Kamis, 12 Juni 2014

Peningkatan Hasil Belajar Kewarganegaraan dengan Model Pembelajaran Portopolio Siswa Kelas XI SMA Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Salah satu persoalan nasional dalam menghadapi masa depan kita bersama ialah masalah peningkatan kemampuan pembangunan (development capability) kita. Kemampuan pembangunan yang telah kita miliki sekarang ini perlu kita tingkatkan agar kita tetap dapat mengatasi masalah-masalah pembangunan yang akan datang, dan langkah-langkah yang harus kita laksanakan bersama untuk mempersiapkan diri menghadapi masalah-masalah besar yang akan datang adalah:
1.    Penanaman sikap dasar yang benar terhadap usaha pembangunan. Inti sikap ini ialah keinginan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam kehidupan di sekitar kita. Hanya sikap dasar semacam ini yang akan mampu melahirkan tindakan membangun yang benar (genuine development)
2.    Memeprbaruhi pengetahuan pembangunan (Development knowledge) secara terus menerus pada dasarnya pengetahuan pembangunan suatu bangsa menurut Mochtar Buchori, meliputi dua hal, yaitu:
a.    Pengetahuan tentang ketidak sepadanan (inadequacies) yang terdapat dalam lingkungan bangsa dalam suatu kurun waktu
b.    Pengetahuan tentang langkah-langkah yang secara realistik dapat dilakukan untuk menggantikan segenap ketidak sepadanan tadi dengan situasi – situasi baru yang lebih sesuai dengan citra-citra (images) yang timbul dari Nurasi Nasional (National conscience)
Di lihat melalui kacamata pembangunan ketidaksepadanan yang terdapat pada suatu bangsa dapat dibagi menjadi dua jenis yakni ketidak sepadanan masa kini (contemporary Inadequacies) dan ketidak-sepadanan yang mungkin timbul di masa depan (futuristic indequacies). Adalah kewajiban kita sebagai bangsa untuk mengenali kedua jenis ketidak sepadanan ini sebaik mungkin. Kelengahan terhadap ketidak-sepadanan yang mungkin timbul di masa depan dapat dengan mudah sekali membuat suatu bangsa terperangkap dalam suatu persoalan secara mendadak, yang meangakibatkan  dunia pendidikan kita  mengalami krisis yang cukup serius. Krisis ini tidak saja disebabkan oleh anggaran pemerintah yang sangat rendah untuk membiayai kebutuhan vital dunia pendidikan kita, tetapi juga lemahnya tenaga ahli, dan visi serta politik pendidikan nasional yang tidak jelas. Dalam berbagai forum seminar muncul kritik; konsep pendidikan telah tereduksi menjadi pengajaran, dan pengajaran lalu menyempit menjadi kegiatan di kelas.
Tilaar yang dikutip Mulyasa (2002: 20) mengemukakan bahwa: Pendidikan nasional dewasa ini sedang dihadapkan pada empat krisis pokok, yang berkaitan dengan kuantitas, relevansi atau efisiensi eksternal, elitisme, dan manajemen. Lebih lanjut dikemukakan bahwa sedikitnya ada tujuh masalah pokok sistem pendidikan nasional: (1) menurunnya akhlak dan moral peserta didik, (2) pemerataan kesempatan belajar, (3) masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan, (4) status kelembagaan, (5) manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan nasional, dan (6) sumber daya yang belum profesional.
Dengan ungkapan lain, salah satu agenda penting pendidikan di masa depan adalah bagaimana mengatasi krisis kemanusiaan termasuk persoalan krisis makna hidup. Untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan perubahan pola fikir yang digunakan landasan pelaksanaan kurikulum. Pada masa lalu proses belajar menagajar terfokus pada guru, dan kurang terfokus pada siswa. Akibatnya kegiatan belajar mengajar lebih menekankan pada pengajaran daripada pembelajaran. Pembelajaran dapat diartikan sebagai perubahan dalam kemampuan, sikap, atau perilaku siswa yang relatif permanen sebagai akibat dari pengalaman atau pelatihan. Perubahan kemampuan yang hanya berportopolio sekejap dan kemudian kembali ke perilaku semula menunjukkan belum terjadi peristiwa pembelajaran, walaupun mungkin terjadi pengajaran. Tugas seorang guru adalah membuat agar proses pembelajaran pada siswa berportopolio secara efektif. Selain fokus siswa pola fikir pembelajaran perlu diubah dari sekedar memahami konsep dan prinsip keilmuan, siswa juga harus memiliki kemampuan untuk berbuat seusatu dengan menggunakan konsep dan prinsip keilmuan yang telah dikuasai. Model pembelajaran berbasis portofolio merupakan satu bentuk perubahan pola fikir tersebut, yaitu suatu inovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami teori secara mendalam melalui pengalaman belajar praktek empirik (Dasim Budimansyah, 2002 : 1). Model pembelajaran ini dapat menjadi program pendidikan yang mendorong kompetensi, tanggfung jawab, dan partisipasi peserta didik, belajar menilai dan mempengaruhi kebijakan umum (public policy). Sejalan dengan itu Meier (2002, 119) mengatakan belajar bukanlah aktivitas yang hanya ditonton, melainkan sangat membutuhkan peran serta semua pihak. Dari pendapat diatas bahwa belajar bukan hanya menyerap informasi secara pasif melainkan aktif menciptakan pengetahuan dan ketrampilan. Upaya belajar benar-benar bergantung pada pembelajar dan bukan merupakan tanggung jawab perancang atau fasilitatornya.
De Porter (2000, 3) mengatakan bahwa belajar dan mengajar adalah fenomena yang kompleks segala sesuatunya berarti, setiap kata, pikiran, tindakan dan asosiasi dan sampai sejauhmana menggubah lingkungan presentasi dan rancangan pengajaran, sejauh itu pula proses belajar berportopolio. Dengan demikian maka pembaharuan model pembelajaran sangat positif dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa. Model pembelajaran Portofolio  sangat tepat diterapkan bagi anak  SMA Negeri karena dengan potofolio anak belajar praktek dengan inovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami teori secara mendalam melalui pengalaman belajar praktek  empirik.
Praktek inilah yang mendorong program pendidikan yang berkompetensi, tanggung jawab dan partisipasi peserta didik, belajar menilai dan mempengaruhi kebijakan umum, memberanikan diri untuk berperan serta dalam kegiatan antar siswa, antar sekolah dan antar anggota masyarakat (Budiono, 2001 : 3). Sebagai suatu inovasi model pembelajaran berbasis portofolio dilandasi oleh beberapa landasan pemikiran antara lain : empat pilar pendidikan, kontruktivisme dan demokratic teaching. Model pembelajaran berbasis portofolio mengacu pada sejumlah prinsip dasar pembelajaran yaitu : prisip belajar siswa aktif, kelompok belajar kooperatif, pembelajaran partisipatorik dan mengajar yang reaktif. Dengan dasar tersebut maka seorang guru dituntut untuk memfasilitasi kegiatan belajar portofolio. Model pembelajaran ini guru dituntut reaktif sebab tidak jarang pada awal pelaksanaan model ini siswa ragu dan bahkan malu untuk mengemukakan pendapat. Hal ini terjadi karena secara empirik potensi dan kemampuan siswa berfariasi. Ada siswa yang sudah terbiasa mengemukakan pendapat, berdiskusi, bahkan berdebat, akan tetapi siswa yang lain banyak yang tidak demikian. Dalam keadaan seperti ini guru hendaknya memberikan dorongan dan motivasi.
Kemudian dalam hubungannya dengan kegiatan belajar, yang penting bagaimana menciptakan kondisi atau suatu proses yang mengarahkan siswa melakukan aktivitas belajar, bagaimana seorang guru melakukan usaha untuk menumbuhkan dan memberikan motivasi agar siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik (Sardiman, 2001 : 75), siswa yang memiliki motivasi belajar akan selalu ingin melakukan sesuatu secepat mungkin, sebaik mungkin dan memiliki keinginan untuk mencapai prestasi sesuai dengan stadart yang ditetapkan .Dalam pembelajaran guru tidak hanya menggunakan satu metode saja akan tetapi metode apa yang tepat dengan pokok bahasan hendaknya diterapkan. Guru dalam kegiatan belajar mengajar seringkali  menunjukkan dan meragakan ketrampilan fisik atau kegiatan yang lain. Setiap siswa belajar paling baik dalam lingkungan kaya pilihan yang sesuai dengan gaya belajar dan sarana indra. Pendidik hendaknya menyadari bahwa peserta didik memiliki berbagai cara belajar. beberapa peserta didik paling baik belajar dengan cara melihat orang lain melakukannya. Biasanya, mereka secara hati-hati mengurutkan presentasi informasi. Mereka lebih senang mencatat apa yang pengajar katakan. Selama pelajaran, mereka biasanya tenang dan jarang terganggu oleh suara. Peserta didik yang bersifat visual adalah kebalikan dari peserta didik bersifat auditory, yang seringkali tidak terganggu melihat apa yang pengajar lakukan, atau membuat catatan. Mereka betul-betul adaa pada kemampuannya untuk mendengar dan mengingat.
Selama pelajaran, mereka mungkin aktif bercakap-cakap dan dengan mudah terganggu oleh suara. Peserta didik yang bersifat kinesthetic adalah mengutamakan belajar dengan terlibat secara portopolio dalam aktifitas. Mereka cenderung pada gerak hati, dengan sedikit sabar. Selama pelajaran berportopolio, mereka mungkin gelisah kecuali jika mereka dapat bergerak dan melakukannya. Pendekatan mereka untuk belajar dapat terjadi secara acak dan random.
Berpijak dari kedua landasan diatas maka peneliti mengambil judul “peningkatan  hasil belajar Kewarganegaraan dengan model pembelajaran portopolio siswa kelas XI SMA Negeri "

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dirumuskan sebagai berikut :
Apakah ada peningkatan  hasil belajar Kewarganegaraan dengan model pembelajaran portopolio siswa kelas XI SMA Negeri ?”

C.    Tujuan Penelitian
Berpijak pada masalah yang akan diteliti, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :
Peningkatan  hasil belajar Kewarganegaraan dengan model pembelajaran portopolio siswa kelas XI SMA Negeri”.

D.    Hipotesis
Ha: Ada peningkatan  hasil belajar Kewarganegaraan dengan model pembelajaran portopolio siswa kelas XI SMA Negeri
Ho: Tidak ada peningkatan  hasil belajar Kewarganegaraan dengan model pembelajaran portopolio siswa kelas XI SMA Negeri

E.    Kegunaan Dan Manfaat Penelitian
1.    Kegunaan Penelitian
Mengungkapkan hasil belajar Kewarganegaraan siswa kelas XI SMA Negeri yang pembelajarannya menggunakan model portofolio.
2.    Manfaat Penelitian
Manfaat  penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
a. Guru-guru lebih memperhatikan faktor-faktor yang dapat meningkatkan prestasi belajar khususnya Kewarganegaraan.
b. Guru bidang studi Kewarganegaraan agar menerapkan pembelajaran model portofolio dalam meningkatkan kreativitas siswa untuk memecahkan masalah.
c. Peneliti lain, sebagai landasan pijakan dalam melakukan penelitian lanjutan dengan melibatkan lebih lengkap komponen model-model pembelajaran, khususnya pembelajaran model portofolio sehingga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode035.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar