Minggu, 16 Februari 2014

Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Daerah Kompetensi Dasar Tembang Gambuh dengan Pembelajaran Langsung Siswa Kelas VIII

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan prasarana pendidikan lainnya, dan peningkatan mutu manajemen pendidikan sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang merata.
Menurut Piaget (dalam Nasution, 2000) mengemukakan bahwa, proses berpikir manusia berkembang secara bertahap, dari berpikir konkrit ke abstrak melalui 4 periode. Keempat periode tersebut adalah (a) periode sensori motor (0-2 tahun), (b) periode pra operasional (2-7 tahun), (c) periode operasi konkrit (7-12 tahun), dan (d) periode operasi formal (11-12 tahun ke atas). Dari tahap perkembangan tersebut nampak bahwa pembelajaran Bahasa daerah yang diberikan kepada siswa di Sekolah Menengah Pertama telah berada pada tingkat pemikiran operasi formal.
Tilaar yang dikutip Mulyasa (2002: 20) mengemukakan bahwa: Pendidikan nasional dewasa ini sedang dihadapkan pada empat krisis pokok, yang berkaitan dengan kuantitas, relevansi atau efisiensi eksternal, elitisme, dan manajemen. Lebih lanjut dikemukakan bahwa sedikitnya ada tujuh masalah pokok sistem pendidikan nasional: (1) menurunnya akhlak dan moral peserta didik, (2) pemerataan kesempatan belajar, (3) masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan, (4) status kelembagaan, (5) manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan nasional, dan (6) sumber daya yang belum profesional.
Para pendidik menyadari bahwa bahasa daerah bukanlah termasuk bidang studi yang mudah bagi kebanyakan siswa. bahasa daerah sering di keluhkan sebagai bidang studi yang sulit dan membosankan. Menurut Soedjadi (1991: 5) bahwa Faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan di antaranya adalah: (1) masukan / input; (2) masukan instrumen; dan (3) lingkungan. Selanjutnya dikatakan bahwa masukan instrumen yang meliputi pendidikan, sarana, dan kurikulum dalam arti luas serta evaluasi hasil belajar, dipandang sebagai faktor dominan yang memiliki pengaruh besar. Dalam meningkatkan mutu pendidikan hanya mungkin dicapai dengan meningkatkan mutu proses pendidikan yang didalamnya terdapat interaksi antara siswa, guru, sarana, kurikulum, evaluasi dan lingkungan. Dari beberapa faktor tersebut dapat bersama-sama atau sendiri-sendiri mempengaruhinya. Artinya hasil belajar yang rendah tidak hanya dipengaruhi oleh salah satu faktor saja.
Menurut Soedjadi (1992) bahwa bukan sesuatu yang mustahil rendahnya hasil belajar dikarenakan materi kurikulum yang terlalu berat, metode pembelajaran yang tidak tepat, sarana pembelajaran yang tidak mendukung, atau lingkungan sekolah yang tidak memungkinkan proses pembelajaran berjalan normal. Misalnya, perpustakaan sederhana, dan sarana laboratorium yang dimiliki kurang memadai.    Akibat keterbatasan-keterbatasan tersebut sebagian besar pembelajaran dilaksanakan secara tradisional/konvensional, sehingga dalam waktu relatif singkat dapat menyajikan dan menyelesaikan bahan ajar yang cukup banyak melalui ceramah. Hal ini menyebabkan pelajaran bahasa daerah termasuk pelajaran yang kurang diminati siswa.
Berdasarkan kenyataan di lapangan tersebut, salah satu cara untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa perlu suatu strategi atau pemilihan model pembelajaran yang tepat. Menurut Carin (1993: 82) yang dikutip oleh Kuswardi mengemukakan pembelajaran langsung secara sistematis menuntun dan membantu siswa untuk melalui tahap-tahap pembelajaran tertentu, yang bermaksud untuk melihat hasil belajar dari masing masing tahap.  Pembelajaran langsung adalah salah satu model pembelajaran yang memusat pada  guru dan disajikan melalui 5 tahap, yaitu (1) menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa; (2) mendemonstrasikan pengetahuan; (3) pemberian pelatihan terbimbing; (4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik; dan (5) memberikan perluasan latihan mandiri. Pembelajaran langsung secara sistematis menuntun dan membantu  siswa melalui langkah-langkah atau tahapan-tahapan tertentu, dan selanjutnya siswa akan aktif bekerja sendiri dengan adanya kegiatan latihan terbimbing dan latihan mandiri. Ini berarti siswa akan mendapat informasi yang jelas dalam mempelajari suatu materi pelajaran.

B.    Rumusan Masalah
        Dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “adakah peningkatan hasil belajar bahasa daerah kompetensi dasar tembang gambuh dengan pembelajaran langsung siwa kelas VIII SMP Negeri ?”

C.    Tujuan Penelitian
          Tujuan dalam penelitian ini adalah : “untuk mengetahui peningkatan hasil belajar bahasa daerah kompetensi dasar tembang gambuh dengan pembelajaran langsung siwa kelas VIII SMP Negeri

D.    Batasan Istilah Penelitian
Model  pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.
Pembelajaran langsung adalah suatu pembelajaran yang bertumpu pada prinsip prilaku dan teori belajar sosial yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola bertahap, selangkah demi selangkah.
Hasil Belajar Siswa adalah tingkat pencapaian belajar, yang diukur dari skor yang diperoleh berdasarkan tes hasil belajar  kognitif dan psikomotor setelah mengikuti pembelajaran.

E.  Manfaat Penelitian
  1. Dapat memberikan informasi kepada guru Bahasa daerah di SMP Negeri tentang keefektifan pembelajaran Bahasa daerah dengan menerapkan pembelajaran langsung
  2. Dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi guru Bahasa daerah di SMP Negeri dalam menentukan penilaian autentik assesment

F.   Hipotesis
             Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
Ha :   Ada peningkatan hasil belajar bahasa daerah kompetensi dasar tembang gambuh dengan pembelajaran langsung siwa kelas VIII SMP Negeri
Ho :     Tidak ada peningkatan hasil belajar bahasa daerah kompetensi dasar tembang gambuh dengan pembelajaran langsung siwa kelas VIII SMP Negeri

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode030.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Daerah dengan Strategi Pembelajaran Diskusi Kelompok Kecil Siswa Kelas V SD Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

       Bab ini diawali dengan mengungkapkan latar belakang masalah penelitian. Kemudian secara berturut-turut diikuti Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Hipotesis, Asumsi Penelitian, dan Pembatasan Penelitian

A.    Latar Belakang Masalah
            Kita telah menyadari bahwa pendidikan tidak lagi dan memang tidak pernah bisa ditangani secara sentralistik. Sentralisasi identik dengan penyeragaman. Ketika penyeragaman terjadi, sesungguhnya sedang berlangsung proses pengebirian potensi kreatif pendidikan itu sendiri, karena itu perubahan paradigma dari sentralisasi ke desentralisasi merupakan suatu keharusan. Sekolah secara individu perlu diberi keleluasaan yang proposional dalam menjalankan proses pendidikan.  Tetapi tentunya tidak ingin bila yang terjadi justru berpindahnya virus sentralisasi tersebut dari pusat ke daerah yang akan menambah merosotnya kualitas pendidikan.
           Salah satu keprihatinan yang dilontarkan banyak kalangan mengenai penyelenggaraan sistem pendidikan di Indonesia adalah rendahnya kualitas Out Put yang diprestasi kan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal. Menurut Indra Djatisidi (2001 : 3) masalah krusial yang dihadapi dalam pelaksannan sistem pendidikan nasional adalah belum adanya kesatuan pandangan tentang paradigma yang dianut dalam sistem pendidikan nasional, sehingga muncul suatu sinyalemen bahwa sistem pendidikan kita sedang berada pada persimpangan jalan. Hal ini berarti jika kita membelokkan arah system pendidikan kita ke jalan yang tepat, harapan dan tuntutan akan dapat dicapai dengan mudah. Sebaliknya, jika berbelok kearah yang salah, akan terjadi sebaliknya. Suyanto (2001: 17) berpendapat bahwa dari segi mutu pendidikan nasional kita masih jauh ketinggalan. Banyak indikator yang menunjukkan hal ini Secara eksternal rendahnya kualitas  lembaga pendidikan formal disebabkan oleh kebijakan sistem pendidikan yang sentralistik, sementara secara internal praktek pembelajaran masih menggunakan pendekatan – pendekatan yang tradisional dimana guru masih dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan sehingga prestasi belajar belum ideal. Oleh karena itu, dalam membangun pendidikan masa depan, kita harus tetap berani merumuskan paradigma baru, formula baru, cara-cara baru, dan juga metode-metode baru (Suyanto, 2001: 9).                                                                                                                                
      Indikasi mengenai rendahnya kualitas pembelajaran sebagaimana yang digambarkan diatas sangat terasa dalam pembelajaran Bahasa Daerah di Sekolah Menengah Pertama. Beberapa masalah umum  yang dijumpai dalam pembelajaran Bahasa Daerah di Sekolah Dasar, Misalnya : (1) bagaimana mengembangkan pengertian atau pemahaman tentang pengetahuan dalam diri siswa, serta (2) bagaimana memilih dan menggunakan strategi pembelajaran yang cocok dengan meteri yang akan diajarkan.
       Temuan penelitian menunjukkan bahwa masalah utama pembelajaran Bahasa Daerah di SD yakni, terjadinya benturan antara pengetahuan dan pengalaman belajar yang dimiliki siswa sebelumnya dengan perubahan konseptual yang dipelajari atau yang diajarkan guru. Benturan tersebut, apabila lepas dari perhatian guru, besar kemungkinan akan menjadi kendala dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini siswa akan mengalami kesulitan memahami konsep – konsep dasar dan mengaplikasikan pengetahuan Bahasa Daerah yang dipelajari. Disamping itu proses pembelajaran akan berlangsung tanpa mengikuti rule of learning karena mengabaikan pemberian kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan apa yang sedang dipelajarinya.
      Fenomena terjadi dalam proses belajar mengajar Bahasa Daerah di Sekolah Dasar sekarang ini semakin jauh dari perhatian dan pengamatan guru. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu adanya, pembelajaran Bahasa Daerah yang memperhatikan sejumlah variabel seperti : kemampuan awal siswa, strategi pembelajaran pembelajaran yang mengacu pada ketrampilan memecahkan masalah dilingkungan belajar siswa yang kondusif bagi tumbuhnya minat belajar siswa secar optimal.
      Dari gambaran masalah-masalah yang diungkapkan diatas, terlihat pentingnya altermatif  pemecahan masalah atau diskusi pembelajaran Bahasa Daerah di SD . Alternatif dimaksud yaitu sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman, keterampilan berfikir kritis dan kemampuan, mengaplikasikan teori dan konsep-konsep yang telah dipahami untuk memudahkan pemecahan masalah yang dihadapi.
      Kondisi pembelajaran yang sangat memprihatinkan pada gilirannya membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai kalangan, guna mencari alternatif pemecahan masalah yang tepat. Walupun  berbagai upaya telah dan sedang dilaksanakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Daerah dengan pengadaan sarana dan prasarana, penyempurnaan kurikulum, penataran guru bidang study, pengadaan buku paket, pengadaan sanggar dan pemantapan kelompok kerja Guru (PKG), akan tetapi persoalan yang mendasar yaitu praktek pembelajaran belum juga teratasi karena masih berpegang pada praktek pembelajaran secara klasikal.
Guna menanggulangi permasalahan pembelajaran, para pakar teknologi pembelajaran menaruh perhatian pada upaya memperbaiki proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi dan memanipulasi variabel pembelajaran yang dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran.
      Menurut Reigeluth dalam Degeng (1989 : 14) pada hakekatnya hanya variabel metode pembelajaran yang berpeluang untuk dimanipulasi. Karena metode yang tepat dengan memperhatikan kondisi yang ada akan dapat meningkatkan prestasi belajar. Senada Dengan Reigeluth, Degeng (2001 : 12) berpendapat bahwa saat ini diperlukan pengetahuan tentang jenis–jenis metode yang dapat membuat belajar menjadi mudah dan lebih menyenangkan bagi siswa, metode yang lebih efektif, efisien, dan memilikin daya tarik tinggi. Untuk memungkinkan siswa aktif dalam proses belajar, diperlukan kemampuan dan ketrampilan guru yang memadai dalam hal pengambilan keputusan yang tepat melalui penciptaan kondisi belajar yang relavan dengan tujuan yang hendak dicapai serta kondisi yang ada.
           Pembelajaran diskusi kelompok kecil adalah salah satu strategi pembelajaran untuk membuat siswa dapat berinteraksi atas siswa (Oemar Hamalik, 2001 : 117) model mengajar kelompok diatas lebih menekankan aktivitas belajar siswa secara bersama dalam kelompok sehingga mengembangkan hubungan sosial dalam pemecahan masalah belajar  (Nana Sudjana, 1989 : 86).
       Wentzel  dalam Jamaluddin (2001 : 41) mengemukakan : Bahwa  Respons siswa terhadap sekolah juga memiliki hubungan dengan status keanggotaan siswa dalam kelimpok mereka. Hubungan yang baik dengan sesama teman mempengaruhi performance akademik siswa, malalui stimulasi dan kondisi belajar yang inklusif yang mendorong siswa untuk bisa berkonsentrasi dan memberikan yang terbaik yang bisa dilakukan.
      Johnson dan Jonhson (1988 : 73 ) mengatakan bahwa cooperatif learning   adalah salah satu bentuk pembelajaran diskusi kelompok kecil dimana para siswa dapat belajar bekerja sama dalam menyelesaikan tugas, dan saling meyakinkan antar anggota kelompok dalam mempelajari meteri yang ditugaskan. Sehingga apa yang dilakukan siswa dapat berinteraksi satu dengan yang lainnya untuk memahami kebermaknaan isi pelajaran dan bekerjasama secara aktif dalam menyelesaikan tugas atau pelajaran.
      Secara operasional, penelitian ini akan menguji pengaruh metode diskusi kelompok kecil terhadap prestasi  pembelajaran Bahasa Daerah. Metode pembelajaran pada penelitian ini mengacu pada strategi penyampaian dan strategi pengelolaan yang berbasis pada pembelajaran diskusi kelompok kecil. Prestasi  pembelajaran berupa prestasi belajar atau ujuk kerja yang dapat memperlihatkan siswa dalam menyelesaikan soal-soal Bahasa Daerah. Kondisi pembelajaran dalam menyelesaikan soal-soal Bahasa Daerah.
      Semakin banyak siswa menggunakan waktu latihan dalam belajar Bahasa Daerah, diprediksi akan semakin mampu memahami soal-soal dan cara penyelesaian yang tepat, sebaliknya ketiadaan waktu yang cukup akan menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan soal-soal Bahasa Daerah yang dihadapai. Kesulitan ini semakin intens terjadi bila siswa hanya mengharapkan apa yang dijelaskan guru dalam kelas.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dirumuskan sebagai berikut :
Apakah ada peningkatan hasil belajar Bahasa Daerah yang diajar dengan pembelajaran diskusi kelompok kecil siswa kelas V SD Negeri ?”

C.    Tujuan Penelitian
Berpijak pada masalah yang akan diteliti, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :
Peningkatan hasil belajar Bahasa Daerah yang diajar dengan pembelajaran diskusi kelompok kecil siswa kelas V SD Negeri .”

D.    Kegunaan Dan Manfaat Penelitian
1.    Kegunaan Penelitian
Mengungkapkan keunggulan pembelajaran diskusi kelompok kecil terhadap prestasi belajar.
2.    Manfaat Penelitian
Manfaat  penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
  • Guru-guru lebih memperhatikan faktor-faktor yang dapat meningkatkan prestasi belajar.
  • Guru bidang studi Bahasa Daerah agar menerapkan pembelajaran diskusi kelompok kecil untuk meningkatkan prestasi belajar.
  • Peneliti lain, sebagai landasan pijakan dalam melakukan penelitian lanjutan dengan melibatkan lebih lengkap komponen strategi-strategi pembelajaran, khususnya pembelajaran diskusi kelompok kecil.
E.    Hipotesis
Dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut:
Ada peningkatan hasil belajar Bahasa Daerah yang diajar dengan pembelajaran diskusi kelompok kecil siswa kelas V SD Negeri

F.    Asumsi Penelitian
Dalam penelitian ini dikemukakan beberapa asumsi sebagai berikut: Strategi pembelajaran yang dirancang sesuai dengan kondisi dan karakteristik siswa dapat meningkatkan prestasi belajar.

G.    Pembatasan Penelitian
Penelitian ini dibatasi pada tiga aspek sebagai berikut :
  1. Eksperimen terbatas pada Semester I, sesuai isi bidang studi Bahasa Daerah.
  2. Strategi pembelajaran yang digunakan terbatas pada strategi pembelajaran diskusi kelompok kecil
  3. Penelitian dilaksanakan hanya di kelas V.
silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode029.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Peningkatan Hasil Belajar Agama Islam Pokok Bahasan Solat Fardu yang Diajar dengan Strategi Inkuiri Siswa Kelas VI SD Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Proses belajar mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu (Usman, 1990: 19). Pengajaran bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan adanya kemampuan guru yang dimiliki tentang dasar-dasar mengajar yang baik (Subroto, 1997: 18).
Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlansung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran. Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan pengelolaan proses belajar mengajar adalah kesanggupan atau kecakapan para guru dan siswa yang mencakup segi kognitif, afektif dan psikomotor, sebagai upaya mempelajari sesuatu berdasarkan perencanaan sampai dengan tahap evaluasi dan tindak lanjut agar tercapai tujuan pengajaran. Proses Belajar Menganjar merupakan inti dari Pendidikan Formal dengan guru-guru sebagai pemegang peranan utama. Dalam proses Belajar Mengajar sebagian besar hasil belajar siswa ditentukan oleh peranan guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan mampu mengelola proses belajar mengajar, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal (Usman, 1990: 19). Dengan demikian apabila metode mangajar dilakukan dengan tepat serta dibawakan dengan baik, maka sudah barang tentu tujuan pembelajaran yang telah direncanakan akan dapat tercapai dengan baik. Guru akan dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik apabila menguasai dan mampu mengajar didepan kelas dengan menggunakan metode yang sesuai dengan pelajaran yang dibawakan atau disampaikan. Diantara sekian banyak metode yang dapat diterapkan untuk membawa siswa memahami pelajaran yang sedang disampaikan dan menuju perolehan prestasi belajar yang baik adalah strategi inkuiri.
Inkuiri berfokus pada hipotesis. Siswa perlu menyadari bahwa pada dasarnya semua pengetahuan bersifat tentaif. Tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak. Kebenarannya selalu bersifat sementara. Sikap terhadap pengetahuan yang demikian perlu dikembangkan. Dengan demikian, maka penyelesaian hipotesis merupakan fokus strategi inkuiri. Apabila pengetahuan dipandang sebagai hipotesis, maka kegiatan belajar berkisar sekitar pengujian hipotesis dengan pengajuan berbagai informasi yang relevan. Sehubungan adanya berbagai sudut pandang yang berbeda diantara siswa, maka sedapat mungkin dimungkinkan adanya variasi penyelessaian masalah sehingga inkuiri bersifat open ended.
Inkuiri bersifat open ended jika ada berbagai kesimpulan yang berbeda dari siswa masing-masing dengan argumen yang benar. Di samping inkuiri terbuka dikenal pula inkuiri tertutup, yaitu jika hanya ada satu-satunya kesimpulan yang benar sebagai hasil proses inkuiri.
Penggunaan fakta sebagai evidensi. Di dalam kelas dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta sebagaimana dituntut dalam pengujian hipotesis pada umumnya. Untuk menciptakan kondisi seperti itu, maka peranan guru sangat menentukan. Guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi, sekalipun hal itu sangat diperlukan. Peranan utama guru dalam menciptakan kondisi inkuiri  adalah guru sebagai mediator,sedangkan siswa aktif belajar melalui tahap tahap inkuiri.

B.  Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Apakah ada peningkatan hasil belajar Agama Islam pokok bahasan solat fardu siswa kelas VI SD Negeri yang diajar dengan strategi inkuiri?

C.  Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mencari bukti empirik tentang pengaruh strategi inkuiri terhadap hasil belajar, untuk itu tujuan penelitian ini adalah ingin : “Mengetahui peningkatan hasil belajar Agama Islam pokok bahasan solat fardu siswa kelas VI SD Negeri yang diajar dengan strategi inkuiri.“

D.  Manfaat Penelitian
  1. Untuk memberikan sumbangan kepada para guru terhadap penggunaan strategi inkuiri dalam proses pembelajaran
  2. Sebagai masukan bagi para guru, guna peningkatan mutu pembelajaran dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan di SD Negeri .
  3. Untuk memberikan motivasi kepada para siswa agar dapat terlatih mengikuti pelajaran dengan baik melalui strategi inkuiri.
  4. Bagi peneliti, temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam pengekfetifan strategi inkuiri.
E.   Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, yaitu :
Ha : Ada peningkatan hasil belajar Agama Islam pokok bahasan solat fardu siswa kelas VI SD Negeri yang diajar dengan strategi inkuiri
Ho : Tidak ada peningkatan hasil belajar Agama Islam pokok bahasan solat fardu siswa kelas VI SD Negeri yang diajar dengan strategi inkuiri

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode028.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Peningkatan Hasil Belajar Agama Islam Pokok Bahasan Haji dan Umroh yang Diajar dengan Pembelajaran Role Playing Siswa Kelas X MA Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan upaya manusia secara sadar yang tujuannya bersifat ganda, yaitu mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia. Upaya itulah yang menandakan sifat kesengajaan dari kependidikan (Wijaya, 1992: 9) memberikan pengertian tentang pendidikan:
“Pendidikan adalah salah satu cara utama bagaimana masyarakat mempengaruhi perilaku warganya. Pendidikan nasional Indonesia tidak hanya bertugas membentuk warga negara yang baik, tetapi bertugas mencerdaskan bagsa secara terus menerus, khususnya untuk kepentingan generasi muda diseluruh Indonesia. Pendidikan dilakukan secara formal di sekolah dan secara non formal di lembaga-lembaga luar sekolah dengan maksud agar yang lulus dan tidak lulus dapat merasakan pendidikan”.
Akan tetapi salah satu keprihatinan yang dilontarkan banyak kalangan mengenai penyelenggaraan sistem pendidikan di Indonesia adalah rendahnya kualitas Out Put yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal. Menurut Indra (2001: 3)  menjelaskan tentang kualitas pendidikan dewasa ini yaitu :
“Masalah krusial yang dihadapi dalam pelaksanaan sistem pendidikan nasional adalah belum adanya kesatuan pandangan tentang paradigma yang dianut dalam sistem pendidikan nasional, sehingga muncul suatu sinyalemen bahwa sistem pendidikan kita sedang berada pada persimpangan jalan”.
Begitu juga Suyanto (2001: 17) berpendapat bahwa dari segi mutu pendidikan nasional kita, masih jauh ketinggalan. Banyak indikator yang menunjukkan hal ini Secara eksternal rendahnya kualitas  lembaga pendidikan formal disebabkan oleh kebijakan sistem pendidikan yang sentralistik, sementara secara internal praktek pembelajaran masih menggunakan pendekatan– pendekatan yang tradisional.
Oleh karena itu, dalam membangun pendidikan masa depan, kita harus tetap berani merumuskan paradigma baru, formula baru, cara-cara baru, dan juga metode-metode baru (Suyanto, 2001: 9).                                                                                                                                
Dari gambaran masalah-masalah yang diungkapkan diatas, terlihat pentingnya altermatif pemecahan masalah pembelajaran Agama Islam di sekolah dasar. Alternatif dimaksud yaitu sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman, keterampilan berfikir kritis dan kemampuan, mengaplikasikan teori dan konsep-konsep yang telah dipahami untuk memudahkan pemecahan masalah yang dihadapi dengan menggunakan pembelajaran role playing. Hamalik (2001: 99) memberikan penekanan tentang manfaat pengajaran role playing dilihat dari segi perencanaan, siswa staf, situasi mengajar-belajar dan fasilitas perlengkapan yaitu:
“Jika pengajaran dilakukan oleh guru yang memiliki profesional yang baik, maka tingkat keberhasilan dalam mencampai tujuan pengajaran akan lebih memadai dibanding dengan guru yang berkualitas rendah, hal ini terjadi dalam sistem pengajaran beregu. Sistem ini akan berhasil bila guru memenuhi kualifikasi yang telah ditentukan”.
Kondisi pembelajaran yang sangat memprihatinkan pada gilirannya membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai kalangan, guna mencari alternatif pemecahan masalah yang tepat. Walaupun  berbagai upaya telah dan sedang dilaksanakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran ahasa Indonesia dengan pengadaan sarana dan prasarana, penyempurnaan kurikulum, penataran guru bidang study, pengadaan buku paket, pengadaan sanggar dan pemantapan MGMP, akan tetapi persoalan yang mendasar yaitu praktek pembelajaran belum juga teratasi karena masih berpegang pada praktek pembelajaran secara konvensional.
Menurut Reigeluth dalam Degeng (1989: 14 ) pada hakekatnya hanya variabel metode pembelajaran yang berpeluang untuk dimanipulasi. Karena metode yang tepat dengan memperhatikan kondisi yang ada akan dapat meningkatkan hasil belajar.
Surakhmad (1980: 103) berpendapat bahwa pembelajaran role playing atau dikenal dengan metode sosiodrama adalah metode yang mendramatisasikan cara tingkah laku dialam hubungan sosial. Sedangkan metode ini sangat berhubungan dengan bermain peran yang menekankan kenyataan dimana siswa diturut sertakan didalam memainkan peranan dalam mendramatisasikan masalah-masalah hubungan sosial.
Metode ini bertujuan: mengerti perasaan orang lain, membagi pertanggungjawab dan memikulnya, menghargai pendapat orang lain dan mengambil keputusan dalam kelompok.
Ibrahim (1991: 107) Role Playing atau metode sosiodrama dan juga dikenal dengan bermain peran merupakan metode yang sering digunakan dalam mengajarkan nilai-nilai dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam hubungan sosial dengan orang-orang dilingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Dalam pelaksanaannya siswa-siswa diberi berbagai peran tertentu dan melaksanakan peran tersebut, serta mendiskusikannya di kelas. Mudjiono, (1993: 81) mengemukakan bermain peran atau Role Playing yakni memainkan peranan dari peran-peran yang sudah pasti berdasarkan kejadian terdahulu, yang dimaksudkan untuk menciptakan kembali situasi sejarah/peristiwa masa lalu, menciptakan kemungkinan-kemungkinan kejadian masa yang akan datang, menciptakan peristiwa mutakhir yang dapat dipercaya, atau mengkayalkan situasi pada suatu tempat dan waktu tertentu. Selain itu bermain peran juga dapat diartikan sebagai memainkan peran secara spontan dari suatu situasi, kondisi atau keadaan oleh anggota dari kelompok belajar yang terpilih. Dalam bermain peran sering kali dilengkapi atau didasarkan pada skenario tertentu.
Wentzel dalam Jamaludin (2001: 41) mengemukakan tentang respons siswa terhadap sekolah yaitu:
“Sekolah yang memiliki hubungan dengan status keanggotaan siswa dan berbungan dengan baik sesama teman mempengaruhi performance akademik siswa, malalui stimulasi dan kondisi belajar yang inklusif yang mendorong siswa untuk bisa berkonsentrasi dan memberikan yang terbaik yang bisa dilakukan”.
Secara operasional, penelitian ini akan menguji pengaruh pembelajaran role playing, konvensional terhadap hasil pembelajaran Agama Islam. Metode pembelajaran pada penelitian ini mengacu pada strategi penyampaian dan strategi pengelolaan yang berbasis pada pembelajaran role playing. Hasil pembelajaran berupa hasil belajar.
Kemudian dalam hubungannya dengan kegiatan belajar, yang penting bagaimana menciptakan kondisi atau suatu proses yang mengarahkan siswa melakukan aktivitas belajar, bagaimana seorang guru melakukan usaha untuk menumbuhkan dan memberikan motivasi agar siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik (Sardiman, 2001: 75), siswa yang memiliki gaya kognitif akan selalu ingin melakukan sesuatu secepat mungkin, sebaik mungkin dan memiliki keinginan untuk mencapai prestasi sesuai dengan stadart yang ditetapkan
Sebagai kelompok pembanding dalam penelitian ini pembelajaran konvensional, maksudnya karena aktivas belajar mengajar di kelas selalu didomonasi guru sehingga otonomi individu dan kebebasan belajar siswa kurang mendapat perhatian. Cara pembelajaran konvensional artinya setiap anak mempelajari hal yang sama (Sudjana, 1989: 54 ).
Derek Rowntree dalam Sudjarwo (1989: 157) menjelaskan pola interaksi dua arah yang diterapkan pada pembelajaran konvensional. Pola interaktif dua arah dapat lebih efektif jika stuktur dalam upaya pembelajaran konvensional.
Skenario pembelajaran konvensional berlangsung dalam tiga tahap yaitu : bagian pendahuluan, batang tubuh pembelajaran, dan bagian penutup secara rinci tahap – tahap pembelajaran konvensional ini dapat dijelaskan sebagai berikut : bagian pendahuluan pembelajaran konvensional adalah: (1) meletakkan hubungan awal guru dan siswa menggunakan berbagai teknik, (2) menangkap perhatian siswa. Fungsi ini berusaha untuk memusatkan perhatian siswa  pada peristiwa pembelajaran yang akan segera berlangsung, (3) menjelaskan esensi isi atau materi secara singkat,guru perlu memberikan penjelasan topik bahan pembelajaran, inti bahan pelajaran  tujuan khusus yang akan dicapai.
Dalam pembelajaran konvensional terdiri dari tiga kategori proses pembelajaran yaitu : pendahuluan diberikan, siswa dimotivasi untuk menjalani proses pembelajaran, selanjutnya guru memasuki inti atau batang tubuh pembelajaran dan penutup. Batang tubuh pembelajaran konvensional ada beberapa  hal yang perlu di perhatikan yaitu:
  • Ruang linkup materi harus mencancakup aspek pengetahuan (fakta, konsep,prinsip, dan prosedur). Bila materi itu mencakup ketrampilan hendaknya ruang lingkup materi memuat ketrampilan, intelektual, ketrampilan fisik, dan psikomotor, rekatif dan interaktif, dan bila hal itu mencakup aspek efektif, harus jelas unsur- unsure yang masuk didalamya.
  • Hubungan logis organisasi materi. Salah satu syarat ceramah konvensional yang baik adalah tersusun rapi  dan terorganisasi sesuai dengan logika menurut tujuan utama ceramah  adalah komunikasi.
  • Teknik penyajian materi tentu saja belum cukup jika  ceramah itu hanya didasarkan pada adanya materi yang terorganisasi dengan baik. Materi itu harus dinyatakan dan disampaikan secara eksplisit pada siswa.
Walaupun pembelajaran konvensional sangat didominasi oleh guru namun dalam kondisi tertentu dapat melibatkan tehnik Tanya jawab. Tanya jawab dalam konteks pembelajaran konvensional, dapat memberi penekanan materi yang sedang diajarkan, memberikan latihan praktis, menimbulkan kesadaran diri, meningkatkan perhatian, memberikan rangsangan beragam, dan mengkaji ulang materi. Pola komunikasi pada belajar konvensional adalah komunikasi langsung antara guru dan siswa. Keberhasilan belajar sangat ditentukan oleh kualitas guru karena guru adalah sumber belajar utama.
Dari gambaran diatas maka untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan khususnya bidang studi Agama Islam sangat tepatlah bila siswa diajar memecahkan suatu masalah melalui pembelajaran role playing. Hal ini yang mendorong penulis ingin mengetahui peningkatan hasil belajar Agama Islam pokok bahasan haji dan umroh yang diajar dengan pembelajaran role playing siswa kelas X MA Negeri

B.   Rumusan Masalah
           Berdasarkan latar belakang masalah maka dirumuskan sebagai berikut : “Apakah ada peningkatan hasil belajar Agama Islam pokok bahasan haji dan umroh yang diajar dengan pembelajaran role playing siswa kelas X MA Negeri ? “

C.   Tujuan Penelitian
          Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Agama Islam pokok bahasan haji dan umroh yang diajar dengan pembelajaran role playing siswa kelas X MA Negeri


D.  Manfaat Penelitian
           Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
  1. Guru-guru lebih memperhatikan faktor-faktor yang dapat meningkatkan hasil belajar  dan yang menghambat pengajaran Agama Islam.
  2. Guru bidang studi Agama Islam agar menerapkan pembelajaran role playing untuk meningkatkan hasil belajar serta melatih siswa bersosialisasi terhadap teman belajar.
  3. Peneliti lain, sebagai landasan pijakan dalam melakukan penelitian lanjutan yang melibatkan strategi-strategi pembelajaran dan sesuai dengan materi pelajaran, sehingga perubahan strategi sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
E.   Hipotesis
           Anggapan dasar sementara peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut:
Ha : Ada peningkatan hasil belajar Agama Islam pokok bahasan haji dan umroh yang diajar dengan pembelajaran role playing siswa kelas X MA Negeri
Ho : Tidak ada peningkatan hasil belajar Agama Islam pokok bahasan haji dan umroh yang diajar dengan pembelajaran role playing siswa kelas X MA Negeri

F.   Pembatasan Penelitian
          Penelitian ini dibatasi pada tiga aspek sebagai berikut :
1.    Eksperimen terbatas pada pelajaran Agama Islam pokok bahasan haji dan umroh.
2.    Strategi pembelajaran yang digunakan terbatas pada strategi pembelajaran role playing
3.    Kurikulum yang digunakan  adalah kurikulum
4.    Instrumen hasil belajar mengacu pada pelajaran Agama Islam
5.    Dilakukan pada  kelas X

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode027.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Peningkatan Hasil Belajar Agama Islam Pokok Bahasan Adab terhadap Guru dan Tetangga yang Diajar dengan Metode Problem Solving Siswa Kelas VI SD Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pengertian tentang belajar yang dikemukakan oleh para ahli psikologi  mempunyai pengertian yang berbeda-beda, tergantung pada sudut pandangannya terhadap beberapa aspek tertentu pada aktivitas belajar. Masing-masing ahli pada prinsipnya menekankan bahwa belajar adalah suatu proses, karena berlangsungnya dalam jangka waktu tertentu, belajar bukan suatu hasil. Dalam belajar ada kejadian yang berlangsung dalam diri seseorang baik pada aspek jasmani. Dengan adanya proses tersebut maka terjadilah tingkah laku yang baru atau perubahan tingkah laku . Pendidikan dewasa ini sangat memprihatinkan, salah satu keprihatinan yang dilontarkan banyak kalangan mengenai penyelenggaraan sistem pendidikan di Indonesia adalah rendahnya kualitas Out Put yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal.  Menurut Indra Djatisidi (2001: 3)  masalah krusial yang dihadapi dalam pelaksannan sistem pendidikan nasional adalah belum adanya kesatuan pandangan tentang paradigma yang dianut dalam sistem pendidikan nasional, sehingga muncul suatu sinyalemen bahwa sistem pendidikan kita sedang berada pada persimpangan jalan. Hal ini berarti jika kita membelokkan arah sistem pendidikan kita ke jalan yang tepat, harapan dan tuntutan akan dapat dicapai dengan mudah. Sebaliknya, jika berbelok kearah yang salah, akan terjadi sebaliknya.
Suyanto (2001: 17) berpendapat bahwa dari segi mutu pendidikan nasional kita, masih jauh ketinggalan. Banyak indikator yang menunjukkan hal ini Secara eksternal rendahnya kualitas  lembaga pendidikan formal disebabkan oleh kebijakan sistem pendidikan yang sentralistik, sementara secara internal praktek pembelajaran masih menggunakan pendekatan– pendekatan yang klasikal dimana guru masih dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan sehingga hasil belajar belum ideal. Oleh karena itu, dalam membangun pendidikan masa depan, kita harus tetap berani merumuskan paradigma baru, formula baru, cara-cara baru, dan juga metode-metode baru (Suyanto,2001:9).  Dari gambaran masalah-masalah yang diungkapkan diatas, terlihat pentingnya altermatif pemecahan masalah pembelajaran Agama Islam di SD Negeri Kec. Kab. .Alternatif dimaksud yaitu sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman, keterampilan berfikir kritis dan kemampuan, mengaplikasikan teori dan konsep-konsep yang telah dipahami untuk memudahkan pemecahan masalah yang dihadapi. Kondisi pembelajaran yang sangat memprihatinkan pada gilirannya membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai kalangan, guna mencari alternatif pemecahan masalah yang tepat. Walaupun berbagai upaya telah dan sedang dilaksanakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Agama Islamdengan pengadaan sarana dan prasarana, penyempurnaan kurikulum, penataran guru bidang study, pengadaan buku paket, pengadaan sanggar dan pemantapan kelompok kerja Guru (MGMP), akan tetapi persoalan yang mendasar yaitu praktek pembelajaran belum juga teratasi karena masih berpegang pada praktek pembelajaran secara konvensional. Guna menanggulangi permasalahan pembelajaran, para pakar teknologi pembelajaran menaruh perhatian pada upaya memperbaiki proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi dan memanipulasi variabel pembelajaran yang dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran. Menurut Reigeluth dalam Degeng (1989: 14 ) pada hakekatnya hanya variabel metode pembelajaran yang berpeluang untuk dimanipulasi. Karena metode yang tepat dengan memperhatikan kondisi yang ada akan dapat meningkatkan hasil belajar belajar. Senada Dengan Reigeluth, Degeng (2001: 12) berpendapat bahwa saat ini diperlukan pengetahuan tentang jenis–jenis metode yang dapat membuat belajar menjadi mudah dan lebih menyenangkan bagi siswa, metode yang lebih efektif, efisien, dan memilikin daya tarik tinggi. Untuk memungkinkan siswa aktif dalam proses belajar, diperlukan kemampuan dan ketrampilan guru yang memadai dalam hal pengambilan keputusan yang tepat melalui penciptaan kondisi belajar yang relavan dengan tujuan yang hendak dicapai serta kondisi yang ada,yaitu dengan pembelajaran Problem solving.
Pembelajaran Problem solving selain diawali pembentukan kelompok yang memenuhi persyaratan faktor heterogenitas, juga melalui tahap-tahap yang telah di programkan yakni diawali dengan merencanakan, mempersiapkan, memonitor dan memfasilitasi sehingga proses pembelajaran benar-benar efektif. Jacobs,  (Lie, 1999: 7). Tehnik pembelajaran Problem solving dikembangkan oleh Aronson, Blaney, Stephen, Sikes dan Snapp, 1978. Dalam tehnik ini guru membantu siswa mengaktifkan kemampuan otak menerima dan mengasosiasikan rangsangan sehingga bahan pelajaran menjai lebih bermakna. (Lie, 1999: 73). Lebih Lanjut disampaikan bahwa dengan tehnik Problem solving menekankan  siswa belajar dalam suasana gotong royong, mempunyai banyak kesempatan untuk mengelolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomunikasi. Melalui landasan filosofi konstruktivisme, pembelajaran Model Teknik Problem solving dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang baru, suatu pembelajaran, kooperatif yang mencerminkan pandangan bahwa manusia belajar dari pengalaman mereka dan partisipasi aktif dalam kelompok kecil membantu siswa belajar ketrampilan sosial yang sementara itu secara bersamaan mengembangkan sikap demokratis dan ketrampilan berpikir logis. Pembelajaran Problem solving  merupakan strategi pengajaran dimana siswa bekerja dalam kelompok yang campur kemampuannya. Dalam pembelajaran kooperatif, kelompok kecil siswa bekerjasama saling membantu dalam belajar untuk memecahkan masalah. Digunakannya kelompok-kelompok dalam pembelajaran karena siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Struktur tujuan kooperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan mereka hanya jika siswa lain dengan siapa mereka bekerjasama mencapai tujuan tersebut. Tiap-tiap inividu ikut andil menyumbang pencapaian tujuan itu. Siswa dibentuk dalam kelompok dengan kemampuan yang heterogen agar siswa terlatih menerima perbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Pada model pembelajaran ini siswa  diajarkan keterampilan-keterampilan spesifik untuk membantu mereka bekerjasama dengan baik dalam kelompok.
Dalam proses belajar mengajar  tidak hanya mengandalkan satu metode saja, akan tetapi juga menggunakan metode yang sesuai dengan materi pelajaran. Menurut Djajadisastra, (1982: 19) metode pemecahan masalah atau berfikir refleksi atau problem solving, merupakan suatu cara mengajar yang merangsang seseorang untuk menganalisa dan melakukan sintesa dalam kesatuan struktur atau situasi di mana masalah itu berada, atas inisiatif sendiri. Metode ini menuntut kemampuan untuk dapat melihat sebab akibat atau relasi-relasi di antara berbagai data, sehingga pada akhirnya dapat menemukan kunci pembuka masalahnya.  Metode ini mengembangkan kemampuan berfikir yang dipupuk dengan adanya kesempatan untuk mengopservasi problema, mengumpulkan data, menganalisa data, menyusun suatu hipotesa, mencari hubungan (data) yang hilang dari data yang telah terkumpul untuk kemudian menarik kesimpulan yang merupakan hasil pemecahan masalah tersebut. Kajian tingkat  penelitian  ini terbatas pada tinggi rendahnya kemampuan siswa yang dapat dilihat dari prilaku subyek, seperti kesenangan, ketekunan, usaha, kebersihan, keberhasilan waktu menyelesaikan tugas, merenungkan pelajaran, ingin tahu, penuh perhatian, kompetisi, keyakinan dan kekhawatiran akan gagal, merupakan indikator yang dipakai dalam penelitian ini. Dalam hal ini diprediksi bahwa hasil belajar yang dimiliki oleh subyek merupakan hasil pembelajaran yang tidak terlepas dari perilaku yang ditunjukkannya. Guru memberikan motivasi kepada seorang siswa berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu. Pada tahap awalnya akan menyebabkan si subyek belajar ada kebutuhan dan ingin melakukan sesuatu kegiatan belajar.

B.    Rumusan Masalah  
        Dari latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan sebagai berikut:
Apakah ada peningkatan hasil belajar Agama Islam pokok bahasan adab terhadap guru dan tetangga yang diajar dengan metode problem solving siswa  kelas VI SD Negeri Kec. Kab. ?”

C.    Tujuan Penelitian
Adapun secara khusus tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini berpijak dengan rumusan masalah adalah: untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Agama Islam pokok bahasan adab terhadap guru dan tetangga yang diajar  dengan metode problem solving siswa kelas VI  SD Negeri Kec. Kab. .

D.    Manfaat Penelitian
1.    Secara teoritik penelitian ini bermanfaat:
Mengungkapkan pengaruh pembelajaran metode problem solving terhadap hasil belajar.
2.    Secara Praktis penelitian ini bermanfaat:
  • Memberikan sumbangan informasi kepada pengembang ilmu pengetahuan tentang pembelajaran metode problem solving dalam pembelajaran Agama Islam.
  • Menjadikan bahan kajian bagi guru Pendidikan Agama Islam dalam merancang dan menerapkan sistim pembelajaran metode problem solving sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan hasil belajar.
  • Memberikan sumbangan pada lembaga pendidikan bahwa temuan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan dalam menentukan kebijakan yang akan diputuskan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

E.   Hipotesis Penelitian
Mengacu pada permasalahan yang telah dirumuskan pada bab terdahulu dan teori-teori yang melandasi, maka di rumuskan suatu hipotesis penelitian sebagai berikut:
Ha :    ada peningkatan hasil belajar Agama Islam pokok bahasan adab terhadap guru dan tetangga  yang diajar dengan metode problem solving siswa  kelas VI SD Negeri Kec. Kab. .
Ho :   tidak ada peningkatan hasil belajar Agama Islam pokok bahasan adab terhadap guru dan tetangga  yang diajar dengan metode problem solving siswa  kelas VI SD Negeri Kec. Kab. .

F.    Keterbatasan Penelitian
1.  Penelitian ini membahas pada penerapan pembelajaran metode problem solving pada mata pelajaran pendidikan Agama Islam
2.    Populasi yang diambil hanya di SD Negeri Kec. Kab. siswa kelas VI tahun

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode026.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Sabtu, 15 Februari 2014

Peningkatan Hasil Belajar Agama Islam Kelompok Siswa yang Menggunakan Pembelajaran CTL Siswa Kelas X Madrasah Aliyah Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Salah satu keprihatinan yang dilontarkan banyak kalangan mengenai penyelenggaraan sistem pendidikan adalah rendahnya kualitas Out Put yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal. Menurut Indra (2001 : 3)  masalah krusial yang dihadapi dalam pelaksannan sistem pendidikan nasional adalah belum adanya kesatuan pandangan tentang paradigma yang dianut dalam sistem pendidikan nasional, sehingga muncul suatu sinyalemen bahwa sistem pendidikan kita sedang berada pada persimpangan jalan. Hal ini berarti jika kita membelokkan arah system pendidikan kita ke jalan yang tepat, harapan dan tuntutan akan dapat dicapai dengan mudah. Sebaliknya, jika berbelok kearah yang salah, akan terjadi sebaliknya. Suyanto (2001 : 17) berpendapat bahwa dari segi mutu pendidikan nasional kita, masih jauh ketinggalan. Banyak indikator yang menunjukkan hal ini.
Secara eksternal rendahnya kualitas  lembaga pendidikan formal disebabkan oleh kebijakan sistem pendidikan yang sentralistik, sementara secara internal praktek pembelajaran masih menggunakan pendekatan-pendekatan yang tradisional dimana guru masih dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan sehingga hasil belajar belum ideal. Oleh karena itu, dalam membangun pendidikan masa depan, kita harus tetap berani merumuskan paradigma baru, formula baru, cara-cara baru, dan juga metode-metode baru (Suyanto, 2001 : 9). Fenomena terjadi dalam proses belajar mengajar Agama Islam di Madrasah Aliyah  sekarang ini semakin jauh dari perhatian dan pengamatan guru. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu adanya, pembelajaran Agama Islam yang memperhatikan sejumlah variabel seperti : strategi pembelajaran pembelajaran yang mengacu pada belajar yang mengaitkan antara materi dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dari gambaran masalah-masalah yang diungkapkan diatas, terlihat pentingnya pembelajaran dunia nyata di sekolah.
Alternatif yang dimaksud yaitu sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman, keterampilan berfikir kritis dan kemampuan, mengaplikasikan teori dan konsep-konsep yang telah dipahami untuk memudahkan penerapan dalam dunia nyata.   Menurut Reigeluth dalam Degeng (1989: 14 ) pada hakekatnya hanya variabel metode pembelajaran yang berpeluang untuk dimanipulasi. Karena metode yang tepat dengan memperhatikan kondisi yang ada akan dapat meningkatkan hasil belajar. Senada dengan Reigeluth, Degeng (2001 : 12) berpendapat bahwa saat ini diperlukan pengetahuan tentang jenis–jenis metode yang dapat membuat belajar menjadi mudah dan lebih menyenangkan bagi siswa, metode yang lebih efektif, efisien, dan memiliki daya tarik tinggi. Keadaan dan situasi ini disadari oleh pakar pendidikan. Penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya psikologi pendidikan dan teknologi dalam kelas, mendorong perubahan yang mengarah lebih komplek, lebih mengarah, lebih terpadu, dan mengandung keseimbangan antara beberapa metode mengajar yang berdasarkan cara belajar yang optimal.
Agaknya strategi / pendekatan-pendekatan belum cukup untuk menanggulangi perubahan pendidikan yang begitu komplek. Bagaimana cara guru agar siswa dapat belajar dengan bermakna yang sejalan dengan Degeng (2001 : 2) bahwa belajar adalah pemaknaan pengetahuan dan mengajar adalah menggali  makna, segala sesuatu bersifat temporer, berubah dan tidak menentu, itulah yang memberi makna terhadap realitas. Meier (2002 : 54) mengemukakan belajar adalah berkreasi, bukan menngkonsumsi. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang serap oleh pembelajaran, melainkan sesuatu yang diciptakan oleh pembelajar. Pembelajaran terjadi ketika seseorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Belajar berhafiah adalah menciptakan makna baru. Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar “baru” yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
Melalui landasan filosofi konstruktivisme, CTL dipromosikan menjadi alternative strategi belajar yang baru. Melalui strategi CTL, siswa diharapkan belajar melalui “mengalami” bukan “menghapal”. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak ‘mengalami’ apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengetahui’-nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan, itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita. Nurhadi (2002 : 1) mengemukakan bahwa pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL¬) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya denga situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran di harapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti.
Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya mengapainya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (pengetahuan dan keterampilan) datang dari menemukan sendiri, bukan dari ‘apa kata guru’. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan konstektual. Konstektual hanya sebuah strategi pembelajaran. seperti halnya strategi pembelajaran yang lain, konstektual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan konstektual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada. Dalam penelitian ini dibahas persoalan yang berkenaan dengan dengan pendekatan konstektual dan implikasi penerapannya. Sesuai dengan pendapat Nurhadi (2002: 3) bahwa anak belajar dari pengalaman sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Dari pendapat diatas jelas belajar tidak hanya sekedar menghafal, siswa harus mengkostruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subject matter). Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan. Sesuai dengan pendapat Jamaludin (2001 : 13) bahwa sekolah yang efektif meupakan respon terhadap harapan agar sekolah menjadi tempat dimana semua siswa dapat belajar dengan baik.
Dari uraian diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa pendekatan konstektual sangat cocok dalam pembelajaran karena pada hakekatnya pembelajaran konstektual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengait antara materi yang diajarkan dengan stuasi dunia nyata siswa dapat dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni : konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment). (Nurhadi, 2002 : 5). Melihat pembelajaran yang menekankan pada pemaknaan, Degeng (2001: 5) memberi penekanan bahwa tujuan pembelajaran menekankan pada penciptakan pemahaman, yang menuntut aktivitas, kreatifitas, produktifitas dalam konteks nyata. Dengan adanya latar belakang masalah diatas penulis ingin mengetahui peningkatan hasil belajar Agama Islam kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran CTL siswa kelas X MA Negeri
    
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dirumuskan sebagai berikut: “Adakah peningkatan hasil belajar Agama Islam kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran CTL siswa kelas X MA Negeri ?”

C.    Tujuan Penelitian
Berpijak pada masalah yang akan diteliti, tujuan penelitian ini adalah: “Ingin mengetahui peningkatan hasil belajar Agama Islam kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran CTL siswa kelas X MA Negeri

D.    Manfaat Penelitian
1.    Secara teoritik penelitian ini bermanfaat mengungkapkan pengaruh pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar.
2.    Secara praktis penelitian ini bermanfaat :
  • Memberikan sumbangan informasi kepada siswa dan guru agar lebih aktif dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam kelas X di MA Negeri
  • Menjadi bahan kajian bagi guru pendidikan Agama Islam dalam merencanakan dan menerapkan pembelajarann contekstual teaching and learning (CTL) pendidikan Agama Islam kelas X di MA Negeri
  • Peneliti lain, sebagai landasan pijakan dalam melakukan penelitian lanjutan dengan melibatkan lebih lengkap komponen strategi-strategi pembelajaran, khususnya pembelajaran contekstual teaching and learning (CTL).

E.    Hipotesis Penelitian
Ha :    Ada peningkatan hasil belajar Agama Islam kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran CTL siswa kelas X MA Negeri
Ha :    Tidak ada peningkatan hasil belajar Agama Islam kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran CTL siswa kelas X MA Negeri

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode025.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Peningkatan Hasil Belajar Agama Islam dengan Strategi Pembelajaran Diskusi Kelompok Siswa Kelas VI SD Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
            Kita telah menyadari bahwa pendidikan tidak lagi dan memang tidak pernah bisa ditangani secara sentralistik. Sentralisasi identik dengan penyeragaman. Ketika penyeragaman terjadi, sesungguhnya sedang berlangsung proses pengebirian potensi kreatif pendidikan itu sendiri, karena itu perubahan paradigma dari sentralisasi ke desentralisasi merupakan suatu keharusan. Sekolah secara individu perlu diberi keleluasaan yang proposional dalam menjalankan proses pendidikan.  Tetapi tentunya tidak ingin bila yang terjadi justru berpindahnya virus sentralisasi tersebut dari pusat ke daerah yang akan menambah merosotnya kualitas pendidikan.
           Salah satu keprihatinan yang dilontarkan banyak kalangan mengenai penyelenggaraan sistem pendidikan di Indonesia adalah rendahnya kualitas Out Put yang diprestasi kan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal. Menurut Indra Djatisidi (2001 : 3) masalah krusial yang dihadapi dalam pelaksannan sistem pendidikan nasional adalah belum adanya kesatuan pandangan tentang paradigma yang dianut dalam sistem pendidikan nasional, sehingga muncul suatu sinyalemen bahwa sistem pendidikan kita sedang berada pada persimpangan jalan. Hal ini berarti jika kita membelokkan arah system pendidikan kita ke jalan yang tepat, harapan dan tuntutan akan dapat dicapai dengan mudah. Sebaliknya, jika berbelok kearah yang salah, akan terjadi sebaliknya. Suyanto (2001: 17) berpendapat bahwa dari segi mutu pendidikan nasional kita masih jauh ketinggalan. Banyak indikator yang menunjukkan hal ini Secara eksternal rendahnya kualitas  lembaga pendidikan formal disebabkan oleh kebijakan sistem pendidikan yang sentralistik, sementara secara internal praktek pembelajaran masih menggunakan pendekatan – pendekatan yang tradisional dimana guru masih dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan sehingga prestasi belajar belum ideal. Oleh karena itu, dalam membangun pendidikan masa depan, kita harus tetap berani merumuskan paradigma baru, formula baru, cara-cara baru, dan juga metode-metode baru (Suyanto, 2001: 9).                                                                                                                                
      Indikasi mengenai rendahnya kualitas pembelajaran sebagaimana yang digambarkan diatas sangat terasa dalam pembelajaran Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama. Beberapa masalah umum  yang dijumpai dalam pembelajaran Agama Islam di Sekolah Dasar, Misalnya : (1) bagaimana mengembangkan pengertian atau pemahaman tentang pengetahuan dalam diri siswa, serta (2) bagaimana memilih dan menggunakan strategi pembelajaran yang cocok dengan meteri yang akan diajarkan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa masalah utama pembelajaran Agama Islam di SD yakni, terjadinya benturan antara pengetahuan dan pengalaman belajar yang dimiliki siswa sebelumnya dengan perubahan konseptual yang dipelajari atau yang diajarkan guru. Benturan tersebut, apabila lepas dari perhatian guru, besar kemungkinan akan menjadi kendala dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini siswa akan mengalami kesulitan memahami konsep – konsep dasar dan mengaplikasikan pengetahuan Agama Islam yang dipelajari. Disamping itu proses pembelajaran akan berlangsung tanpa mengikuti rule of learning karena mengabaikan pemberian kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan apa yang sedang dipelajarinya. Fenomena terjadi dalam proses belajar mengajar Agama Islam di Sekolah Dasar sekarang ini semakin jauh dari perhatian dan pengamatan guru. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu adanya, pembelajaran Agama Islam yang memperhatikan sejumlah variabel seperti : kemampuan awal siswa, strategi pembelajaran pembelajaran yang mengacu pada ketrampilan memecahkan masalah dilingkungan belajar siswa yang kondusif bagi tumbuhnya minat belajar siswa secar optimal.
      Dari gambaran masalah-masalah yang diungkapkan diatas, terlihat pentingnya altermatif  pemecahan masalah atau diskusi pembelajaran Agama Islam di SD . Alternatif dimaksud yaitu sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman, keterampilan berfikir kritis dan kemampuan, mengaplikasikan teori dan konsep-konsep yang telah dipahami untuk memudahkan pemecahan masalah yang dihadapi.Kondisi pembelajaran yang sangat memprihatinkan pada gilirannya membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai kalangan, guna mencari alternatif pemecahan masalah yang tepat. Walupun  berbagai upaya telah dan sedang dilaksanakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Agama Islam dengan pengadaan sarana dan prasarana, penyempurnaan kurikulum, penataran guru bidang study, pengadaan buku paket, pengadaan sanggar dan pemantapan kelompok kerja Guru (PKG), akan tetapi persoalan yang mendasar yaitu praktek pembelajaran belum juga teratasi karena masih berpegang pada praktek pembelajaran secara klasikal.Guna menanggulangi permasalahan pembelajaran, para pakar teknologi pembelajaran menaruh perhatian pada upaya memperbaiki proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi dan memanipulasi variabel pembelajaran yang dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran.
      Menurut Reigeluth dalam Degeng (1989 : 14) pada hakekatnya hanya variabel metode pembelajaran yang berpeluang untuk dimanipulasi. Karena metode yang tepat dengan memperhatikan kondisi yang ada akan dapat meningkatkan prestasi belajar. Senada Dengan Reigeluth, Degeng (2001 : 12) berpendapat bahwa saat ini diperlukan pengetahuan tentang jenis–jenis metode yang dapat membuat belajar menjadi mudah dan lebih menyenangkan bagi siswa, metode yang lebih efektif, efisien, dan memilikin daya tarik tinggi. Untuk memungkinkan siswa aktif dalam proses belajar, diperlukan kemampuan dan ketrampilan guru yang memadai dalam hal pengambilan keputusan yang tepat melalui penciptaan kondisi belajar yang relavan dengan tujuan yang hendak dicapai serta kondisi yang ada. Pembelajaran diskusi kelompok adalah salah satu strategi pembelajaran untuk membuat siswa dapat berinteraksi atas siswa (Oemar Hamalik, 2001 : 117) model mengajar kelompok diatas lebih menekankan aktivitas belajar siswa secara bersama dalam kelompok sehingga mengembangkan hubungan sosial dalam pemecahan masalah belajar  (Nana Sudjana, 1989 : 86). Wentzel  dalam Jamaluddin (2001 : 41) mengemukakan : Bahwa  Respons siswa terhadap sekolah juga memiliki hubungan dengan status keanggotaan siswa dalam kelimpok mereka. Hubungan yang baik dengan sesama teman mempengaruhi performance akademik siswa, malalui stimulasi dan kondisi belajar yang inklusif yang mendorong siswa untuk bisa berkonsentrasi dan memberikan yang terbaik yang bisa dilakukan.
      Johnson dan Jonhson (1988 : 73 ) mengatakan bahwa cooperatif learning   adalah salah satu bentuk pembelajaran diskusi kelompok dimana para siswa dapat belajar bekerja sama dalam menyelesaikan tugas, dan saling meyakinkan antar anggota kelompok dalam mempelajari meteri yang ditugaskan. Sehingga apa yang dilakukan siswa dapat berinteraksi satu dengan yang lainnya untuk memahami kebermaknaan isi pelajaran dan bekerjasama secara aktif dalam menyelesaikan tugas atau pelajaran.
      Secara operasional, penelitian ini akan menguji pengaruh metode diskusi kelompok terhadap prestasi  pembelajaran Agama Islam. Metode pembelajaran pada penelitian ini mengacu pada strategi penyampaian dan strategi pengelolaan yang berbasis pada pembelajaran diskusi kelompok. Prestasi  pembelajaran berupa prestasi belajar atau ujuk kerja yang dapat memperlihatkan siswa dalam menyelesaikan soal-soal Agama Islam. Kondisi pembelajaran dalam menyelesaikan soal-soal Agama Islam.
      Semakin banyak siswa menggunakan waktu latihan dalam belajar Agama Islam, diprediksi akan semakin mampu memahami soal-soal dan cara penyelesaian yang tepat, sebaliknya ketiadaan waktu yang cukup akan menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan soal-soal Agama Islam yang dihadapai. Kesulitan ini semakin intens terjadi bila siswa hanya mengharapkan apa yang dijelaskan guru dalam kelas.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dirumuskan sebagai berikut :
Apakah ada peningkatan hasil belajar Agama Islam yang diajar dengan pembelajaran diskusi kelompok siswa kelas VI SD Negeri Kec. ?”

C.    Tujuan Penelitian
Berpijak pada masalah yang akan diteliti, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :
Peningkatan hasil belajar Agama Islam yang diajar dengan pembelajaran diskusi kelompok siswa kelas VI SD Negeri Kec. .”

D.    Kegunaan Dan Manfaat Penelitian
1.    Kegunaan Penelitian
Mengungkapkan keunggulan pembelajaran diskusi kelompok terhadap prestasi belajar.
2.    Manfaat Penelitian
Manfaat  penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
  • Guru-guru lebih memperhatikan faktor-faktor yang dapat meningkatkan prestasi belajar.
  • Guru bidang studi Agama Islam agar menerapkan pembelajaran diskusi kelompok untuk meningkatkan prestasi belajar.
  • Peneliti lain, sebagai landasan pijakan dalam melakukan penelitian lanjutan dengan melibatkan lebih lengkap komponen strategi-strategi pembelajaran, khususnya pembelajaran diskusi kelompok.

E.    Hipotesis
Dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut:
Ha :    ada peningkatan hasil belajar Agama Islam yang diajar dengan pembelajaran diskusi kelompok siswa kelas VI SD Negeri Kec. ”
Ho :  tidak ada peningkatan hasil belajar Agama Islam yang diajar dengan pembelajaran diskusi kelompok siswa kelas VI SD Negeri Kec. ”

F.    Pembatasan Penelitian
Penelitian ini dibatasi pada tiga aspek sebagai berikut :
1.    Eksperimen terbatas pada Semester I, sesuai isi bidang studi Agama Islam.
2.    Strategi pembelajaran yang digunakan terbatas pada strategi pembelajaran diskusi kelompok
3.    Penelitian dilaksanakan hanya di kelas VI.

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode024.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini: