dicapai dari suatu proses belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam.

H.    Sistimatik dan Pembahasan
        Untuk memudahkan dan memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai perhatian orang tua terhadap prestasi belajar pendidikan agama Islam siswa SMP Negeri Maka penulisan karya tulis ini dibagi menjadi lima bab dan setiap bab terdiri dari beberapa sub, sistimatika pembahasannya adalah :
BAB    I    :    Pendahuluan, meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis penelitian, asumsi, kegunaan hasil penelitian, batasan istilah, sistimatika
BAB II    :    Landasan teori, yang pokok pertamanya membahas perhatian tentang orang tua meliputi : pengertian perhatian orang tua, bentuk-bentuk perhatian orang tua dan faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian orang. Pokok kedua membahas tentang prestasi belajar PAI, meliputi pengertian prestasi belajar PAI, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar PAI, dan kegunaan prestasi belajar PAI. Pokok yang ketiga membahas tentang pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi belajar Agama Islam.
BAB III    :    Metodologi penelitian yang meliputi populasi dan sampel, variabel penelitian, metode pengumpulan data. Dan metode analisis data.
BAB IV    :    Laporan hasil penelitian yang meliputi penyajian data, analisa data dan pengujian hipotesis
BAB V    :    Kesimpulan dan Saran

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode060.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Studi Tentang Hubungan antara Tingkat Pendidikan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VII

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Belajar bahasa Indonesia bukan menghafal formula atau kaidah-kaidah bahasa dan makna kata, dan juga bukan belajar teori-teori penggunaan bahasa. Belajar bahasa adalah belajar menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi bahasa di masyarakat. Banyak orang yang dapat menggunakan bahasa dengan baik dan lancar baik tulis maupun lisan. Itulah model belajar bahasa yang dikembangkan dalam penulisan ini. Fokus pembelajaran bahasa ditekankan pada penggunaan bahasa yaitu menyimak, membaca, dan menulis secara kreatif.
Proses pembelajaran dalam sistem intruksional merupakan implikasi persiapan mengajar yang telah disusun oleh guru. Segala prestasi pembelajaran diupayakan sesuai dengan persiapan yang telah disusun. Meskipun demikian guru dalam pelaksanaannya dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Demikian juga yang terjadi dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia.  mempunyai karakteristik yang khas jika dibandingkan dengan mata pelajaran pelajaran yang lain. Kekhasan itu dipengaruhi oleh eksistensi Bahasa Indonesia yang merupakan pembelajaran yang membutuhkan pemahaman..
Apabila diperhatikan secara seksama dalam pembelajaran komponen guru, siswa, materi dan sarana  saling berhubungan dan saling mendukung. Pandangan Rivers terhadap penciptaan interaksi pembelajaran merupakan hal-hal dasar yang perlu ada dalam penyelenggaraan pembelajara. Guru perlu menciptakan situasi yang kondusif dan konstruktif.
Peran keluarga atau orang tua mempunyai kewajiban dan  tanggung jawab kepada anak-anaknya untuk memelihara, melindungi dan mendidiknya. Seberapa jauh tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya, Arfifin (1977: 74) mengemukakan bahwa pentingnya keluarga yang demkian itu  memandang  bahwa keluarga bukan hanya sebagai persekutuan hidup terkecil saja, tetapi lebih dari itu yakni sebagai lembaga hidup manusia yang dapat memberi kemungkinan celaka atau bahagia anggota keluarga tersebut di dunia dan di akherat.
Jadi jelaslah bahwa penanggung jawab pendidikan pada umumnya dan pendidikan khususnya adalah keluarga, masyarakat dan pemerintah. Dari ketiga unsur penanggung jawab ini, maka keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama atas suksesnya pendidikan berikutnya, karena di dalam keluarga anak-anak pertama-tama mendapatkan pendidikan.
Demikian juga pada lembaga pendidikan SMP Negeri pendidikan orang tua terdiri dari berbagai macam tingkat pendidikan ada yang perguruan tinggi, SMA/MAN, SMP/MTsN, dan ada yang SD/MI, kenyataan siswa-siswanya ada yang memiliki prestasi belajar yang baik dan ada prestasi belajarnya kurang.
Berangkat dari kenyataan di atas maka penulis ingin mengungkap studi tentang hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa mata pelajaran pelajaran Bahasa Indonesia.

B.    Penegasan Istilah Judul
Untuk menghindari agar tidak terjadi kekaburan atau salah pengertian dalam segi arti istilah-istilah yang terkandung dalam judul tersebut, dan agar sesuai dengan maksud sesungguhnya dalam tulisan ini, maka penulis merasa perlu untuk menjelaskan sebagai berikut:
1.    Studi: menurut Poerwodarminto dalam bukunya “Kamus Umum “” kata studi berarti: Pelajaran; penggunaan waktu dan pikiran untuk memperoleh pengetahuan misalnya ia akan melajutkan diluar negeri; penyeledikian misalnya sarjana asing itu tertarik untuk melakukan penelitian mengenai adat istiadat; dan kebudayaan di pulau itu. (Poerwodarminto, 1984: 965). Sedangkan penggunaan kata studi dalam karya tulis ini berarti penyelidikan tentang ada tidaknya hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar Bahasa Indonesia di SMP Negeri
2.    Hubungan : “suatu tehnik statistik yang kerapkali digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel adalah tehnik hubungan. Seorang penyelidik mungkin ingin menetapkan apakah ada hubungan antara tinggi badan dengan kecerdasan”. (Sutrisno Hadi, 1984: 285). Adapun yang penulis maksud “hubungan” dalam judul tersebut adalah ingin mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar mata pelajaran pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 
3.    Latar belakang tingkat pendidikan orang tua adalah: suatu jenjang pendidikan formal yang terakhir ditempuh oleh orang tua siswa. Misalnya: SD/MI, SMP/MTsN, SMA/MA, dan Perguruan Tinggi.
4.    Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai setelah mendapatkan pembelajaran  yangdiukur  melalui tes. (Porwodarminto, 1984: 26).
5.    SMP Negeri adalah suatu lembaga pendidikan formal yang dikelola oleh pemerintah dan merupakan pendidikan dasar 9 tahun yang berada di wilayah Kota Surabaya, oleh penulis dijadikan obyek penelitian.

C.    Perumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka masalah yang perlu dibahas dalam penelitian ini adalah:
1.    Apakah ada  hubungan  tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP Negeri  ?.
2.     Sejauhmana hubungan tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP Negeri ?.

D.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.    Tujuan Penelitian
         Sejalan dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan pada pembahasan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut:
a. Ingin mengetahui secara jelas tingkat pendidikan orang tua siswa SMP Negeri
b. Ingin mengetahui secara jelas prestasi belajar siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Negeri
c Ingin mengetahui ada tidaknya hubungan antara tingkat pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Negeri
2.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Sebagai sumbangan pemikiran yang diharapkan dapat berguna dan menunjang pengajaran Bahasa Indonesia  dan khususnya di SMP Negeri
b. Untuk melengkapi kepustakaan dan tambahan koleksi ilmu pengetahuan di SMP Negeri
c. Bagi guru dapat dijadikan pedoman untuk melaksanakan pendidikan

E.    Ruang Lingkup Penelitian
Karena luasnya aspek masalah atau bahasan yang terkait, maka prestasi penelitian difokuskan pada hal-hal yang relevan saja, yakni masalah-masalah yang diteliti tersebut ditentukan sebagai berikut:
1.    Tingkat pendidikan orang tua siswa kelas VII di SMP Negeri
2.    Prestasi belajar  Bahasa Indonesia siswa kelas VII di SMP Negeri
3.   Hubungan antara tingkat pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia  siwa kelas VII di SMP Negeri

F.    Hipotesis
          Berdasarkan latar belakang masalah dan masalah-masalah tersebut di atas dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
Ha :    Ada hubungan tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP Negeri 
Ho :    Tidak ada hubungan tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP Negeri

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode059.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Strategi Pembelajaran Diskusi Kelompok Kecil dan Klasikal terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SD Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
            Kita telah menyadari bahwa pendidikan tidak lagi dan memang tidak pernah bisa ditangani secara sentralistik. Sentralisasi identik dengan penyeragaman. Ketika penyeragaman terjadi, sesungguhnya sedang berlangsung proses pengebirian potensi kreatif pendidikan itu sendiri, karena itu perubahan paradigma dari sentralisasi ke desentralisasi merupakan suatu keharusan. Sekolah secara individu perlu diberi keleluasaan yang proposional dalam menjalankan proses pendidikan.  Tetapi tentunya tidak ingin bila yang terjadi justru berpindahnya virus sentralisasi tersebut dari pusat ke daerah yang akan menambah merosotnya kualitas pendidikan.
           Salah satu keprihatinan yang dilontarkan banyak kalangan mengenai penyelenggaraan sistem pendidikan di Indonesia adalah rendahnya kualitas Out Put yang dihasil kan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal. Menurut Indra Djatisidi (2001 : 3) masalah krusial yang dihadapi dalam pelaksannan sistem pendidikan nasional adalah belum adanya kesatuan pandangan tentang paradigma yang dianut dalam sistem pendidikan nasional, sehingga muncul suatu sinyalemen bahwa sistem pendidikan kita sedang berada pada persimpangan jalan. Hal ini berarti jika kita membelokkan arah system pendidikan kita ke jalan yang tepat, harapan dan tuntutan akan dapat dicapai dengan mudah. Sebaliknya, jika berbelok kearah yang salah, akan terjadi sebaliknya. Suyanto (2001: 17) berpendapat bahwa dari segi mutu pendidikan nasional kita masih jauh ketinggalan. Banyak indikator yang menunjukkan hal ini Secara eksternal rendahnya kualitas  lembaga pendidikan formal disebabkan oleh kebijakan sistem pendidikan yang sentralistik, sementara secara internal praktek pembelajaran masih menggunakan pendekatan – pendekatan yang tradisional dimana guru masih dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan sehingga hasil belajar belum ideal. Oleh karena itu, dalam membangun pendidikan masa depan, kita harus tetap berani merumuskan paradigma baru, formula baru, cara-cara baru, dan juga metode-metode baru (Suyanto, 2001: 9).                                                                                                                                
            Witkin dkk. (1977) mengemukakan bahwa konsep FI/FD merupakan suatu kemampuan seseorang untuk mampu melihat sesuatu bagian terlepas dari konteks tempat ia berada. Field Indenpendent (FI) adalah kemampuan seseorang yang mempunyai “pendekatan analitik” (analytical approach), sedangkan Field Dependent (FD) adalah kemampuan seseorang mempunyai “pendekatan global” (global approach). Pendekatan analitik adalah kemampuan untuk memandang informasi dan persepsi sebagai bagian yang terlepas dari konteks sekitarnya, sedangkan kemampuan pendekatan global adalah suatu kecenderungan lebih mudah dipengaruhi oleh konteks sekitarnya. Dengan ungkapan lain, kelompok gaya kognitif FD cenderung memandang masalah yang dihadapinya sebagai suatu keseluruhan yang membingungkan tanpa melihat komponen didalanya yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dengan lebih cepat. Sedangkan, kelompok gaya kognitif FI biasanya membutuhkan waktu yang lebih singkat guna memecahkan masalah seperti itu.
Field Indenpendent (FI) dan Field Dependent (FD) cenderung relatif tetap terhadap jenis strategi penyampaian pengajaran (visualisasi)  dan dapat mempengaruhi perolehan belajar.
      Indikasi mengenai rendahnya kualitas pembelajaran sebagaimana yang digambarkan diatas sangat terasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Pertama. Beberapa masalah umum  yang dijumpai dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, Misalnya : (1) bagaimana mengembangkan pengertian atau pemahaman tentang pengetahuan dalam diri siswa, serta (2) bagaimana memilih dan menggunakan strategi pembelajaran yang cocok dengan meteri yang akan diajarkan.
       Temuan penelitian menunjukkan bahwa masalah utama pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar yakni, terjadinya benturan antara pengetahuan dan pengalaman belajar yang dimiliki siswa sebelumnya dengan perubahan konseptual yang dipelajari atau yang diajarkan guru. Benturan tersebut, apabila lepas dari perhatian guru, besar kemungkinan akan menjadi kendala dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini siswa akan mengalami kesulitan memahami konsep – konsep dasar dan mengaplikasikan pengetahuan Bahasa Indonesia yang dipelajari. Disamping itu proses pembelajaran akan berlangsung tanpa mengikuti rule of learning karena mengabaikan pemberian kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan apa yang sedang dipelajarinya.
      Fenomena terjadi dalam proses belajar mengajar Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar sekarang ini semakin jauh dari perhatian dan pengamatan guru. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu adanya, pembelajaran Bahasa Indonesia yang memperhatikan sejumlah variabel seperti : kemampuan awal siswa, strategi pembelajaran pembelajaran yang mengacu pada ketrampilan memecahkan masalah dilingkungan belajar siswa yang kondusif bagi tumbuhnya minat belajar siswa secar optimal.
      Dari gambaran masalah-masalah yang diungkapkan diatas, terlihat pentingnya altermatif  pemecahan masalah atau diskusi pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Alternatif dimaksud yaitu sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman, keterampilan berfikir kritis dan kemampuan, mengaplikasikan teori dan konsep-konsep yang telah dipahami untuk memudahkan pemecahan masalah yang dihadapi.
      Kondisi pembelajaran yang sangat memprihatinkan pada gilirannya membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai kalangan, guna mencari alternatif pemecahan masalah yang tepat. Walupun  berbagai upaya telah dan sedang dilaksanakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia dengan pengadaan sarana dan prasarana, penyempurnaan kurikulum, penataran guru bidang study, pengadaan buku paket, pengadaan sanggar dan pemantapan kelompok kerja Guru (PKG), akan tetapi persoalan yang mendasar yaitu praktek pembelajaran belum juga teratasi karena masih berpegang pada praktek pembelajaran secara klasikal.
Guna menanggulangi permasalahan pembelajaran, para pakar teknologi pembelajaran menaruh perhatian pada upaya memperbaiki proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi dan memanipulasi variabel pembelajaran yang dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran.
      Menurut Reigeluth dalam Degeng (1989 : 14) pada hakekatnya hanya variabel metode pembelajaran yang berpeluang untuk dimanipulasi. Karena metode yang tepat dengan memperhatikan kondisi yang ada akan dapat meningkatkan hasil belajar. Senada Dengan Reigeluth, Degeng (2001 : 12) berpendapat bahwa saat ini diperlukan pengetahuan tentang jenis–jenis metode yang dapat membuat belajar menjadi mudah dan lebih menyenangkan bagi siswa, metode yang lebih efektif, efisien, dan memilikin daya tarik tinggi. Untuk memungkinkan siswa aktif dalam proses belajar, diperlukan kemampuan dan ketrampilan guru yang memadai dalam hal pengambilan keputusan yang tepat melalui penciptaan kondisi belajar yang relavan dengan tujuan yang hendak dicapai serta kondisi yang ada.
      Pembelajaran diskusi kelompok kecil adalah salah satu strategi pembelajaran untuk membuat siswa dapat berinteraksi atas siswa (Oemar Hamalik, 2001 : 117) model mengajar kelompok diatas lebih menekankan aktivitas belajar siswa secara bersama dalam kelompok sehingga mengembangkan hubungan sosial dalam pemecahan masalah belajar  (Nana Sudjana, 1989 : 86).
Wentzel  dalam Jamaluddin (2001 : 41) mengemukakan :
Bahwa  Respons siswa terhadap sekolah juga memiliki hubungan dengan status keanggotaan siswa dalam kelimpok mereka. Hubungan yang baik dengan sesama teman mempengaruhi performance akademik siswa, malalui stimulasi dan kondisi belajar yang inklusif yang mendorong siswa untuk bisa berkonsentrasi dan memberikan yang terbaik yang bisa dilakukan.

      Johnson dan Jonhson (1988 : 73 ) mengatakan bahwa cooperatif learning   adalah salah satu bentuk pembelajaran diskusi kelompok kecil dimana para siswa dapat belajar bekerja sama dalam menyelesaikan tugas, dan saling meyakinkan antar anggota kelompok dalam mempelajari meteri yang ditugaskan. Sehingga apa yang dilakukan siswa dapat berinteraksi satu dengan yang lainnya untuk memahami kebermaknaan isi pelajaran dan bekerjasama secara aktif dalam menyelesaikan tugas atau pelajaran.
      Secara operasional, penelitian ini akan menguji pengaruh metode dan kognitif pembelajaran terhadap hasil  pembelajaran Bahasa Indonesia. Metode pembelajaran pada penelitian ini mengacu pada strategi penyampaian dan strategi pengelolaan yang berbasis pada pembelajaran diskusi . Hasil  pembelajaran berupa hasil belajar atau ujuk kerja yang dapat memperlihatkan siswa dalam menyelesaikan soal-soal Bahasa Indonesia. Kondisi pembelajaran dalam menyelesaikan soal-soal Bahasa Indonesia.
      Semakin banyak siswa menggunakan waktu latihan dalam belajar Bahasa Indonesia, diprediksi akan semakin mampu memahami soal-soal dan cara penyelesaian yang tepat, sebaliknya ketiadaan waktu yang cukup akan menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan soal-soal Bahasa Indonesia yang dihadapai. Kesulitan ini semakin intens terjadi bila siswa hanya mengharapkan apa yang dijelaskan guru dalam kelas.
      Dipilihnya strategi pembelajaran duiskusil sebagai obyek eksperimen, karena secara konseptual strategi pembelajaran ini memiliki relevansi dengan karakteristik bidang studi Bahasa Indonesia yang lebih menekankan pada ketrampilan memecahkan masalah baik secara individual maupun kolaboratif.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dirumuskan sebagai berikut :
Apakah ada perbandingan hasil belajar bahasa Indonesia yang diajar dengan metode diskusi pada siswa yang bergaya kognitif field independent dan bergaya kognitif field dependent siswa kelas V SD Negeri ?”

C.    Tujuan Penelitian
Berpijak pada masalah yang akan diteliti, tujuan penelitian ini adalah :
“  Ingin mengetahui perbandingan hasil belajar bahasa Indonesia yang diajar dengan metode diskusi pada siswa yang bergaya kognitif field independent dan bergaya kognitif field dependent siswa kelas V SD Negeri

D.    Kegunaan Dan Manfaat Penelitian
1.    Kegunaan Penelitian
Mengungkapkan perbandingan pembelajaran diskusi siswa yang bergaya kognitif field independent dan bergaya kognitif field dependent siswa kelas V SD Negeri
2.    Manfaat Penelitian
Manfaat  penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
a. Guru-guru lebih memperhatikan faktor-faktor yang dapat meningkatkan hasil belajar.
b. Guru bidang studi Bahasa Indonesia agar menerapkan pembelajaran diskusi untuk meningkatkan hasil belajar.
c. Peneliti lain, sebagai landasan pijakan dalam melakukan penelitian lanjutan dengan melibatkan lebih lengkap komponen strategi-strategi pembelajaran, khususnya pembelajaran diskusi kelompok.

E.    Hipotesis
“ada perbandingan hasil belajar bahasa Indonesia yang diajar dengan metode diskusi pada siswa yang bergaya kognitif field independent dan bergaya kognitif field dependent siswa kelas V SD Negeri ”

F.    Asumsi Penelitian
Dalam penelitian ini dikemukakan  asumsi sebagai berikut: Strategi pembelajaran yang dirancang sesuai dengan kondisi dan karakteristik siswa dapat meningkatkan hasil belajar.

G.    Pembatasan Penelitian
Penelitian ini dibatasi pada tiga aspek sebagai berikut :
1.    Eksperimen terbatas pada Semester I, sesuai isi bidang studi dalam kurikulum Bahasa Indonesia.
2.    Strategi pembelajaran yang digunakan terbatas pada strategi pembelajaran diskusi kelompok.

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode058.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Perbedaan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas II SD Negeri yang Pembelajarannya Menggunakan Strategi PQ4R dengan Menggunakan Pembelajaran Klasikal

BAB  I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan prasarana pendidikan lainnya, dan peningkatan mutu manajemen pendidikan sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang merata. Demikian juga didalam pembelajaran bahasa Indonesia yang merupakan salah satu pengetahuan yang mempunyai peranan penting dalam melatih berpikir siswa. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat untuk mengembangkan ketajaman berpikir siswa yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya secara logis dan sistematis, kualitas pengajaran bahasa Indonesia belumlah sesuai dengan harapan. Menurut Kadarusman (dalam Setiawan, 1996: 18) dalam masyarakat berkembang isu kemampuan dan keterampilan bahasa Indonesia lulusan sekolah di Indonesia pada umumnya mengalami penurunan, terutama lulusan sekolah.
Menurut Hudoyo (1979), selain sebagai metode berpikir logis, bahasa Indonesia merupakan dasar dan pangkal tolak penemuan dan pengembangan ilmu-ilmu lain. Oleh karena itu dalam bidang pembelajaran penguasaan bidang bahasa Indonesia bagi siswa akan menjadi sarana yang ampuh dalam mempelajari ilmu-ilmu yang lain, baik pada jenjang pendidikan yang sama atau pada jenjang yang lebih tinggi. Dengan membiasakan diri  berpikir logis dan sistematis, siswa dapat mecermati praktek kehidupannya sehari-hari. Hal ini sebagaimana terjabar dalam tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yang meliputi usaha pembentukan kecerdasan, membantu perkembangan belajar dan pembentukan watak kepribadian siswa. Oleh karena itu usaha pembelajaran bahasa Indonesia di harapkan dapat mempersiapkan siswa untuk sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupannya dan didunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, cermat, jujur, kritis, efektif dan efisien.
Pada hakekatnya, pembelajaran bahasa Indonesia diberikan kepada siswa untuk mempertajam penalarannya, serta mengembangkan pemikiran yang logis dan sistematis bahkan dalam belajar bahasa Indonesia, siswa dapat mengembangkan pemikirannya dari kebiasaan berpikir secara konkrit menuju pemikiran yang abstrak dengan menggunakan pembuktian-pembuktian deduktif (The Liang Gie, 1984) dalam Hudoyo, 1990. Menurut Piaget (dalam Nasution, 2000) mengemukakan bahwa, proses berpikir manusia berkembang secara bertahap, dari berpikir konkrit ke abstrak melalui 4 periode. Keempat periode tersebut adalah (a) periode sensori motor (0-2 tahun), (b) periode pra operasional (2-7 tahun), (c) periode operasi konkrit (7-12 tahun), dan (d) periode operasi formal (11-12 tahun ke atas). Dari tahap perkembangan tersebut nampak bahwa pembelajaran bahasa Indonesia yang diberikan kepada siswa di Sekolah Menengah Pertama telah berada pada tingkat pemikiran operasi formal. Pada tahap ini disebut operasi hipotik-deduktif, artinya anak telah dapat memberikan alasan dengan menggunakan lebih banyak simbol atau gagasan dalam cara berpikirnya. Sementara ini dalam pembelajaran bahasa Indonesia banyak dilakukan secara klasikal karena dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas, guru mendominasi proses belajar mengajar dengan strategi klasikal, dan metode ceramah sebagai metode utama, siswa menerima materi pelajaran secara pasif, dan bahkan hanya menghafal rumus-rumus (Marpamy dalam Herawati, 2003).
Selain itu menurut  R. Soedjadi (dalam Herawati, 2003: 3) bahwa urutan sajian materi dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang biasa dilakukan selama ini adalah (1) diajarkan teori/definisi/teorema, (2) diberikan contoh-contoh, (3) diberikan soal latihan. Ini menandakan bahwa pembelajaran yang dilakukan menggunakan pendekatan strukturalistik sehingga siswa cenderung menerima dan menyalin teorema/definisi dan contoh-contoh yang diberikan guru. Untuk mengurangi ini maka dibuatlah terobosan yang dilakukan dalam upaya peningkatan sumber daya tenaga kependidikan, yaitu melalui pelatihan terintegrasi bagi guru, kepala sekolah dan staf dinas yang didasarkan kepada kompetensi yang harus mereka miliki. Menjawab pelatihan terintegrasi tersebut khususnya untuk guru telah dilaksanakan tes kompetensi yang dilakukan oleh Direktorat Pendidikan yang bertujuan untuk mengetahui kebutuhan guru kaitannya dengan kompetensi yang harus dimiliki. Sedangkan pengembangan materi juga telah dilaksanakan rintisan pengembangan materi pembelajaran dan pengajaran kooperatif. Pengembangan materi tersebut difokuskan dalam rangka perbaikan pembelajaran siswa yang merupakan inti dari kegiatan sekolah yang harus didukung oleh proses pengajaran yang berkualitas dengan guru-guru yang kompeten, keorganisasian sekolah yang dapat menfasilitasi keterlaksanaan belajar dan mengajar dimanapun juga, misalnya ruang kelas, sekolah, atau masyarakat, penyediaan sumber-sumber dorongan, masyarakat dapat membantu siswa dan pendidik menciptakan lingkungan belajar mengajar yang berkualitas.
Dalam pembelajaran PQ4R, strategi pembelajaran terbukti efektif dalam membantu siswa menghafal informasi dari bacaan (Meyer, Brandt, Bluth, 1980), Untuk melakukan priview dan mengajukan pertanyaan – pertanyaan sebelum proses pembuatan hubugan antara informasi baru dan apa yang diketahui. Membantu siswa mempelajari judul – judul dan topik-topik utama membantu pembaca sadar akan organisasi bahan – bahan baru tersebut, sehingga memudahkan perpindahannya dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Resitasi informasi dasar, khusunya bila disertai dengan  beberapa bentuk elaborasi, kemungkinan sekali akan memperkaya pengkodean. Robinson  (1961). Penelitian menunjukan metode PQ4R sangat efektif untuk siswa - siswa yang  lebih dewasa (Adams et. al.,1982). Prosedur PQ4R Berikut ini: Adalah memusatkan siswa pada pengorganisasian informasi bermakna dan melibatkan siswa pada strategi – strategi lain yang efektif, seperti pengajuan pertanyaan, elaborasi dan latihan terdistribusi kesempatan - kesempatan untuk meriviu informasi sepanjang periode waktu tertentu (Anderson, 1990)

B.    Rumusan Masalah  
Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis uraikan di atas, selanjutnya dapat diidentifikasikan rumusan masalah penelitian sebagai berikut :
Apakah ada perbedaan prestasi belajar bahasa Indonesia siswa kelas II SD Negeri yang pembelajarannya menggunakan strategi PQ4R dibanding menggunakan pembelajaran klasikal?”

C.    Tujuan Penelitian
Bertitik tolak dengan rumusan masalah yang akan diteliti, maka tujuan dalam penelitian ini penulis rumuskan sebagai berikut :
“Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar bahasa Indonesia siswa kelas II SD Negeri yang pembelajarannya menggunakan strategi PQ4R dibanding menggunakan pembelajaran klasikal.”

D.    Hipotesis
Ha :   Ada perbedaan prestasi belajar bahasa Indonesia siswa kelas II SD Negeri yang pembelajarannya menggunakan strategi PQ4R dibanding menggunakan pembelajaran klasikal.
Ho :    Tidak ada perbedaan prestasi belajar bahasa Indonesia siswa kelas II SD Negeri yang pembelajarannya menggunakan strategi PQ4R dibanding menggunakan pembelajaran klasikal.

E.    Kegunaan Penelitian
Penelitian ini dipandang perlu dilaksanakan yang hasilnya diharapkan dapat berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, lembaga pendidikan SD Negeri dan penulis.
1.    Kegunaan bagi pengembangan ilmu pengetahuan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data empiris yang akurat tentang  implementasi strategi pembelajaran PQ4R dan strategi pembelajaran klasikal untuk meningkatkan efektivitas dalam pembelajaran, dan pengaruhnya terhadap motivasi berprestasi dan prestasi belajar siswa SD Negeri dalam bidang studi Bahasa Indonesia .
2.    Kegunaan  bagi lembaga pendidikan SD Negeri
Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan wacana yang sangat bermanfaat khususnya bagi guru SD Negeri dalam melaksanakan kewenangannya untuk memilih, mempertimbangkan, dan pengambilan keputusan penggunaan metode pembelajaran yang efektifitas, sesuai dengan kondisi dan situasi, dapat memperluas pemikiran siswa, merangsang kreatifitas anak didik dalam bentuk ide, gagasan terobosan baru, belajar dengan kemampuan individual siswa maupun kerjasama.
3.    Kegunaan bagi penulis.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan  pengalaman nyata bagi penulis, yang juga sangat berguna sebagai piranti untuk selalu mengembangkan kompetensi program pengajaran bahsa Indonesia agar lebih bermakna dan selalu membawa kehidupan baru dalam pendidikan Bahasa Indonesia  di SD Negeri 

F.    Asumsi dan Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan asumsi sebagai berikut:
1.    Asumsi Penelitian
a. Pada waktu mengerjakan tes hasil belajar dan tes keterampilan strategi belajar PQ4R, siswa berusaha dengan sungguh-sungguh dan tidak bekerja sama.
b. Guru  yang  bertindak  sebagai  pengajar diasumsikan mempunyai pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang relatif sama  di dalam mengunakan strategi pembelajaran PQ4R dan Strategi Pembelajaran klasikal.
c. Lingkungan pembelajaran pada kelompok perlakuan (treatment) dan pada kelompok kontrol, baik lingkungan fisik seperti suhu udara, keadaan fisik ruangan kelas, dan lingkungan sosial seperti suasana hubungan antar siswa, juga diasumsikan relatif sama dengan pengendalian-pengendalian seperlunya.
2.   Keterbatasan Penelitian.
a. Subyek penelitian ini   pada  semester II tahun pelajaran
b. Penelitian terbatas pada SD Negeri

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode057.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Perbandingan Pembelajaran dengan Media VCD dan Gambar terhadap Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas 1 SMP Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang banyak, bervariasi, dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi. Dalam kondisi krisis ekonomi dunia  dan khususnya Indonesia dewasa ini, kemampuan berpikir dan bertindak secara ekonomis sangatlah diperlukan bagi para siswa agar dapat mengambil manfaat untuk kehidupan yang lebih baik.
Mata pelajaran ekonomi di SMP merupakan salah satu pelajaran wajib yang secara umum memiliki tujuan sebagai berikut:
1.    Membekali siswa sejumlah konsep ekonomi untuk mengetahui dan mengerti peristiwa dan masalah ekonomi dalam kehidupannya sehari-hari.
2.    Membekali siswa nilai-nilai etika ekonomi dan memiliki jiwa wirausaha
3.    Meningkatkan kemampuan berkompetisi dan bekerja sama dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun skala internasional.
4.    Membekali siswa sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi pada jenjang selanjutnya.
Era Globalisasi merupakan peluang sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia  dalam upaya meningkatkan kwalitas  Sumber daya Manusia (SDM) yang mampu bertanding dan bersanding dengan kwalitas serupa dengan bangsa lain. Arus Globalisasi dan Informasi telah mengalir keseluruh segi kehidupan dan membawa dampak bagi manusia yang sebelumnya tidak terduga.
Pada hakikatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses komunikasi. Proses komunikasi (proses penyampaian pesan) harus diciptakan dan diwujudkan melalui kegiatan penyampaian dan tukar menukar pesan atau informasi oleh setiap guru dan peserta didik.
Yang dimaksud pesan menurut Rohani (1997 ; 1) adalah : “Pengetahuan, keahlian skill, ide, pengalaman”. Melalui proses komunikasi, pesan dan informasi dapat diserap dan dihayati orang lain. Agar tidak terjadi kesesatan dalam proses komunikasi perlu digunakan sarana yang membantu proses komunikasi yang disebut media. Dalam proses belajar mengajar media yang digunakan untuk memperlancar komunikasi belajar adalah media / instruksional edukatif.
Guru yang mengharapkan proses dan hasil instruksional supaya efektif, efisien dan berkualitas, semestinya memperhatikan faktor media yang keberadaannya memiliki peranan yang sangat penting. Media edukatif memiliki nilai praktis dan fungsinya sangat besar bagi proses belajar mengajar.
Pemanfaatan media pembelajaran ekonomi dapat membantu siswa apabila menghadapi situasi belajar yang memerlukan pemahaman pada sejumlah alternatif prosedur (sederhana sampai kompleks) sehingga pembelajaran berjalan secara efisien dan praktis. Apabila pelajar belum dapat melakukan identifikasi, memilih, menetapkan dan pada akhirnya menerapkan sejumlah prosedur belum cukup memiliki pengetahuan alternatif prosedur (struktur kognitif) yang dapat dioperasikan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Sudjana  (1991; 2) mengatakan bahwa : “Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar”.
Hakekat tujuan pembelajaran Ekonomi tidak sekedar mengantarkan siswa untuk mampu berkomunikasi, tetapi juga mengarahkan pada pertumbuhan dan perkembangan anak secara utuh, disamping sebagai dasar-dasar ilmu pengetahuan ekonomi berfungsi sebagai ilmu pengetahuan untuk mengembangkan kemampuan dan sikap nasionalisme.
Menurut Gozali (1982 ; 85) mengatakan bahwa pemilihan media seyogyanya tidak terlepas dari konteknya, bahwasannya media merupakan komponen dari sistem instruksional secara keseluruhan. Karena itu meskipun tujuan dan isinya sudah diketahui, faktor-faktor lain seperti karakteristik siswa, strategi belajar mengajar, organisasi kelompok belajar, alokasi waktu dan sumber, serta prosedur penilaiannya juga perlu dipertimbangkan.
Penggunaan media pembelajaran apabila dilaksanakan dengan tepat dapat mempertinggi proses belajar siswa yang pada gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapai karena pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa, bahan lebih jelas, metode mengajar bervariasi dan siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar (Sudjana, 2001 ; 2).
Sedangkan (Sudjarwo, 1988; 169) mengemukakan bahwa media pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar, menimbulkan gairah belajar dan memungkinkan siswa untuk berinteraksi lebih langsung dengan kenyataan yang dimediakan.
Dalam program pembangunan nasional kita dewasa ini sektor pendidikan telah mendapat perhatian yang besar lagi dan program pembangunan pendidikan tidak lagi hanya menekankan pemerataan, melainkan bersama-sama ditekankan pada peningkatan mutu atau kualitas pendidikan itu sendiri (Darji, 1980 ; 73).

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian Latar Belakang Masalah, peneliti mencoba merumuskan pertanyaan yang akan dicari pembahasan dan pemecahannya, baik pembahasan menurut analisis data maupun teori-teori beberapa ahli yang menjadi acuan penelitian ini, yaitu :
Apakah ada perbedaan hasil belajar ekonomi dengan menggunakan media pembelajaran VCD dan pembelajaran media gambar siswa kelas 1 SMP Negeri ?"

C.    Hipotesis
Hipotesis merupakan prediksi mengenai kemungkinan hasil dari suatu penelitian (Yatim, 2001 ; 16).
Ada perbedaan hasil belajar ekonomi dengan menggunakan media pembelajaran VCD dan pembelajaran media gambar siswa kelas 1 SMP Negeri

D.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan Masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah : “Ingin mengetahui perbedaan hasil belajar ekonomi dengan menggunakan media pembelajaran VCD dan pembelajaran media gambar siswa kelas 1 SMP Negeri”

E.    Asumsi Penelitian
Dalam penelitian ini dikemukakan beberapa asumsi sebagai berikut :
1.    Strategi pembelajaran yang dirancang sesuai dengan kondisi dan karakteristik siswa dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2.    Media pembelajaran yang tepat efektif akan meningkatkan hasil belajar siswa.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              
F.    Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan berbagai pihak antara lain :
1.  Hasil penelitian sebagai bahan masukan para guru dalam menggunakan media pengajaran
2. Hasil penelitian sebagai bahan kebijakan pendidikan dilingkungan pendidikan sebagai sumbangan pemikiran dalam membina dan mengembangkan media yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Hasil penelitian ini sebagai bahan referensi penelitian berikutnya yang berhubungan dengan penggunaan media pembelajaran.

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode056.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Perbandingan Hasil Belajar Siswa dlm Pembuatan Puisi yang Dilakukan di dalam Kelas Melalui Imajinasi dengan di Luar Kelas Melalui Pembelajaran langsung Siswa Kelas III SMP Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan prasarana pendidikan lainnya, dan peningkatan mutu manajemen pendidikan sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang merata.
Menurut Piaget (dalam Nasution, 2000) mengemukakan bahwa, proses berpikir manusia berkembang secara bertahap, dari berpikir konkrit ke abstrak melalui 4 periode. Keempat periode tersebut adalah (a) periode sensori motor (0-2 tahun), (b) periode pra operasional (2-7 tahun), (c) periode operasi konkrit (7-12 tahun), dan (d) periode operasi formal (11-12 tahun ke atas). Dari tahap perkembangan tersebut nampak bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia yang diberikan kepada siswa di Sekolah Menengah Pertama telah berada pada tingkat pemikiran operasi formal.
Tilaar yang dikutip Mulyasa (2002: 20) mengemukakan bahwa: Pendidikan nasional dewasa ini sedang dihadapkan pada empat krisis pokok, yang berkaitan dengan kuantitas, relevansi atau efisiensi eksternal, elitisme, dan manajemen. Lebih lanjut dikemukakan bahwa sedikitnya ada tujuh masalah pokok sistem pendidikan nasional: (1) menurunnya akhlak dan moral peserta didik, (2) pemerataan kesempatan belajar, (3) masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan, (4) status kelembagaan, (5) manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan nasional, dan (6) sumber daya yang belum profesional.
Para pendidik menyadari bahwa Bahasa Indonesia bukanlah termasuk bidang studi yang mudah bagi kebanyakan siswa. Bahasa Indonesia sering di keluhkan sebagai bidang studi yang sulit dan membosankan. Menurut Soedjadi (1991: 5) bahwa Faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan di antaranya adalah: (1) masukan / input; (2) masukan instrumen; dan (3) lingkungan. Selanjutnya dikatakan bahwa masukan instrumen yang meliputi pendidikan, sarana, dan kurikulum dalam arti luas serta evaluasi hasil belajar, dipandang sebagai faktor dominan yang memiliki pengaruh besar. Dalam meningkatkan mutu pendidikan hanya mungkin dicapai dengan meningkatkan mutu proses pendidikan yang didalamnya terdapat interaksi antara siswa, guru, sarana, kurikulum, evaluasi dan lingkungan. Dari beberapa faktor tersebut dapat bersama-sama atau sendiri-sendiri mempengaruhinya. Artinya hasil belajar yang rendah tidak hanya dipengaruhi oleh salah satu faktor saja.
Menurut Soedjadi (1992) bahwa bukan sesuatu yang mustahil rendahnya hasil belajar dikarenakan materi kurikulum yang terlalu berat, metode pembelajaran yang tidak tepat, sarana pembelajaran yang tidak mendukung, atau lingkungan sekolah yang tidak memungkinkan proses pembelajaran berjalan normal. Misalnya, perpustakaan sederhana, dan sarana laboratorium yang dimiliki kurang memadai.    Akibat keterbatasan-keterbatasan tersebut sebagian besar pembelajaran dilaksanakan secara tradisional/konvensional, sehingga dalam waktu relatif singkat dapat menyajikan dan menyelesaikan bahan ajar yang cukup banyak melalui ceramah. Hal ini menyebabkan pelajaran Bahasa Indonesia termasuk pelajaran yang kurang diminati siswa.
Berdasarkan kenyataan di lapangan tersebut, salah satu cara untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa perlu suatu strategi atau pemilihan model pembelajaran yang tepat. Menurut Carin (1993: 82) yang dikutip oleh Kuswardi mengemukakan pembelajaran langsung secara sistematis menuntun dan membantu siswa untuk melalui tahap-tahap pembelajaran tertentu, yang bermaksud untuk melihat hasil belajar dari masing masing tahap.  Pembelajaran langsung adalah salah satu model pembelajaran yang memusat pada  guru dan disajikan melalui 5 tahap, yaitu (1) menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa; (2) mendemonstrasikan pengetahuan; (3) pemberian pelatihan terbimbing; (4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik; dan (5) memberikan perluasan latihan mandiri. Pembelajaran langsung secara sistematis menuntun dan membantu  siswa melalui langkah-langkah atau tahapan-tahapan tertentu, dan selanjutnya siswa akan aktif bekerja sendiri dengan adanya kegiatan latihan terbimbing dan latihan mandiri. Ini berarti siswa akan mendapat informasi yang jelas dalam mempelajari suatu materi pelajaran.

B.    Rumusan Masalah
        Dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “adakah perbandingan hasil belajar siswa dalam pembuatan puisi yang dilakukan di dalam kelas melalui imajinasi dengan di luar kelas melalui pembelajaran langsung?”

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan ini adalah : “untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa dalam pembuatan puisi yang dilakukan di dalam kelas melalui imajinasi dengan di luar kelas melalui pembelajaran langsung

D.    Batasan Istilah Penelitian
Model  pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.
Pembelajaran langsung adalah suatu pembelajaran yang bertumpu pada prinsip prilaku dan teori belajar sosial yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola bertahap, selangkah demi selangkah.
Hasil Belajar Siswa adalah tingkat pencapaian belajar, yang diukur dari skor yang diperoleh berdasarkan tes hasil belajar  kognitif dan psikomotor setelah mengikuti pembelajaran.

E.  Manfaat Penelitian
1. Dapat memberikan informasi kepada guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri tentang keefektifan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menerapkan pembelajaran langsung dengan penilaian autentik assesment.
2. Dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri dalam menentukan alternatif pembelajaran Bahasa Indonesia dengan penilaian autentik assesment

F.   Hipotesis
             Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
Ha :     Ada perbandingan hasil belajar siswa dalam pembuatan puisi yang dilakukan di dalam kelas melalui imajinasi dengan di luar kelas melalui pembelajaran langsung
Ho :     Tidak ada perbandingan hasil belajar siswa dalam pembuatan puisi yang dilakukan di dalam kelas melalui imajinasi dengan di luar kelas melalui pembelajaran langsung

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode055.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Peningkatan Prestasi Belajar Matematika dengan Pemberian Tugas Siswa Kelas IX

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dari sekian banyak bidang studi yang diberikan pada peserta didik, ternyata sesuai dengan data yang diperoleh nilai rata-rata bidang studi matematika berada dibawah bidang studi lainnya. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan belajar siswa, salah satunya adalah kualitas pengajaran termasuk dalam hal ini adalah kualitas pengajaran matematika.
Seperti yang disampaikan Radikun (1989: 18) pada umumnya masyarakat menilai, bahwa kualitas pengajaran matematika rendah, kegiatan pengajaran kurang efektif, kurang efisien dan kurang membangkitkan siswa untuk belajar. Didasarkan pada pernyataan di atas tentunya terjadi pada siswa SMP bahwa rendahnya hasil belajar metematika disebabkan karena kualitas pengajaran matematika  masih rendah. Oleh karena itu untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, penggunaan metode hendaknya disesuaikan dengan pokok bahasan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran salah satunya adalah memberikan tugas terhadap siswa dengan maksimal, menyadari akan tuntutan jaman dan memperhatikan pula bahwa perbaikan mutu pendidikan di Indonesia ini sangat perlu penyempurnaan, baik sarana maupun teknis pembelajaran termasuk di dalamnya adalah metode pembelajaran. Karena metode adalah merupakan cara sistematis yang digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pengajaran bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan adanya kemampuan guru yang dimiliki tentang dasar-dasar mengajar yang baik (Subroto, 1997: 18). Proses belajar mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu (Usman, 1990: 19).
Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlansung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran. Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan pengelolaan proses belajar mengajar adalah kesanggupan atau kecakapan para guru dan siswa yang mencakup segi kognitif, afektif dan psikomotor, sebagai upaya mempelajari sesuatu berdasarkan perencanaan sampai dengan tahap evaluasi dan tindak lanjut agar tercapai tujuan pengajaran. Proses Belajar Menganjar merupakan inti dari Pendidikan Formal dengan guru-guru sebagai pemegang peranan utama. Dalam proses Belajar Mengajar sebagian besar hasil belajar siswa ditentukan oleh peranan guru.
Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan mampu mengelola proses belajar mengajar, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal (Usman, 1990: 19). Dengan demikian apabila metode mangajar dilakukan dengan tepat serta dibawakan dengan baik, maka sudah barang tentu tujuan pembelajaran yang telah direncanakan akan dapat tercapai dengan baik. Guru akan dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik apabila menguasai dan mampu mengajar didepan kelas dengan menggunakan metode yang sesuai dengan pelajaran yang dibawakan atau disampaikan. Diantara sekian banyak metode yang dapat diterapkan untuk membawa siswa memahami pelajaran yang sedang disampaikan dan menuju perolehan prestasi belajar yang baik adalah metode pemberian tugas atau Resitasi.
Dalam kegiatan belajar mengajar guru kadang kurang memperhatikan situasi kelas, kemampuan siswa baik secara individu maupun kelompok. Kebiasaan dalam menggunakan metode ceramah saja sehingga lupa waktu, dalam satu pertemuan hanya dihabiskan untuk ceramah saja. Tugas terlupakan baik individu atau kelompok. Terdapat dua istilah yang sering ditukar pakaikan di dalam membahas metode pemberian tugas, yaitu assessment dan recitation. Namun demikian kedua istilah tersebut tidak sama. Mudjiono (1993: 67) memberi pengertian tentang metode pemberian tugas adalah suatu format interaksi belajar mengajar yang ditandai adanya satu atau lebih tugas yang diberikan oleh guru, dimana penyelesaian tugas tersebut dapat dilakukan secara perseorangan atau secara kelompok sesuai dengan perintahnya. Dimasa lalu tugas (assessment) sering disamakan dungeon pekerjaan rumah (PR).
Para pengajar sekarang memandang tugas sebagai suatu pekerjaan yang harus dilakukan dengan baik di rumah maupun di kelas. Tugas (assessment) merupakan suatu pekerjaan, yang diberikan kepada individu atau kepada kelas.  Resitasi (recitation) sebagai suatu tindakan mengulang dari ingatan, suatu hafalan pelajaran. Tekanan yang diberikan pada resitasi adalah hafalan atau latihan.  Resitasi merupakan penyajian kembali atau penimbulan kembali apa-apa yang diingat, diketahui atau dipelajari, selanjutnya penulis lain belakangan ini menyamakan metode pemberian tugas belajar dengan resitasi sebagai cara penyajian bahan pelajaran dengan menugaskan pelajar-pelajar mempelajari sesuatu yang kemudian  harus dipertanggung jawabkan.
Tugas yang diberikan oleh guru dapat memperdalam bahan pelajaran, dapat pula mengembangkan bahan yang telah dipelajari, dapat pula mengecek bahan yang telah dipelajari.  Tugas dalam artian assessment dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang harus dilakukan oleh peserta didik, yang diberikan oleh pengajarnya, untuk mencapai tujuan pengajaran. Hasil tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada pengajar. Penyelesaian tugas ini tidak terikat dengan tempat, bisa di kelas, bisa di laboratorium, di perpustakaan ataupun di rumah. Meskipun metode pemberian tugas memiliki kebaikan-kebaikan tersebut. Metode ini juga memiliki kelemahan. Di antaranya adalah: (1) seringkali siswa melakukan penipuan dimana dia hanya meniru atau menyalin tanpa mengalami peristiwa belajar, (2) ada kalanya tugas itu dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan, (3) apabila tugas terlalu sering diberikan. Apalagi bila tugas-tugas itu sukar dilaksanakan oleh siswa, ketenangan mental mereka dapat terpengaruh, dan (4) sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual. (Surakhmad, 1991: 105).
Menyadari akan kelemahan-kelemahan tersebut, maka setepatnya digunakan cara-cara yang dapat mengawasi proses penyelesaian tugas oleh  siswa. Dengan demikian akan benar-benar terjadi proses belajar di dalam diri siswa, dalam menggunakan metode pemberian tugas adalah dengan meminta mereka mengerjakan di kelas dengan pengawasan.
Penggunaan metode Pemberian tugas terhadap siswa akan dapat terbiasa untuk mengisi waktu luangnya dengan mengerjakan tugas yang diterima di sekolah yang diberikan oleh guru. Penyampaian isi dan pengelolaan pembelajaran dan metode sebagai salah satu  upaya untuk meningkatkan kualitas pengajaran pada gilirannya untuk mencapai hasil belajar sesuai yang diharapkan, tidak dapat lepas dari kondisi pengajaran, salah satunya yakni karakteristik si belajar (Degeng, 1989: 87). Dalam hal ini peneliti memperhatikan karakteristik si belajar pada gaya kognitif siswa. Gaya kognitif dipilah menjadi dua tingkatan yaitu gaya kognitif field independent (FI) dan gaya kognitif field dependent (FD).
Seseorang dikatakan memiliki gaya kognitif field dependent (FD), apabila ia mendapat kesulitan dalam mencari sesuatu gambar sederhana yang tersembunyi. Sebaliknya sesorang dikatakan memilki gaya kognitif field independent (F1) apabila ia dengan mudah dapat mengatasi pengaruh pola kompleks dalam gambar sederhana yang tersembunyi di dalamnya (Written dkk, 1990: 7). Begitu juga Usman (1994: 29) memberi penekanan tentang domain kognitif mencakup tujuan yang berhubungan dengan ingatan (recall), pengetahuan, dan kemampuan intelektual. Sehubungan dengan itu maka perlu diadakan penelitian lebih lanjut apakah benar penggunaan metode pemberian tugas dan gaya kognitif berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, khususnya untuk mata pelajaran Matematika. Hal ini juga dimaksudkan agar penggunaan metode pembelajaran Matematika tidak monoton menggunakan satu metode saja yaitu ceramah, tetapi juga dengan pemberian tugas.

B.    Rumusan Masalah
Apakah ada peningkatan prestasi belajar matematika dengan pemberian tugas kelompok siswa Kelas IX SMP Negeri?

C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mencari bukti empirik tentang hubungan pemberian tugas dan gaya kognitif terhadap hasil belajar siswa untuk :
Mengetahui peningkatan prestasi belajar matematika dengan pemberian tugas kelompok siswa Kelas IX SMP Negeri 

D.    Manfaat Penelitian
1.    Untuk memberikan sumbangan kepada para guru terhadap penggunaan metode pemberian tugas dalam proses pembelajaran utama pada pelajaran Matematika siswa Kelas IX SMP Negeri
2.    Sebagai masukan bagi para guru, guna peningkatan mutu pembelajaran dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan siswa V SMP Negeri
3.    Untuk memberikan motivasi kepada para siswa agar dapat terlatih mengikuti pelajaran dengan menggunakan metode pemberian tugas.
4.    Bagi peneliti, temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam pengekfetifan metode pembiarian tugas dalam pembelajaran Matematika siswa Kelas IX SMP Negeri

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode054.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini: