Kamis, 12 Juni 2014

Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Inggris Kelompok Siswa yang Menggunakan Pembelajaran CTL Siswa Kelas XI SMA Negeri

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulisan. Pengertian berkomunikasi dimaksudkan adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan serta mengembangkan ilmu pengetahuan, tekonolgi, dan budaya dengan menggunakan bahasa tersebut, kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwawancara.
Dalam konteks pendidikan, bahasa inggris berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi dalam rangka mengakses informasi, dan dalam konteks sehari-hari, sebagai alat untuk membina hubungan interpersonal, bertukar informasi serta menikmati estetika bahasa dalam budaya inggris.
Mata pelajaran bahasa ingris memiliki tujuan sebagai berikut:
a.    mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa tersebut dalam bentuk lisan dan tulis. Kemampuan berkomunikasi meliputi mendengarkan (listening) berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing).
b.    Menumbuhkan kesadaran tentang hakikat dan pentingnya bahasa inggris sebagai salah satu bahasa asing untuk menjadai alat utama belajar.
c.    Mengembangkan pemahaman tentang saling ketekaitan antar bahasa dan budaya serta memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian peserta didik memiliki wawasan lintas budaya dan melibatkan diri dalam keragaman budaya
Ruang lingkup mata pelajaran bahasa inggris meliputi:
a.    Keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
b.    Sub-kompetensi yang meliputi kompetensi tindak bahasa, linguistik (kebahasaan), sosiokultural, strategi, dan kompetensi wacana.
c.    Pengembangan sikap yang positif terhadap bahasa inggris sebagai alat komunikasi. Berkomunikasi dalam bahasa inggris lisan maupun tulisan secara lancar dan akurat sesuai dengan konteks sosialnya.Berkomunikasi secara lisan dan tertulis dengan menggunakan ragam bahasa yang sesuai secara lancar dan akurat dalam wacana interaksional dan atrau menolong yang melibatkan wacan berbentuk, deskriptif, naratif, spoof/recount, prosedur, report, news item, anekdot, eksposisi, explanation, discussion, commentary, dan review dengan  variasi ungkapan makna interpersonal, ideasioanal dan tekstual sederhana.
Melihat pentingnya pelajaran bahasa Inggris di atas, belum menumbuhkembangkan minat belajar siswa, hal ini dipengaruhi oleh kebijakan yang kurang mendukung,  terbukti Secara eksternal rendahnya kualitas  lembaga pendidikan formal disebabkan oleh kebijakan sistem pendidikan yang sentralistik, sementara secara internal praktek pembelajaran masih menggunakan pendekatan-pendekatan yang tradisional dimana guru masih dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan sehingga hasil belajar belum ideal. Oleh karena itu, dalam membangun pendidikan masa depan, kita harus tetap berani merumuskan paradigma baru, formula baru, cara-cara baru, dan juga metode-metode baru (Suyanto, 2001 : 9). Fenomena terjadi dalam proses belajar mengajar Bahasa Inggris di Sekolah Dasar  sekarang ini semakin jauh dari perhatian dan pengamatan guru. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu adanya, pembelajaran Bahasa Inggris yang memperhatikan sejumlah variabel seperti : strategi pembelajaran pembelajaran yang mengacu pada belajar yang mengaitkan antara materi dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dari gambaran masalah-masalah yang diungkapkan diatas, terlihat pentingnya pembelajaran dunia nyata di sekolah.
Alternatif yang dimaksud yaitu sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman, keterampilan berfikir kritis dan kemampuan, mengaplikasikan teori dan konsep-konsep yang telah dipahami untuk memudahkan penerapan dalam dunia nyata.   Agaknya strategi / pendekatan-pendekatan belum cukup untuk menanggulangi perubahan pendidikan yang begitu komplek. Bagaimana cara guru agar siswa dapat belajar dengan bermakna yang sejalan dengan Degeng (2001 : 2) bahwa belajar adalah pemaknaan pengetahuan dan mengajar adalah menggali  makna, segala sesuatu bersifat temporer, berubah dan tidak menentu, itulah yang memberi makna terhadap realitas. Meier (2002 : 54) mengemukakan belajar adalah berkreasi, bukan menngkonsumsi. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang serap oleh pembelajaran, melainkan sesuatu yang diciptakan oleh pembelajar. Pembelajaran terjadi ketika seseorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Belajar berhafiah adalah menciptakan makna baru. Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar “baru” yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
Melalui landasan filosofi konstruktivisme, CTL dipromosikan menjadi alternative strategi belajar yang baru. Melalui strategi CTL, siswa diharapkan belajar melalui “mengalami” bukan “menghapal”. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak ‘mengalami’ apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengetahui’-nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan, itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita. Nurhadi (2002 : 1) mengemukakan bahwa pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL¬) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya denga situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran di harapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti.
Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya mengapainya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (pengetahuan dan keterampilan) datang dari menemukan sendiri, bukan dari ‘apa kata guru’. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan konstektual. Konstektual hanya sebuah strategi pembelajaran. seperti halnya strategi pembelajaran yang lain, konstektual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan konstektual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada. Dalam penelitian ini dibahas persoalan yang berkenaan dengan dengan pendekatan konstektual dan implikasi penerapannya. Sesuai dengan pendapat Nurhadi (2002: 3) bahwa anak belajar dari pengalaman sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Dari pendapat diatas jelas belajar tidak hanya sekedar menghafal, siswa harus mengkostruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subject matter). Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan. Sesuai dengan pendapat Jamaludin (2001 : 13) bahwa sekolah yang efektif meupakan respon terhadap harapan agar sekolah menjadi tempat dimana semua siswa dapat belajar dengan baik.
Dari uraian diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa pendekatan konstektual sangat cocok dalam pembelajaran karena pada hakekatnya pembelajaran konstektual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengait antara materi yang diajarkan dengan stuasi dunia nyata siswa dapat dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni : konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment). (Nurhadi, 2002 : 5). Melihat pembelajaran yang menekankan pada pemaknaan, Degeng (2001: 5) memberi penekanan bahwa tujuan pembelajaran menekankan pada penciptakan pemahaman, yang menuntut aktivitas, kreatifitas, produktifitas dalam konteks nyata. Dengan adanya latar belakang masalah diatas penulis ingin mengetahui peningkatan hasil belajar Bahasa Inggris kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran CTL siswa kelas XI SMA Negeri
    
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dirumuskan sebagai berikut: “Adakah peningkatan hasil belajar Bahasa Inggris kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran CTL siswa kelas XI SMA Negeri?”

C.    Tujuan Penelitian
Berpijak pada masalah yang akan diteliti, tujuan penelitian ini adalah: “Ingin mengetahui peningkatan hasil belajar Bahasa Inggris kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran CTL siswa kelas XI SMA Negeri "

D.    Manfaat Penelitian
1. Secara teoritik penelitian ini bermanfaat mengungkapkan pengaruh pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar.
2.  Secara praktis penelitian ini bermanfaat :
a. Memberikan sumbangan informasi kepada siswa dan guru agar lebih aktif dalam pembelajaran pendidikan Bahasa Inggris kelas XI di SMA Negeri
a.  Menjadi bahan kajian bagi guru pendidikan Bahasa Inggris dalam merencanakan dan menerapkan pembelajarann contekstual teaching and learning (CTL) pendidikan Bahasa Inggris kelas XI di SMA Negeri
b. Peneliti lain, sebagai landasan pijakan dalam melakukan penelitian lanjutan dengan melibatkan lebih lengkap komponen strategi-strategi pembelajaran, khususnya pembelajaran contekstual teaching and learning (CTL).

E.    Hipotesis Penelitian
Ha :  Ada peningkatan hasil belajar Bahasa Inggris kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran CTL siswa kelas XI SMA Negeri
Ha : Tidak ada peningkatan hasil belajar Bahasa Inggris kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran CTL siswa kelas XI SMA Negeri

silahkan downlod Skripsi KTI PTK dengan judul
https://sites.google.com/site/skripsiktiptk/Skripsi%20KTI%20PTK%20kode033.zip?attredirects=0&d=1
COPY LINK DIBAWAH INI MUNGKIN SUATU WAKTU ANDA MEMERLUKAN KEMBALI

Terima kasih sudah berkunjung di judulskripsi-pai.blogspot.com referensi contoh kti skripsi.
Simpan atau rekomendasikan ke teman-teman anda melalui email, blogspot, facebook, twitter, google +, atau berikan komentar anda disini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar