Sabtu, 14 Juni 2014

Perbandingan Hasil Belajar Siswa dlm Pembuatan Puisi yang Dilakukan di dalam Kelas Melalui Imajinasi dengan di Luar Kelas Melalui Pembelajaran langsung Siswa Kelas III SMP Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan prasarana pendidikan lainnya, dan peningkatan mutu manajemen pendidikan sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang merata.
Menurut Piaget (dalam Nasution, 2000) mengemukakan bahwa, proses berpikir manusia berkembang secara bertahap, dari berpikir konkrit ke abstrak melalui 4 periode. Keempat periode tersebut adalah (a) periode sensori motor (0-2 tahun), (b) periode pra operasional (2-7 tahun), (c) periode operasi konkrit (7-12 tahun), dan (d) periode operasi formal (11-12 tahun ke atas). Dari tahap perkembangan tersebut nampak bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia yang diberikan kepada siswa di Sekolah Menengah Pertama telah berada pada tingkat pemikiran operasi formal.
Tilaar yang dikutip Mulyasa (2002: 20) mengemukakan bahwa: Pendidikan nasional dewasa ini sedang dihadapkan pada empat krisis pokok, yang berkaitan dengan kuantitas, relevansi atau efisiensi eksternal, elitisme, dan manajemen. Lebih lanjut dikemukakan bahwa sedikitnya ada tujuh masalah pokok sistem pendidikan nasional: (1) menurunnya akhlak dan moral peserta didik, (2) pemerataan kesempatan belajar, (3) masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan, (4) status kelembagaan, (5) manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan nasional, dan (6) sumber daya yang belum profesional.
Para pendidik menyadari bahwa Bahasa Indonesia bukanlah termasuk bidang studi yang mudah bagi kebanyakan siswa. Bahasa Indonesia sering di keluhkan sebagai bidang studi yang sulit dan membosankan. Menurut Soedjadi (1991: 5) bahwa Faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan di antaranya adalah: (1) masukan / input; (2) masukan instrumen; dan (3) lingkungan. Selanjutnya dikatakan bahwa masukan instrumen yang meliputi pendidikan, sarana, dan kurikulum dalam arti luas serta evaluasi hasil belajar, dipandang sebagai faktor dominan yang memiliki pengaruh besar. Dalam meningkatkan mutu pendidikan hanya mungkin dicapai dengan meningkatkan mutu proses pendidikan yang didalamnya terdapat interaksi antara siswa, guru, sarana, kurikulum, evaluasi dan lingkungan. Dari beberapa faktor tersebut dapat bersama-sama atau sendiri-sendiri mempengaruhinya. Artinya hasil belajar yang rendah tidak hanya dipengaruhi oleh salah satu faktor saja.
Menurut Soedjadi (1992) bahwa bukan sesuatu yang mustahil rendahnya hasil belajar dikarenakan materi kurikulum yang terlalu berat, metode pembelajaran yang tidak tepat, sarana pembelajaran yang tidak mendukung, atau lingkungan sekolah yang tidak memungkinkan proses pembelajaran berjalan normal. Misalnya, perpustakaan sederhana, dan sarana laboratorium yang dimiliki kurang memadai.    Akibat keterbatasan-keterbatasan tersebut sebagian besar pembelajaran dilaksanakan secara tradisional/konvensional, sehingga dalam waktu relatif singkat dapat menyajikan dan menyelesaikan bahan ajar yang cukup banyak melalui ceramah. Hal ini menyebabkan pelajaran Bahasa Indonesia termasuk pelajaran yang kurang diminati siswa.
Berdasarkan kenyataan di lapangan tersebut, salah satu cara untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa perlu suatu strategi atau pemilihan model pembelajaran yang tepat. Menurut Carin (1993: 82) yang dikutip oleh Kuswardi mengemukakan pembelajaran langsung secara sistematis menuntun dan membantu siswa untuk melalui tahap-tahap pembelajaran tertentu, yang bermaksud untuk melihat hasil belajar dari masing masing tahap.  Pembelajaran langsung adalah salah satu model pembelajaran yang memusat pada  guru dan disajikan melalui 5 tahap, yaitu (1) menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa; (2) mendemonstrasikan pengetahuan; (3) pemberian pelatihan terbimbing; (4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik; dan (5) memberikan perluasan latihan mandiri. Pembelajaran langsung secara sistematis menuntun dan membantu  siswa melalui langkah-langkah atau tahapan-tahapan tertentu, dan selanjutnya siswa akan aktif bekerja sendiri dengan adanya kegiatan latihan terbimbing dan latihan mandiri. Ini berarti siswa akan mendapat informasi yang jelas dalam mempelajari suatu materi pelajaran.

B.    Rumusan Masalah
        Dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “adakah perbandingan hasil belajar siswa dalam pembuatan puisi yang dilakukan di dalam kelas melalui imajinasi dengan di luar kelas melalui pembelajaran langsung?”

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan ini adalah : “untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa dalam pembuatan puisi yang dilakukan di dalam kelas melalui imajinasi dengan di luar kelas melalui pembelajaran langsung

D.    Batasan Istilah Penelitian
Model  pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.
Pembelajaran langsung adalah suatu pembelajaran yang bertumpu pada prinsip prilaku dan teori belajar sosial yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola bertahap, selangkah demi selangkah.
Hasil Belajar Siswa adalah tingkat pencapaian belajar, yang diukur dari skor yang diperoleh berdasarkan tes hasil belajar  kognitif dan psikomotor setelah mengikuti pembelajaran.

E.  Manfaat Penelitian
1. Dapat memberikan informasi kepada guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri tentang keefektifan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menerapkan pembelajaran langsung dengan penilaian autentik assesment.
2. Dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri dalam menentukan alternatif pembelajaran Bahasa Indonesia dengan penilaian autentik assesment

F.   Hipotesis
             Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
Ha :     Ada perbandingan hasil belajar siswa dalam pembuatan puisi yang dilakukan di dalam kelas melalui imajinasi dengan di luar kelas melalui pembelajaran langsung
Ho :     Tidak ada perbandingan hasil belajar siswa dalam pembuatan puisi yang dilakukan di dalam kelas melalui imajinasi dengan di luar kelas melalui pembelajaran langsung

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode055.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar