Sabtu, 14 Juni 2014

Peningkatan Prestasi Belajar Matematika dengan Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw pada Pokok Bahasan Persamaan dan Fungsi Kwadrat Siswa Kelas X

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
              Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan seseorang dalam peranannya dimasa yang akan datang. Pendidikan yang terjadi melalui interaksi insani, tanpa batasan ruang dan waktu. Pendidikan tidak dimulai atau diakhiri disekolah. Pendidikan dimulai dilingkungan keluarga, dilanjutkan dan tempat dalam lingkungan sekolah diperkaya dalam lingkungan masyarakat dan hasil-hasilnya digunakan dalam membangun kehidupan pribadi, agama, masyarakat, keluarga dan negara.
            Adalah suatu kenyataan bahwa pemerintah bukanlah satu-satunya lembaga yang bertanggungjawab didalam pelaksanaan di Indonesia, akan tetapi pendidikan juga merupakan tanggung jawab semua warga negara Indonesia termasuk didalamnya keluarga. Ditinjau dari lokasi waktu, manusia berkembang pada masing-masing tahap dan pertumbuhannya, lingkungan keluarga menempati urutan pertama dan utama bagi manusia dalam menerima pengaruh pendidikan, kemudian dari lingkungan sekolah dan akhirat dari lingkungan masyarakat. Salah satu keprihatinan yang dilontarkan banyak kalangan mengenai penyelenggaraan sistem pendidikan di Indonesia adalah rendahnya kualitas Out Put yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal. Menurut Indra Djatisidi (2001: 3)  masalah krusial yang dihadapi dalam pelaksannan sistem pendidikan nasional adalah belum adanya kesatuan pandangan tentang paradigma yang dianut dalam sistem pendidikan nasional, sehingga muncul suatu sinyalemen bahwa sistem pendidikan kita sedang berada pada persimpangan jalan. Hal ini berarti jika kita membelokkan arah sistem pendidikan kita ke jalan yang tepat, harapan dan tuntutan akan dapat dicapai dengan mudah. Sebaliknya, jika berbelok kearah yang salah, akan terjadi sebaliknya. Suyanto (2001: 17) berpendapat bahwa dari segi mutu pendidikan nasional kita, masih jauh ketinggalan. Banyak indikator yang menunjukkan hal ini Secara eksternal rendahnya kualitas  lembaga pendidikan formal disebabkan oleh kebijakan sistem pendidikan yang sentralistik, sementara secara internal praktek pembelajaran masih menggunakan pendekatan– pendekatan yang tradisional dimana guru masih dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan sehingga prestasi belajar belum ideal. Oleh karena itu, dalam membangun pendidikan masa depan, kita harus tetap berani merumuskan paradigma baru, formula baru, cara-cara baru, dan juga metode-metode baru (Suyanto,2001:9).                                                                                                                                 
Temuan penelitian menunjukkan bahwa masalah utama pembelajaran Matematika  di SMA yakni, terjadinya benturan antara pengetahuan dan pengalaman belajar yang dimiliki siswa sebelumnya dengan perubahan konseptual yang dipelajari atau yang diajarkan guru. Benturan tersebut, apabila lepas dari perhatian guru, besar kemungkinan akan menjadi kendala dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini siswa akan mengalami kesulitan memahami konsep – konsep dasar dan mengaplikasikan pengetahuan Matematika  yang dipelajari. Disamping itu proses pembelajaran akan berlangsung tanpa mengikuti rule of learning karena mengabaikan pemberian kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan apa yang sedang dipelajarinya. Fenomena terjadi dalam proses belajar mengajar Matematika di SMA sekarang ini semakin jauh dari perhatian dan pengamatan guru. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu adanya, pembelajaran Matematika  yang memperhatikan sejumlah variabel seperti : Kemampuan awal siswa, strategi pembelajaran yang mengacu pada ketrampilan memecahkan masalah dilingkungan belajar siswa yang kondusif bagi tumbuhnya minat belajar siswa secara optimal.
Dari gambaran masalah-masalah yang diungkapkan diatas, terlihat pentingnya altermatif pemecahan masalah pembelajaran Matematika di SMA. Alternatif dimaksud yaitu sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman, keterampilan berfikir kritis dan kemampuan, mengaplikasikan teori dan konsep-konsep yang telah dipahami untuk memudahkan pemecahan masalah yang dihadapi.
Salah satu faktor penyebab mempengaruhi mutu pendidikan matematika adalah ketidaktepatan penggunaan model pembelajaran yang dilaksanakan disekolah, dimana kenyataan menunjukkan kebanyakan guru selama ini menggunakan model pembelajaran secara konvensional yang banyak didominasi guru (Sinaga, 1999: 1). Dalam pembelajaran konvensional guru cenderung memindahkan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa sehingga konsep, prinsip dan aturan-aturan terkesan saling terisolasi dan kurang bermakna (Sinaga, 1999: 2).  Sehingga penggunaan model pembelajaran tersebut dapat mengakibatkan keterlibatan siswa selama pembelajaran menurun dan keaktifan siswa rendah. Dalam hal ini siswa tidak  berperan sebagai subyek belajar yang aktif dan kreatif melainkan obyek pembelajaran. Tanggung jawab siswa dalam hal kemampuan mengembangkan, menemukan, menyelidiki dan mengungkapkan pengetahuannya menjadi berkurang. Kondisi pembelajaran yang sangat memprihatinkan pada gilirannya membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai kalangan, guna mencari alternatif pemecahan masalah yang tepat. Walaupun berbagai upaya telah dan sedang dilaksanakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika dengan pengadaan sarana dan prasarana, penyempurnaan kurikulum, penataran guru bidang study, pengadaan buku paket, pengadaan sanggar dan pemantapan kooperatif kerja Guru (MGMP), akan tetapi persoalan yang mendasar yaitu praktek pembelajaran belum juga teratasi karena masih berpegang pada praktek pembelajaran secara konvensional. Guna menanggulangi permasalahan pembelajaran, para pakar teknologi pembelajaran menaruh perhatian pada upaya memperbaiki proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi dan memanipulasi variabel pembelajaran yang dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran.
Untuk memungkinkan siswa aktif dalam proses belajar, diperlukan kemampuan dan ketrampilan guru yang memadai dalam hal pengambilan keputusan yang tepat melalui penciptaan kondisi belajar yang relavan dengan tujuan yang hendak dicapai serta kondisi yang ada,yaitu dengan pembelajaran teknik Jigsow. Pembelajaran Tehnik Jigsaw selain diawali pembentukan kooperatif yang memenuhi persyaratan faktor heterogenitas, juga melalui tahap-tahap yang telah di programkan yakni diawali dengan merencanakan, mempersiapkan, memonitor dan memfasilitasi sehingga proses pembelajaran benar-benar efektif. Jacobs,  (Lie, 1999: 7). Tehnik pembelajaran Jigsaw  dikembangkan oleh Aronson, Blaney, Stephen, Sikes dan Snapp, 1978. Dalam tehnik ini guru membantu siswa mengaktifkan kemampuan otak menerima dan mengasosiasikan rangsangan sehingga bahan pelajaran menjai lebih bermakna. (Lie, 1999: 73). Lebih Lanjut disampaikan bahwa dengan tehnik Jigsaw siswa belajar dalam suasana gotong royong, mempunyai banyak kesempatan untuk mengelolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomunikasi.
Melalui landasan filosofi konstruktivisme, pembelajaran Model Teknik Jigsaw dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang baru, suatu pembelajaran, kooperatif yang mencerminkan pandangan bahwa manusia belajar dari pengalaman mereka dan partisipasi aktif dalam kooperatif kecil membantu siswa belajar ketrampilan sosial yang sementara itu secara bersamaan mengembangkan sikap demokratis dan ketrampilan berpikir logis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pengajaran dimana siswa bekerja dalam kooperatif yang campur kemampuannya. Dalam pembelajaran kooperatif, kooperatif kecil siswa bekerjasama saling membantu dalam belajar. Digunakannya kooperatif-kooperatif dalam pembelajaran karena siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Struktur tujuan kooperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan mereka hanya jika siswa lain dengan siapa mereka bekerjasama mencapai tujuan tersebut. Tiap-tiap inividu ikut andil menyumbang pencapaian tujuan itu. Siswa dibentuk dalam kooperatif dengan kemampuan yang heterogen agar siswa terlatih menerima perbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Pada model pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan spesifik untuk membantu mereka bekerjasama dengan baik dalam kooperatif.Dalam proses belajar mengajar  tidak hanya mengandalkan satu metode saja, akan tetapi juga menggunakan metode yang sesuai dengan materi pelajaran. Menurut Djajadisastra, (1982: 19) metode pemecahan masalah atau berfikir refleksi atau problem solving, merupakan suatu cara mengajar yang merangsang seseorang untuk menganalisa dan melakukan sintesa dalam kesatuan struktur atau situasi di mana masalah itu berada, atas inisiatif sendiri.
Metode ini menuntut kemampuan untuk dapat melihat sebab akibat atau relasi-relasi di antara berbagai data, sehingga pada akhirnya dapat menemukan kunci pembuka masalahnya. Metode ini mengembangkan kemampuan berfikir yang dipupuk dengan adanya kesempatan untuk mengopservasi problema, mengumpulkan data, menganalisa data, menyusun suatu hipotesa, mencari hubungan (data) yang hilang dari data yang telah terkumpul untuk kemudian menarik kesimpulan yang merupakan hasil pemecahan masalah tersebut.

B.    Rumusan Masalah  
           Dari latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan sebagai berikut:
Apakah ada peningkatan prestasi belajar matematika pokok bahasan persamaan dan fungsi  kwadrat dengan pembelajaran kooperatif teknik jigsaw siswa kelas X SMA Negeri ?”

C.    Tujuan Penelitian
Adapun secara khusus tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini berpijak dengan rumusan masalah adalah:
Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar matematika pokok bahasan persamaan dan fungsi kwadrat dengan pembelajaran kooperatif teknik jigsaw siswa kelas X SMA Negeri

D.    Manfaat Penelitian
1.    Secara teoritik penelitian ini bermanfaat:
a. Mengungkapkan pengaruh pembelajaran teknik jigsaw terhadap prestasi belajar.
b. Mengungkapkan dampak pembelajaran teknik jigsaw terhadap prestasi belajar mata pelajaran Matematika pokok bahasan persamaan dan fungsi kwadrat siswa kelas X SMA Negeri
2.    Secara Praktis penelitian ini bermanfaat:
a. Sebagai masukan bagi guru matematika dalam melaksanakan model pembelajaran untuk perbaikan proses pembelajaran dan secara khusus guna memperbaiki hasil belajar matematika.
b. Memberi motivasi kepada siswa dalam belajar matematika
c. Memberikan sumbangan informasi kepada pengembang ilmu pengetahuan tentang pembelajaran teknik jigsaw dalam pembelajaran Matematika.
d. Menjadikan bahan kajian bagi guru SMA dalam pelajaran matematika untuk merancang dan menerapkan sistim pembelajaran teknik jigsaw sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan prestasi belajar.
e. Memberikan sumbangan pada lembaga pendidikan bahwa temuan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan dalam menentukan kebijakan yang akan diputuskan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

E.    Hipotesis Penelitian
Mengacu pada permasalahan yang telah dirumuskan  , maka di rumuskan suatu hipotesis penelitian sebagai berikut:
Ha:       Ada peningkatan prestasi belajar matematika pokok bahasan persamaan dan fungsi  kwadrat dengan pembelajaran kooperatif teknik jigsaw siswa kelas X SMA Negeri
Ho:       Tidak ada peningkatan prestasi belajar matematika pokok bahasan persamaan dan fungsi  kwadrat dengan pembelajaran kooperatif teknik jigsaw siswa kelas X SMA Neger.

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode051.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar