Kamis, 12 Juni 2014

Peningkatan Hasil Belajar Kewarganegaraan Pokok Bahasan Rela Berkorban dengan Pembelajaran CTL Siswa Kelas IV SD Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
 Keberhasilan pendidikan tidak bisa dipisahkan dari tingkat kedisiplinan semua warga sekolah, termasuk siswa karena itu sekolah harus membuat tatatertib siswabaga-lembaga pendidikan formal. Menurut Indra (2001 : 3)  masalah krusial yang dihadapi dalam pelaksannan sistem pendidikan nasional adalah belum adanya kesatuan pandangan tentang paradigma yang dianut dalam sistem pendidikan nasional, sehingga muncul suatu sinyalemen bahwa sistem pendidikan kita sedang berada pada persimpangan jalan. Hal ini berarti jika kita membelokkan arah system pendidikan kita ke jalan yang tepat, harapan dan tuntutan akan dapat dicapai dengan mudah. Sebaliknya, jika berbelok kearah yang salah, akan terjadi sebaliknya. Suyanto (2001 : 17) berpendapat bahwa dari segi mutu pendidikan nasional kita, masih jauh ketinggalan. Banyak indikator yang menunjukkan hal ini.
Secara eksternal rendahnya kualitas  lembaga pendidikan formal disebabkan oleh kebijakan sistem pendidikan yang sentralistik, sementara secara internal praktek pembelajaran masih menggunakan pendekatan-pendekatan yang tradisional dimana guru masih dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan sehingga prestasi belajar belum ideal.
Oleh karena itu, dalam membangun pendidikan masa depan, kita harus tetap berani merumuskan paradigma baru, formula baru, cara-cara baru, dan juga metode-metode baru (Suyanto, 2001 : 9). Fenomena terjadi dalam proses belajar mengajar Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar  sekarang ini semakin jauh dari perhatian dan pengamatan guru. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu adanya, pembelajaran Bahasa Indonesia yang memperhatikan sejumlah variabel seperti : strategi pembelajaran pembelajaran yang mengacu pada belajar yang mengaitkan antara materi dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dari gambaran masalah-masalah yang diungkapkan diatas, terlihat pentingnya pembelajaran dunia nyata di sekolah.
Alternatif yang dimaksud yaitu sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman, keterampilan berfikir kritis dan kemampuan, mengaplikasikan teori dan konsep-konsep yang telah dipahami untuk memudahkan penerapan dalam dunia nyata.   Menurut Reigeluth dalam Degeng (1989: 14 ) pada hakekatnya hanya variabel metode pembelajaran yang berpeluang untuk dimanipulasi. Karena metode yang tepat dengan memperhatikan kondisi yang ada akan dapat meningkatkan hasil belajar. Senada dengan Reigeluth, Degeng (2001 : 12) berpendapat bahwa saat ini diperlukan pengetahuan tentang jenis–jenis metode yang dapat membuat belajar menjadi mudah dan lebih menyenangkan bagi siswa, metode yang lebih efektif, efisien, dan memiliki daya tarik tinggi. Kajian tingkat motivasi berprestasi dalam penelitan ini terbatas pada tinggi rendahnya motivasi berprestasi yang dapat dilihat dari prilaku subyek, seperti harapan untuk sukses, bekerja keras, kekhawatiran akan gagal, dan keinginan memperoleh nilai yang lebih tinggi, merupakan indikator yang dipakai dalam penelitian ini.  Dalam hal ini diprediksi bahwa perolehan belajar yang dimiliki oleh subyek merupakan hasil pembelajaran yang tidak terlepas dari prilaku yang ditunjukkannya. Guru memberikan motivasi kepada seorang siswa berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan seseatu . Pada tahab awalnya akan menyebabkan si subyek belajar ada kebutuhan dan ingin melakukan sesuatu kegiatan belajar.
Keadaan dan situasi ini disadari oleh pakar pendidikan. Penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya psikologi pendidikan dan teknologi dalam kelas, mendorong perubahan yang mengarah lebih komplek, lebih mengarah, lebih terpadu, dan mengandung keseimbangan antara beberapa metode mengajar yang berdasarkan cara belajar yang optimal. Agaknya strategi / pendekatan-pendekatan belum cukup untuk menanggulangi perubahan pendidikan yang begitu komplek. Bagaimana cara guru agar siswa dapat belajar dengan bermakna yang sejalan dengan Degeng (2001 : 2) bahwa belajar adalah pemaknaan pengetahuan dan mengajar adalah menggali  makna, segala sesuatu bersifat temporer, berubah dan tidak menentu, itulah yang memberi makna terhadap realitas.
Dave Meier (2002 : 54) mengemukakan belajar adalah berkreasi, bukan menngkonsumsi. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang serap oleh pembelajaran, melainkan sesuatu yang diciptakan oleh pembelajar. Pembelajaran terjadi ketika seseorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Belajar berhafiah adalah menciptakan makna baru.  Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar “baru” yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
Melalui landasan filosofi konstruktivisme, CTL dipromosikan menjadi alternative strategi belajar yang baru. Melalui strategi CTL, siswa diharapkan belajar melalui “mengalami” bukan “menghapal”. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak ‘mengalami’ apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengetahui’-nya.  Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan, itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita. Nurhadi (2002 : 1) mengemukakan bahwa pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL¬) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya denga situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran di harapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti.
Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya mengapainya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (pengetahuan dan keterampilan) datang dari menemukan sendiri, bukan dari ‘apa kata guru’. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan konstektual.
Konstektual hanya sebuah strategi pembelajaran. seperti halnya strategi pembelajaran yang lain, konstektual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan konstektual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada. Dalam penelitian ini dibahas persoalan yang berkenaan dengan dengan pendekatan konstektual dan implikasi penerapannya. Sesuai dengan pendapat Nurhadi (2002: 3) bahwa anak belajar dari pengalaman sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Dari pendapat diatas jelas belajar tidak hanya sekedar menghafal, siswa harus mengkostruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subject matter). Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan. Sesuai dengan pendapat Jamaludin (2001 : 13) bahwa sekolah yang efektif meupakan respon terhadap harapan agar sekolah menjadi tempat dimana semua siswa dapat belajar dengan baik.
Dari uraian diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa pendekatan konstektual sangat cocok dalam pembelajaran karena pada hakekatnya pembelajaran konstektual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengait antara materi yang diajarkan dengan stuasi dunia nyata siswa dapat dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni : konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment). (Nurhadi, 2002 : 5). Melihat pembelajaran yang menekankan pada pemaknaan, Degeng (2001: 5) memberi penekanan bahwa tujuan pembelajaran menekankan pada penciptakan pemahaman, yang menuntut aktivitas, kreatifitas, produktifitas dalam konteks nyata.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dirumuskan sebagai berikut: “Adakah peningkatan hasil belajar Kewarganegaraan pokok bahasan rela berkorban dengan pembelajaran CTL siswa kelas IV SD Negeri ?”

C.    Tujuan Penelitian
Berpijak pada masalah yang akan diteliti, tujuan penelitian ini adalah: “Ingin mengetahui peningkatan hasil belajar Kewarganegaraan pokok bahasan rela berkorban dengan pembelajaran CTL siswa kelas IV SD Negeri"

D.    Hipotesis
Ha : Ada peningkatan hasil belajar Kewarganegaraan pokok bahasan rela berkorban dengan pembelajaran CTL siswa kelas IV SD Negeri
Ho :  Tidak ada peningkatan hasil belajar Kewarganegaraan pokok bahasan rela berkorban dengan pembelajaran CTL siswa kelas IV SD Negeri

E.    Manfaat Penelitian
1.  Secara teoritik penelitian ini bermanfaat mengungkapkan pengaruh pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar.
2.    Secara praktis penelitian ini bermanfaat :
a. Memberikan sumbangan informasi kepada peneliti selanjutnya tentang strategi pembelajarann contekstual teaching and learning (CTL) pendidikan Kewarganegaraan siswa  kelas IV di SD Negeri
b. Menjadi bahan kajian bagi guru pendidikan Kewarganegaraan dalam merencanakan dan menerapkan pembelajarann contekstual teaching and learning (CTL) kelas IV di SD Negeri
c.  Peneliti lain, sebagai landasan pijakan dalam melakukan penelitian lanjutan dengan melibatkan lebih lengkap komponen strategi-strategi pembelajaran, khususnya pembelajaran contekstual teaching and learning (CTL).

F.    Asumsi Penelitian
Dalam penelitian ini dikemukakan beberapa asumsi sebagai berikut : Strategi pembelajaran yang dirancang sesuai dengan kondisi dan karakteristik siswa dapat meningkatkan hasil  belajar siswa kelas IV di SD Negeri

G.    Batasan Istilah
Agar tidak terjadi salah pengertian tentang istilah yang digunakan dalam penelitian ini, batasan istilah dalam penelitian dijelaskan sebagai berikut :
1.    Pembelajaran kontekstual (Contextual Teachnic and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat huibungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
2.   Hasil belajar adalah deskripsi tentang tingkat penguasaan siswa pada tes hasil belajar. Hal ini diukur berdasarkan skor jawaban benar dari keseluruhan tes yang disusun.

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode037.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar