Sabtu, 14 Juni 2014

Peningkatan Prestasi Belajar Matematika dengan Pemberian Tugas Siswa Kelas IX

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dari sekian banyak bidang studi yang diberikan pada peserta didik, ternyata sesuai dengan data yang diperoleh nilai rata-rata bidang studi matematika berada dibawah bidang studi lainnya. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan belajar siswa, salah satunya adalah kualitas pengajaran termasuk dalam hal ini adalah kualitas pengajaran matematika.
Seperti yang disampaikan Radikun (1989: 18) pada umumnya masyarakat menilai, bahwa kualitas pengajaran matematika rendah, kegiatan pengajaran kurang efektif, kurang efisien dan kurang membangkitkan siswa untuk belajar. Didasarkan pada pernyataan di atas tentunya terjadi pada siswa SMP bahwa rendahnya hasil belajar metematika disebabkan karena kualitas pengajaran matematika  masih rendah. Oleh karena itu untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, penggunaan metode hendaknya disesuaikan dengan pokok bahasan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran salah satunya adalah memberikan tugas terhadap siswa dengan maksimal, menyadari akan tuntutan jaman dan memperhatikan pula bahwa perbaikan mutu pendidikan di Indonesia ini sangat perlu penyempurnaan, baik sarana maupun teknis pembelajaran termasuk di dalamnya adalah metode pembelajaran. Karena metode adalah merupakan cara sistematis yang digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pengajaran bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan adanya kemampuan guru yang dimiliki tentang dasar-dasar mengajar yang baik (Subroto, 1997: 18). Proses belajar mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu (Usman, 1990: 19).
Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlansung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran. Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan pengelolaan proses belajar mengajar adalah kesanggupan atau kecakapan para guru dan siswa yang mencakup segi kognitif, afektif dan psikomotor, sebagai upaya mempelajari sesuatu berdasarkan perencanaan sampai dengan tahap evaluasi dan tindak lanjut agar tercapai tujuan pengajaran. Proses Belajar Menganjar merupakan inti dari Pendidikan Formal dengan guru-guru sebagai pemegang peranan utama. Dalam proses Belajar Mengajar sebagian besar hasil belajar siswa ditentukan oleh peranan guru.
Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan mampu mengelola proses belajar mengajar, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal (Usman, 1990: 19). Dengan demikian apabila metode mangajar dilakukan dengan tepat serta dibawakan dengan baik, maka sudah barang tentu tujuan pembelajaran yang telah direncanakan akan dapat tercapai dengan baik. Guru akan dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik apabila menguasai dan mampu mengajar didepan kelas dengan menggunakan metode yang sesuai dengan pelajaran yang dibawakan atau disampaikan. Diantara sekian banyak metode yang dapat diterapkan untuk membawa siswa memahami pelajaran yang sedang disampaikan dan menuju perolehan prestasi belajar yang baik adalah metode pemberian tugas atau Resitasi.
Dalam kegiatan belajar mengajar guru kadang kurang memperhatikan situasi kelas, kemampuan siswa baik secara individu maupun kelompok. Kebiasaan dalam menggunakan metode ceramah saja sehingga lupa waktu, dalam satu pertemuan hanya dihabiskan untuk ceramah saja. Tugas terlupakan baik individu atau kelompok. Terdapat dua istilah yang sering ditukar pakaikan di dalam membahas metode pemberian tugas, yaitu assessment dan recitation. Namun demikian kedua istilah tersebut tidak sama. Mudjiono (1993: 67) memberi pengertian tentang metode pemberian tugas adalah suatu format interaksi belajar mengajar yang ditandai adanya satu atau lebih tugas yang diberikan oleh guru, dimana penyelesaian tugas tersebut dapat dilakukan secara perseorangan atau secara kelompok sesuai dengan perintahnya. Dimasa lalu tugas (assessment) sering disamakan dungeon pekerjaan rumah (PR).
Para pengajar sekarang memandang tugas sebagai suatu pekerjaan yang harus dilakukan dengan baik di rumah maupun di kelas. Tugas (assessment) merupakan suatu pekerjaan, yang diberikan kepada individu atau kepada kelas.  Resitasi (recitation) sebagai suatu tindakan mengulang dari ingatan, suatu hafalan pelajaran. Tekanan yang diberikan pada resitasi adalah hafalan atau latihan.  Resitasi merupakan penyajian kembali atau penimbulan kembali apa-apa yang diingat, diketahui atau dipelajari, selanjutnya penulis lain belakangan ini menyamakan metode pemberian tugas belajar dengan resitasi sebagai cara penyajian bahan pelajaran dengan menugaskan pelajar-pelajar mempelajari sesuatu yang kemudian  harus dipertanggung jawabkan.
Tugas yang diberikan oleh guru dapat memperdalam bahan pelajaran, dapat pula mengembangkan bahan yang telah dipelajari, dapat pula mengecek bahan yang telah dipelajari.  Tugas dalam artian assessment dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang harus dilakukan oleh peserta didik, yang diberikan oleh pengajarnya, untuk mencapai tujuan pengajaran. Hasil tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada pengajar. Penyelesaian tugas ini tidak terikat dengan tempat, bisa di kelas, bisa di laboratorium, di perpustakaan ataupun di rumah. Meskipun metode pemberian tugas memiliki kebaikan-kebaikan tersebut. Metode ini juga memiliki kelemahan. Di antaranya adalah: (1) seringkali siswa melakukan penipuan dimana dia hanya meniru atau menyalin tanpa mengalami peristiwa belajar, (2) ada kalanya tugas itu dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan, (3) apabila tugas terlalu sering diberikan. Apalagi bila tugas-tugas itu sukar dilaksanakan oleh siswa, ketenangan mental mereka dapat terpengaruh, dan (4) sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual. (Surakhmad, 1991: 105).
Menyadari akan kelemahan-kelemahan tersebut, maka setepatnya digunakan cara-cara yang dapat mengawasi proses penyelesaian tugas oleh  siswa. Dengan demikian akan benar-benar terjadi proses belajar di dalam diri siswa, dalam menggunakan metode pemberian tugas adalah dengan meminta mereka mengerjakan di kelas dengan pengawasan.
Penggunaan metode Pemberian tugas terhadap siswa akan dapat terbiasa untuk mengisi waktu luangnya dengan mengerjakan tugas yang diterima di sekolah yang diberikan oleh guru. Penyampaian isi dan pengelolaan pembelajaran dan metode sebagai salah satu  upaya untuk meningkatkan kualitas pengajaran pada gilirannya untuk mencapai hasil belajar sesuai yang diharapkan, tidak dapat lepas dari kondisi pengajaran, salah satunya yakni karakteristik si belajar (Degeng, 1989: 87). Dalam hal ini peneliti memperhatikan karakteristik si belajar pada gaya kognitif siswa. Gaya kognitif dipilah menjadi dua tingkatan yaitu gaya kognitif field independent (FI) dan gaya kognitif field dependent (FD).
Seseorang dikatakan memiliki gaya kognitif field dependent (FD), apabila ia mendapat kesulitan dalam mencari sesuatu gambar sederhana yang tersembunyi. Sebaliknya sesorang dikatakan memilki gaya kognitif field independent (F1) apabila ia dengan mudah dapat mengatasi pengaruh pola kompleks dalam gambar sederhana yang tersembunyi di dalamnya (Written dkk, 1990: 7). Begitu juga Usman (1994: 29) memberi penekanan tentang domain kognitif mencakup tujuan yang berhubungan dengan ingatan (recall), pengetahuan, dan kemampuan intelektual. Sehubungan dengan itu maka perlu diadakan penelitian lebih lanjut apakah benar penggunaan metode pemberian tugas dan gaya kognitif berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, khususnya untuk mata pelajaran Matematika. Hal ini juga dimaksudkan agar penggunaan metode pembelajaran Matematika tidak monoton menggunakan satu metode saja yaitu ceramah, tetapi juga dengan pemberian tugas.

B.    Rumusan Masalah
Apakah ada peningkatan prestasi belajar matematika dengan pemberian tugas kelompok siswa Kelas IX SMP Negeri?

C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mencari bukti empirik tentang hubungan pemberian tugas dan gaya kognitif terhadap hasil belajar siswa untuk :
Mengetahui peningkatan prestasi belajar matematika dengan pemberian tugas kelompok siswa Kelas IX SMP Negeri 

D.    Manfaat Penelitian
1.    Untuk memberikan sumbangan kepada para guru terhadap penggunaan metode pemberian tugas dalam proses pembelajaran utama pada pelajaran Matematika siswa Kelas IX SMP Negeri
2.    Sebagai masukan bagi para guru, guna peningkatan mutu pembelajaran dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan siswa V SMP Negeri
3.    Untuk memberikan motivasi kepada para siswa agar dapat terlatih mengikuti pelajaran dengan menggunakan metode pemberian tugas.
4.    Bagi peneliti, temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam pengekfetifan metode pembiarian tugas dalam pembelajaran Matematika siswa Kelas IX SMP Negeri

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode054.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar